Israel: Kolombia Akan Buka Kedutaan Besar di Yerusalem

Presiden Kolombia sebelumnya berjanji akan mempererat hubungan dengan Israel saat kampanye menjelang Pilpres.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 10 Oktober 2026, 11:04 WIB
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar. (Dok. Emmanuel Dunand/AP Photo)

Liputan6.com, Tel Aviv - Israel mengumumkan bahwa Kolombia akan membuka kedutaan besar di Yerusalem, kota yang sama-sama diklaim sebagai ibu kota oleh Israel dan Palestina. Kolombia menjadi negara terbaru yang memutuskan untuk menempatkan perwakilan diplomatiknya di kota tersebut, sementara sebagian besar negara lain masih berkedudukan di Tel Aviv.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar pada Kamis (8/10/2026) mengatakan bahwa Kedutaan Besar Kolombia akan diresmikan pekan depan. Ia menyampaikan pengumuman itu saat membahas semakin luasnya hubungan Israel dengan negara-negara Amerika Latin.

"Rabu depan, kami akan meresmikan ... Kedutaan Besar Kolombia," kata Saar dalam sebuah konferensi di Yerusalem seperti dilaporkan Al Jazeera.

Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Kolombia di Bogota mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa Menteri Luar Negeri Omar Bula Escobar akan berangkat ke Yerusalem pada Minggu (11/10), menjelang peresmian kedutaan tersebut.

Presiden Kolombia Abelardo De la Espriella, yang dilantik pada Agustus, sebelumnya berjanji akan mempererat hubungan dengan Israel dalam kampanye pemilihan presiden.

Setelah menjabat, De la Espriella memulihkan hubungan diplomatik Kolombia dengan Israel. Hubungan kedua negara sebelumnya diputus oleh Kolombia sebagai respons atas perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza.

Keputusan Kolombia menambah daftar negara yang memilih membuka kedutaan besar di Yerusalem. Meski jumlahnya masih sedikit, semakin banyak negara mengambil langkah tersebut.

Sejak 2018, Amerika Serikat (AS), Guatemala, Paraguay, Kosovo, Honduras, Papua Nugini, Fiji, Nauru, dan Somaliland telah membuka kedutaan besar di Yerusalem. Somaliland sendiri hanya diakui sebagai negara merdeka oleh Israel.

Sementara itu, negara-negara lain yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tetap menempatkan kedutaan besar mereka di Tel Aviv karena Yerusalem tidak diakui secara internasional sebagai ibu kota Israel.

"Kami akan bekerja keras karena ini adalah perjuangan diplomatik untuk menegakkan kebenaran. Dan kenyataannya, Yerusalem sejak dulu hanya menjadi ibu kota satu bangsa," kata Saar, yang menolak klaim Palestina atas kota tersebut.

Saar juga mengatakan bahwa Republik Demokratik Kongo akan membuka kedutaan besarnya di Yerusalem "dalam waktu dekat". Ia bahkan mengisyaratkan kemungkinan Brasil mengambil langkah serupa.

"Saya kira, bergantung pada hasil pemilu di Brasil, mereka mungkin akan mengambil langkah yang sama," ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan setelah senator sayap kanan Flavio Bolsonaro memenangi putaran pertama pemilihan presiden Brasil.

Sementara itu, di Kolombia, para demonstran turun ke jalan di Bogota pada Rabu untuk memprotes kebijakan pemerintahan baru yang berhaluan kanan jauh terhadap Israel, termasuk keputusan membuka kedutaan besar di Yerusalem.

"Ketika hubungan diplomatik dengan Israel diputus, pesan yang disampaikan adalah bahwa kami tidak akan menjadi negara yang ikut terlibat dalam kekejaman mereka," kata Nicolas Isaza, salah seorang peserta demonstrasi, kepada Al Jazeera.

"Namun, sekarang pemerintah kami tidak lagi menunjukkan sikap tegas terhadap kekejaman yang dilakukan di Palestina," tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya