Liputan6.com, Jakarta - Lapangan Tembak Meteseh, Tembalang, Semarang, tampak berbeda dari hari biasanya. Prajurit TNI Angkatan Darat dan Angkatan Darat Australia terlihat memenuhi area tersebut, lengkap dengan senjata dan amunisinya.
Mereke tampak akrab berbincang satu sama lain dalam suasana yang cair dan penuh keakraban. Sebagian dari mereka juha terlihat sedang beristirahat. Namun, situasi tersebut berubah seketika.
Advertisement
Tak berselang lama, sekitar pukul 09.30 WIB, suasana mulai berubah tegang. Setiap prajurit bergegas dari duduknya, kemudian menyiapkan senjata maupun alat tempur lainnya. Teriakan komandan tak luput dari pendengaran. Teriakan itu seperti menginstruksikan anak buahnya untuk memastikan seluruh perlengkapan siap digunakan.
Para prajurit kemudian membentuk formasi dan berkoordinasi untuk memastikan setiap personel memahami peran masing-masing. Dengan perlengkapan tempur yang telah disiapkan, mereka mulai bergerak mengikuti skenario patroli yang telah ditentukan oleh komandan.
Patroli dimulai dengan langkah perlahan. Tak terburu-buru, para prajurit maju dengan hati-hati sambil mengamati situasi. Pengintaian kepada musuh dimulai dengan menerbangkan drone. Langkah ini menjadi salah satu cara untuk membaca titik lokasi musuh melalui udara.
Setelah posisi musuh diketahui, tim dibagi menjadi dua kelompok. Tim A bergerak menuju sisi kanan lokasi musuh, sementara Tim B mengambil posisi di sisi kiri. Meski terbagi, koordinasi keduanya tetap berjalan intensif.
Setelah kedua tim mengambil posisi masing-masing, suara tembakan mulai terdengar. Kedua tim mengarahkan tembakan ke posisi musuh dalam upaya melumpuhkannya.
Setiap tembakan dilepaskan dengan penuh kehati-hatian, sementara sejumlah gundukan tanah dimanfaatkan para prajurit sebagai perlindungan dari serangan musuh. Prajurit patroli perlahan mendekati wilayah musuh, namun tidak terburu-buru.
Para prajurit tampak sigap membaca situasi, melepaskan tembakan, hingga mengisi ulang amunisi saat diperlukan. Koordinasi antartim berlangsung baik saat mereka perlahan bergerak mendekati area musuh.
Dalam patroli tersebut, beberapa prajurit juga terlibat dalam perkelahian jarak dekat dengan tangan kosong. Sementara itu, sejumlah sasaran di area musuh disergap dan dilumpuhkan. Satu per satu, sasaran tersebut berhasil ditaklukkan oleh para prajurit.
Suara tembakan yang menggelegar perlahan mereda, berganti dengan sorakan kemenangan para prajurit. Suara tersebut berubah menjadi sorakan kemenangan.
Meski pelumpuhan musuh selesai, terdapat korban luka dari pasukan TNI AD dan Angkatan Darat Australia. Bantuan helikopter juga datang dengan cepat. Korban luka kemudian langsung dibawa oleh medis menggunakan helikopter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Patroli tersebut merupakan simulasi dalam Latihan Bersama Wirra Jaya Ausindo 2026. Latihan ini diikuti oleh 125 prajurit TNI AD dan 77 personel Angkatan Darat Australia.
Kegiatan yang berlangsung pada 18 September hingga 9 Oktober 2026 ini resmi ditutup pada Jumat (9/10/2026). Setelah menjalani latihan selama tiga minggu, para prajurit TNI AD dan Angkatan Darat Australia menampilkan simulasi patroli di hadapan awak media sebagai bagian dari rangkaian penutupan.
Latihan yang digelar setiap tahun ini bertujuan untuk mendorong kerja sama pertahanan, meningkatkan interoperabilitas taktis, membangun kepercayaan bersama, serta berbagi pengetahuan mengenai doktrin, peralatan, dan taktik tempur.
Kenangan yang Tidak Terlupakan
Atase Angkatan Darat Australia untuk Indonesia, Kolonel David Gandy, mengungkapkan bahwa dirinya merasa beruntung dapat berinteraksi secara aktif dengan TNI AD, termasuk adanya latihan bersama tersebut. Bagi David, ini merupakan kenangan yang tidak terlupakan.
David mengatakan, latihan gabungan ini juga menjadi bukti kedekatan hubungan antara TNI AD dengan Angkatan Darat Australia.
"Hari ini kita semua yang berdiri di sini melambangkan hubungan kuat kita," kata David di Lapangan Yonif Raider 400 Banteng Raiders saat penutupan acara, Semarang, Jumat (9/10/2026).
"Ketika saya mengenang pengalaman militer saya sendiri, saya beruntung dapat sering berinteraksi dengan TNI, baik di Australia maupun Indonesia, yang merupakan kenangan yang tak terlupakan," sambung dia.
Dia menilai, latihan pasukan kedua belah pihak turut mencerminkan nilai-nilai utama Angkatan Darat Australia, yaitu pengabdian, keberanian, kehormatan, ketulusan, dan keunggulan.
David berharap, program tersebut dapat memperkuat kedekatan Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan dalam pertahanan. Selain itu, ia berharap kedekatan keduanya dapat memberikan kesempatan yang lebih besar, khususnya meningkatan kemampuan prajurit dan profesionalitas.
"Besar harapan saya kepada semua peserta yang berkumpul di sini untuk dapat meningkatkan kemampuan secara pribadi dan profesional," kata David.
"Saya berharap kita semua melanjutkan rasa silaturahmi yang sudah dibangun dalam latihan bersama yang hebat ini," sambungnya.