Liputan6.com, Madrid - Maria del Carmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun yang penggusurannya memicu gelombang demonstrasi menentang krisis perumahan di seluruh Spanyol, meninggal dunia pada Rabu (7/10/2026).
Perempuan yang dikenal luas dengan panggilan Maricarmen itu meninggal di sebuah rumah sakit di Madrid, dua pekan setelah digusur dari apartemen yang telah ditempatinya selama lebih dari 70 tahun pada 23 September.
Advertisement
Apartemen yang ditempati pensiunan tersebut telah dibeli oleh sebuah perusahaan investasi yang kemudian berupaya menaikkan uang sewanya sebesar 230 persen. Kasus Maricarmen dengan cepat menjadi simbol kesulitan masyarakat mempertahankan tempat tinggal akibat melonjaknya harga properti di Spanyol.
Penggusuran tersebut menjadi sorotan media di seluruh Spanyol setelah polisi menembakkan gas air mata saat menjalankan perintah pengosongan apartemen.
Foto-foto yang memperlihatkan Maricarmen dibawa paksa keluar dari rumahnya menggunakan tandu, dikelilingi demonstran dan polisi, memicu kemarahan masyarakat.
Beberapa jam setelah penggusuran, sekitar 10.000 orang turun ke jalan di Madrid sambil membawa poster bertuliskan antara lain "Memalukan" dan "Kita Semua adalah Maricarmen".
Gelombang demonstrasi juga meluas ke berbagai wilayah Spanyol, dari utara hingga selatan. Warga berkumpul di alun-alun kota untuk memprotes semakin beratnya beban biaya tempat tinggal.
Dalam satu dekade terakhir, harga sewa di Spanyol melonjak 80 persen, sementara harga rumah naik 63 persen.
Dari rumah sakit tempat ia dirawat akibat kelelahan parah, Maricarmen menyampaikan dukungan kepada para demonstran.
"Saya ingin berada di sana bersama kalian semua," katanya dalam sebuah video yang direkam dari tempat tidur rumah sakit.
"Namun, keadaan saya tidak memungkinkan. Karena itu, dari sini saya meminta kalian semua untuk tetap berani, terus berjuang, dan mempertahankan apa yang menjadi hak kalian."
Ketika para demonstran mulai mendirikan tenda-tenda di berbagai wilayah Spanyol, perusahaan investasi yang membeli apartemen Maricarmen menyatakan bahwa perempuan itu boleh kembali menempati rumahnya.
Namun, tawaran tersebut tidak mampu meredakan kemarahan masyarakat yang telanjur meluas akibat penggusuran itu.
Penggusuran Maricarmen Berujung Gejolak Politik
Gelombang kemarahan publik tersebut turut mendorong Perdana Menteri (PM) Spanyol Pedro Sanchez mengumumkan pemilihan umum lebih awal pada Senin (5/10). Keputusan itu diambil setelah partai-partai sayap kanan dan kanan jauh menolak dua dekret darurat yang diajukan pemerintah untuk mengatasi krisis perumahan.
Serikat penyewa hunian di Madrid menyatakan bahwa penyelesaian tersebut datang terlambat bagi Maricarmen.
"Situasi ini sebenarnya bisa dicegah sepenuhnya, setelah penderitaan panjang yang harus ia lalui," kata serikat tersebut dalam pernyataan yang mengumumkan kematian Maricarmen di rumah sakit.
Menurut laporan, Maricarmen meninggal dunia hanya beberapa jam sebelum dijadwalkan menandatangani kontrak sewa baru dengan perusahaan investasi yang sebelumnya menggusurnya.
"Rangkaian peristiwa yang dipicu oleh ketidakadilan dalam penggusurannya tidak diragukan lagi menjadi titik balik dalam sejarah negara ini: demonstrasi besar-besaran, pendirian tenda-tenda di alun-alun, pemilihan umum lebih awal, hingga seruan mogok kerja nasional," lanjut pernyataan itu.
"Masalah perumahan kini menjadi pusat perhatian, tetapi harga yang harus dibayar untuk sampai pada titik ini terlalu mahal."
PM Sanchez turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan sahabat Maricarmen.
"Saya juga menyampaikan simpati kepada semua orang yang hari ini turut merasakan kehilangan ini seolah kehilangan orang terdekat mereka sendiri," tulis Sanchez di media sosial.
"Beristirahatlah dengan tenang."
Menteri Kesehatan Spanyol Monica García mengatakan penderitaan Maricarmen telah "membangkitkan kesadaran masyarakat di seluruh Spanyol dan menyulut api perjuangan yang tidak dapat dipadamkan".
Menurut Garcia, "martabat dan keberanian" Maricarmen telah menjadi teladan bagi masyarakat.
Anggota Parlemen Eropa dari partai Podemos sekaligus mantan Menteri Kesetaraan Spanyol Irene Montero menyampaikan kecaman yang lebih keras.
"Ini bukan kematian, ini pembunuhan," tulis Montero di media sosial.
"Marah sekali rasanya. Terima kasih telah berjuang, Maricarmen."
Pemimpin Partai Rakyat (PP) yang berhaluan konservatif, Alberto Nunez Feijoo, juga menyampaikan belasungkawa. Partainya termasuk yang menolak langkah darurat pemerintah untuk mengatasi krisis perumahan pada pekan sebelumnya.
"Jangan ada kampanye, jangan ada partai politik, jangan ada kepentingan kelompok, jangan lagi membangun tembok pemisah," tulisnya di media sosial.
"Ketika seseorang meninggal dunia, yang seharusnya dikedepankan hanyalah rasa hormat."
21 Langkah untuk Atasi Krisis Perumahan
Maricarmen meninggal dunia sehari setelah kabinet Sanchez menyetujui dua dekret baru untuk mengatasi krisis perumahan pada Selasa (6/10). Kedua aturan itu disusun untuk "mempertahankan semangat" kebijakan sebelumnya yang ditolak parlemen.
Penolakan tersebut datang dari PP, partai kanan jauh Vox, serta Junts, partai berhaluan kanan yang mendukung kemerdekaan Catalonia.
Kebijakan baru itu mencakup 21 langkah, antara lain mempermudah masyarakat menyewa atau membeli rumah baru, memperpanjang perlindungan dari penggusuran bagi warga rentan, serta mengatur penyewaan kamar.
Pemerintah juga mengusulkan pajak baru atas penyewaan properti musiman, melarang pembelian properti untuk tujuan spekulasi atau mencari keuntungan dari kenaikan harga, serta memberikan keringanan pajak kepada pemilik properti dan penyewa yang membayar tepat waktu.
Namun, karena majelis rendah dan majelis tinggi parlemen telah dibubarkan menyusul keputusan menggelar pemilu lebih awal, kedua dekret tersebut akan diputuskan melalui pemungutan suara di Dewan Tetap Kongres, sebuah badan khusus yang tetap menjalankan fungsi parlemen ketika parlemen tidak bersidang.
Dewan itu beranggotakan 69 orang yang mewakili berbagai kelompok politik. Jumlah perwakilan masing-masing kelompok ditentukan secara proporsional berdasarkan pembagian kursi di majelis rendah.
Dengan komposisi tersebut, Sanchez diperkirakan memiliki dukungan yang cukup untuk meloloskan setidaknya satu dari dua dekret itu.
Sementara itu, di pusat kota Madrid, tempat para demonstran mendirikan perkemahan besar sebagai pusat aksi protes, kabar kematian Maricarmen disambut dengan aksi mengheningkan cipta.
Tak lama kemudian, ratusan orang berjalan dari lokasi perkemahan menuju gedung parlemen Spanyol sambil meneriakkan slogan:
"Maricarmen tetap hidup, perjuangan terus berlanjut."