Wall Street Perkasa Berkat Lonjakan Saham Teknologi

Wall street kompak menguat menjelang akhir pekan ini, salah satunya terdorong saham teknologi.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 Oktober 2026, 09:57 WIB
Ekspresi spesialis David Haubner (kanan) saat bekerja di New York Stock Exchange, Amerika Serikat (AP Photo/Richard Drew)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melesat pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Kenaikan wall street dipicu sektor teknologi ketika pelaku pasar berupaya bangkit dari pekan yang penuh volatilitas akibat tingginya imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan harga minyak. Selain itu, koreksi terjadi pada saham-saham yang terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Mengutip CNBC, Sabtu (10/10/2026), indeks Nasdaq naik 0,64% menjadi 27.366,17. Indeks S&P 500 juga bertambah 0,59% menjadi 7.811,54. Indeks Dow Jones melompat 423,31 poin atau 0,83% menjadi 51.654,95.

Saham-saham mencapai level tertinggi hari itu setelah Presiden Donald Trump menyatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah setuju untuk memasok bahan bakar diesel ke pasar AS maupun pasar global.

Harga minyak, yang sempat ditutup sedikit lebih tinggi dengan kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di kisaran hampir US$ 92 per barel dan minyak mentah Brent di atas US$ 104 sempat turun tipis setelah pengumuman yang disampaikan usai penutupan perdagangan resmi.

Saham SpaceX naik 1% setelah perusahaan antariksa dan satelit yang dipimpin Elon Musk tersebut mengumumkan kesepakatan untuk membeli portofolio spektrum berskala nasional. Sebaliknya, saham AT&T, Verizon, dan T-Mobile justru turun karena investor khawatir kesepakatan tersebut dapat meningkatkan persaingan.

Saham-saham teknologi lainnya juga menguat pada Jumat bersamaan dengan SpaceX. Saham sektor perangkat lunak memimpin kenaikan. Saham Palo Alto Networks naik 5%, sementara CrowdStrike dan Palantir Technologies masing-masing naik 4% dan 5%. Saham Microsoft naik 2%, dan Amazon yang juga merupakan anggota kelompok "Magnificent Seven" naik 3%.

Di luar sektor teknologi, sektor kesehatan menjadi sorotan positif lainnya, dengan saham-saham antara lain Merck dan Gilead Sciences masing-masing melonjak lebih dari 2%. Saham perusahaan vaksin seperti Moderna juga menguat berkat optimisme terkait laporan upaya pengembangan vaksin kanker oleh National Institutes of Health (NIH).

 

Saham Teknologi Sempat Tertekan

Pialang saham John Romolo bekerja di lantai Bursa Efek New York atau sering disebut Wall Street, Senin, 13 Oktober 2025. (Foto AP/Richard Drew)

Saham teknologi, khususnya yang terkait dengan AI, sempat tertekan pada Kamis setelah CNBC mengonfirmasi OpenAI memberi tahu para investor mengenai pencapaian pendapatan tahunan (annualized revenue) sebesar US$ 50 miliar atau Rp 894,77 triliun (asumsi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.900) pada akhir September.

Bulan lalu, sebesar US$ 68 miliar atau Rp 1.216 triliun banyak diberitakan, meskipun seseorang yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa angka itu juga mencakup pendapatan kotor dari mitra.

Indeks Nasdaq turun lebih dari 1%, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak pertengahan Agustus. Pada Kamis menandai hari kedua berturut-turut indeks yang didominasi saham teknologi ini mengalami penurunan, setelah sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada awal pekan.

"Aksi jual ini mencerminkan ketidakseimbangan posisi ekstrem yang menurut pandangan kami masih perlu disesuaikan lebih lanjut; itulah sebabnya keseluruhan sektor saham teknologi terkait AI kemungkinan besar tidak akan langsung mengalami pemulihan tajam berbentuk huruf V," tulis Adam Crisafulli dari Vital Knowledge.

 

Kinerja Wall Street Sepekan

Steven Kaplan (tengah) saat bekerja dengan sesama pialang di New York Stock Exchange, Amerika Serikat, Rabu (11/3/2020). Bursa saham Wall Street anjlok karena investor menunggu langkah agresif pemerintah AS atas kejatuhan ekonomi akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Richard Drew)

Ia menuturkan, terkait AI, masalah utamanya bukanlah perdebatan antara pendapatan kotor versus bersih dalam hal annualized recurring revenue (pendapatan berulang tahunan). Akan tetapi, pertama, fakta laboratorium pengembangan AI terdepan (frontier labs) yang berdiri sendiri semakin tidak menarik sebagai bisnis.

“Kedua, meningkatnya tanda-tanda bahwa pasar mulai menolak gelombang besar penerbitan utang dan ekuitas terkait AI yang terus membanjiri pasar," ia menambahkan.

Meskipun terjadi volatilitas akibat imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor panjang yang mencapai level tertinggi baru dalam 24 tahun pada pekan ini, ketiga indeks utama tersebut berada di jalur untuk mencatatkan kinerja positif selama periode lima hari perdagangan. Nasdaq mencatat kenaikan 0,6%, sementara Dow naik 0,9%. S&P 500 menguat sekitar 1,2%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya