Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis setelah Wall Street ditutup di zona merah dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Mengutip CNBC, Kamis (8/10/2026), di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,4%, sedangkan indeks Topix melemah 0,8%. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,35% dan Kosdaq yang berkapitalisasi kecil merosot 0,9%.
Advertisement
Sebelumnya, kontrak berjangka saham AS bergerak tipis pada Rabu malam. Dow Jones futures naik 7 poin atau 0,01%, S&P 500 futures menguat 0,04%, sedangkan Nasdaq-100 futures naik 0,1%.
Wall Street sebelumnya ditutup melemah. S&P 500 turun 0,2% setelah mencetak rekor sehari sebelumnya. Dow Jones anjlok lebih dari 340 poin atau 0,7%, sementara Nasdaq Composite turun 0,2%.
Tekanan pasar terjadi ketika imbal hasil US Treasury 10 tahun mencapai 5,365%, level tertinggi sejak April 2002.
Sinyal Hawkish The Fed Tekan Bursa
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun juga naik menjadi 5,732%, level tertinggi sejak Mei 2002. Kenaikan imbal hasil tersebut membuat minat investor terhadap saham menurun dalam beberapa pekan terakhir.
Sektor industri menjadi salah satu yang paling terdampak dan tercatat sebagai sektor dengan kinerja terburuk sepanjang pekan berjalan.
Tekanan terhadap pasar Asia semakin kuat setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) menunjukkan mayoritas pejabat meyakini kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir tahun.
Inflasi AS dinilai masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Meski demikian, risalah tersebut tidak memberikan petunjuk kapan kenaikan suku bunga berikutnya akan dilakukan. Para pejabat menegaskan keputusan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi.
Pasar tetap memiliki pandangan optimistis. Investor berharap musim laporan keuangan dapat memberikan dorongan baru bagi pasar saham.
FactSet memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 pada kuartal III mencapai sekitar 30%.
Investor Pantau Laporan Keuangan
Jika terealisasi, pertumbuhan laba tersebut akan menjadi kuartal ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan laba di atas 25%.
“Jika laba tetap kuat, dan kemungkinan besar memang demikian, jika ekspektasi terpenuhi dan/atau lebih tinggi, hal itu akan menopang reli ini—meskipun suku bunga lebih tinggi,” kata Senior Wealth Advisor Payne Capital Management Courtney Garcia kepada CNBC dalam program Closing Bell.
“Hal itu tidak akan menggagalkan pasar,” lanjutnya.
Di kawasan Asia, investor juga mencermati pergerakan pasar setelah sinyal kebijakan The Fed tersebut.
Kontrak berjangka Nikkei 225 di Chicago dan Osaka masing-masing berada di level 69.965 dan 69.790, dibandingkan penutupan sebelumnya di 70.035,71.
Sementara itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 23.962, lebih rendah dari penutupan sebelumnya di 24.130,5.
Investor pada Kamis juga akan mencermati laporan keuangan PepsiCo sebelum pembukaan pasar AS serta data klaim pengangguran mingguan AS.