Kisah Anak-Anak Flores yang Tetap Semangat Belajar di Tengah Keterbatasan

Tujuh hari di Flores, NYATA Foundation memperlihatkan cerita berbeda di tiap sekolah, dari perjalanan menuju kelas hingga upaya membuka ruang bagi bakat anak.

oleh Nurri Indah KholillahDiterbitkan 09 Oktober 2026, 08:00 WIB
Anak-anak di Flores tetap antusias belajar di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan, di Jakarta, 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Nurri Indah)

Liputan6.com, Jakarta - Pagi di Flores membawa anak-anak menuju ruang-ruang kelas dengan cerita yang tidak selalu sama. Sebagian harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke sekolah.

Kondisi geografis dan fasilitas pendidikan yang belum merata menjadi bagian dari keseharian mereka. Ruang belajar sederhana tetap menjadi tempat untuk membaca, berhitung, bertanya, dan mengenal hal-hal baru.

Kunjungan NYATA Foundation ke sejumlah sekolah di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperlihatkan sisi lain dari kondisi tersebut. Anak-anak tidak hanya datang untuk mengikuti pelajaran.

Mereka juga menunjukkan rasa ingin tahu, mencoba berbagai aktivitas, serta berani memperlihatkan kemampuan ketika memperoleh kesempatan untuk melakukannya. Semangat itu terlihat di tengah kondisi pascagempa dan sarana pendidikan yang masih terbatas.

"Yang membekas itu bukan keterbatasannya, tapi semangat dan rasa ingin tahu mereka yang begitu besar. Mereka tetap belajar, tetap mencoba, tetap berkarya. Saat kami datang, mereka benar-benar senang dan sangat antusias menunjukkan kemampuan mereka dengan percaya diri," kata Co Founder - CMO NYATA Foundation, Pamela Berliana, saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.

Pengalaman tersebut membuat perhatian NYATA Foundation tidak berhenti pada kondisi fisik sekolah. Kebutuhan pendidikan dilihat dari keseharian anak, guru, serta lingkungan yang mendukung proses belajar.

Pamela menyebut pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas. Cerita berbeda muncul ketika perjalanan dilanjutkan dari satu sekolah ke sekolah lainnya.

Selama tujuh hari, NYATA Foundation mengunjungi 11 sekolah partner dan melakukan survei terhadap lima calon sekolah partner. Tim berbicara dengan guru, orangtua, serta anak-anak sambil mengikuti proses belajar-mengajar yang berlangsung di masing-masing sekolah.

 

Adanya Kebutuhan Berbeda

Kondisi fasilitas pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang dilihat langsung di sejumlah sekolah Flores, di Jakarta, 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Nurri Indah)

"Kami benar-benar mengunjungi satu per satu sekolah partner kami untuk mendengar dan melihat kebutuhan mereka," ujar Co Founder - CEO NYATA Foundation, Nicole Oeij Teng.

Pengamatan langsung memperlihatkan kebutuhan yang berbeda di setiap sekolah. Sebagian memerlukan dukungan untuk melengkapi sarana pendidikan.

Sekolah lainnya menghadapi tantangan dalam akses, sementara ketersediaan guru dan proses belajar-mengajar juga menjadi perhatian selama kunjungan. Kondisi tersebut juga dilihat langsung oleh Irjen Jayadi, pelari lintas alam dan ultramaraton, yang mengikuti perjalanan ke Flores.

Perjalanan selama sepekan memberinya pengalaman yang berbeda dari sejumlah kegiatan endurance yang pernah dijalani. Medan yang dilalui bukan satu-satunya tantangan yang ia rasakan. Kehidupan masyarakat dengan berbagai keterbatasan ikut memberi kesan kuat selama berada di lapangan.

 

Pendampingan Guru hingga Pengembangan Potensi Anak

Pendampingan guru turut dilakukan di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan, di Jakarta, 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Nurri Indah)

Perhatian kemudian diarahkan pada kemampuan yang dimiliki anak-anak. Guru memiliki posisi penting karena berinteraksi dengan siswa dalam keseharian dan dapat melihat minat yang mulai muncul.

Pendampingan guru menjadi salah satu gagasan yang disiapkan agar bakat tersebut memperoleh ruang untuk berkembang. "Lebih ke mungkin kita akan memberikan pendampingan guru dan program supaya bakat anak-anak ini bisa lebih keluar," ungkap Nicole.

"Jadi ada guru, ada kegiatan belajar mengajar, tapi juga ada kesempatan untuk mereka bisa coba dan mengembangkan potensi." Olahraga menjadi salah satu bidang yang turut dipertimbangkan.

Sejumlah anak dinilai memiliki potensi yang dapat diasah melalui program pendampingan. Kolaborasi dengan Irjen membuka pembahasan mengenai kegiatan olahraga yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas fisik.

"Kami juga mau menghadirkan pendampingan program olahraga, karena olahraga sendiri kan banyak manfaatnya, dari sportivitas, teamwork, dan lain-lain," kata Nicole.

 

One Child One Journey

Dukungan terhadap fasilitas pendidikan menjadi bagian dari pendampingan anak di Flores, di Jakarta, 7 Oktober 2026. (Liputan6.com/Nurri Indah)

Rancangan program tersebut masih berada dalam tahap pengembangan. Bentuk kegiatan dan pembagian peran dalam kolaborasi bersama Irjen masih dibahas oleh pihak-pihak yang terlibat.

Pendekatan berbeda disiapkan melalui konsep one child one journey. Skema itu mendorong Kakak Asuh untuk mendampingi satu anak dalam perjalanan pendidikan yang lebih panjang.

Pendampingan dirancang sejak jenjang taman kanak-kanak dan diteruskan hingga sekolah menengah. "Mendampingi mereka dari TK sampai terus ke jenjang yang berkelanjutan. Kita penginnya TK, SD, SMP, SMA sudah membuahkan hasil," ujar Nicole.

Kolaborasi juga dapat melibatkan perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Bentuk dukungan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan yang ditemukan di lapangan, serta tujuan masing-masing mitra.

Kegiatan bersama dan dukungan terhadap kebutuhan sekolah menjadi beberapa bentuk kerja sama yang masih terbuka untuk dikembangkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya