Permintaan Listrik Indonesia Diproyeksi Tembus 1.813 TWh pada 2060

Permintaan listrik Indonesia diproyeksi mencapai 1.813 TWh pada 2060. PLN menyiapkan pengembangan energi surya 100 GWp.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 09 Oktober 2026, 13:45 WIB
Gelaran Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. (Dok Tenggara)

Liputan6.com, Jakarta - Permintaan listrik Indonesia diproyeksikan melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 539 terawatt-jam (TWh) pada 2025 menjadi 1.813 TWh pada 2060. Peningkatan ini didorong elektrifikasi rumah tangga, kendaraan listrik, serta pertumbuhan industri dan pusat data.

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PT PLN (Persero) menyiapkan pengembangan energi surya berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) secara bertahap.

EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar menjelaskan, PLN terus memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat.

"Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap, yang pada fase pertama difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” ujar dia, dikutip Jumat (9/10/2026).

Penelitian Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia menunjukkan, sekitar 28% permintaan listrik pada masa mendatang diperkirakan berasal dari rumah tangga, sedangkan kendaraan listrik menyumbang sekitar 11%.

Peningkatan kebutuhan listrik juga dinilai dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8%, sekaligus mempercepat dekarbonisasi dan pencapaian net zero emissions.

 

Konversi Kompor LPG Berpotensi Tambah Permintaan Listrik

Gelaran Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. (Dok Tenggara)

Penelitian Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia mengidentifikasi konversi kompor LPG ke kompor induksi sebagai salah satu pendorong utama permintaan listrik rumah tangga.

Jika diterapkan secara penuh, program tersebut diperkirakan menciptakan tambahan kebutuhan listrik sebesar 27,62 gigawatt (GW) hingga 53,43 GW, bergantung pada efisiensi kompor induksi yang digunakan. Kebutuhan baru ini juga berpotensi menopang pengembangan energi surya 100 GWp.

Saat ini, LPG menyumbang sekitar 41,46% dari total konsumsi energi rumah tangga. Sementara itu, sekitar 77,6% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.

Peralihan ke kompor induksi berpotensi mengurangi ketergantungan impor dan menghemat devisa. Penghematan subsidi juga dimungkinkan apabila pemerintah menggunakan kompor induksi dengan efisiensi tertinggi.

Elektrifikasi transportasi turut menawarkan manfaat serupa. Setiap tambahan 1 juta kendaraan listrik diperkirakan dapat menghemat konsumsi bensin sekitar 1.250 kiloliter per tahun. Pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri juga berpotensi menciptakan hingga 500.000 lapangan kerja baru.

 

Hilirisasi Nikel dan Pusat Data Ikut Dongkrak Kebutuhan Listrik

Selain rumah tangga dan transportasi, industrialisasi menjadi faktor lain yang mendorong peningkatan permintaan listrik. Hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik captive sekitar 13,6 GW berdasarkan RUPTL 2025–2034.

Sementara itu, kebutuhan listrik pusat data diproyeksikan meningkat menjadi 1,7 gigawatt (GW) pada pertengahan 2027. Pertumbuhan ini sejalan dengan ekspansi layanan digital dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur teknologi.

Berbagai tantangan tersebut dibahas dalam rangkaian Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026. Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri, menyoroti pentingnya memastikan pertumbuhan permintaan listrik dapat dipenuhi dengan energi yang lebih hijau.

Direktur Konservasi Energi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Gigih Udi Atmo, juga menekankan pentingnya efisiensi energi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Dari sisi pelaku usaha, CEO Climate Group Helen Clarkson menyebut sekitar 35% anggota RE100 beroperasi di Indonesia. Adapun Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, mengatakan sekitar 30% anggota organisasinya menargetkan net zero emissions pada 2030.

Ketersediaan energi bersih pun menjadi semakin penting untuk mendukung pertumbuhan industri sekaligus mencapai target dekarbonisasi Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya