Liputan6.com, Singapura - Para ilmuwan di Universitas Nasional Singapura (NUS) telah mengembangkan jam atom yang sangat akurat sehingga dibutuhkan waktu lebih dari 260 miliar tahun untuk mengalami selisih satu detik saja.
Dikutip dari VN Express, Rabu (7/10/2026), menurut temuan yang terbit dalam jurnal Nature pada 23 September, jam tersebut menggunakan satu atom lutetium bermuatan, sebuah unsur tanah langka, untuk mengukur waktu dengan akurasi yang memecahkan rekor.
Advertisement
Para peneliti mengukur frekuensinya hingga 19 angka desimal, sehingga mencapai tingkat ketidakpastian paling rendah yang pernah dilaporkan untuk jam atom optik. Perangkat ini sekitar empat kali lebih akurat daripada pemegang rekor sebelumnya, yang berdasarkan pada ion kalsium.
"Saya yakin bahwa apa yang kami miliki sekarang adalah jam paling akurat di seluruh dunia," tutur fisikawan dari NUS Murray Barrett yang memimpin penelitian tersebut.
Jam atom mengukur waktu menggunakan frekuensi tetap yang dihasilkan saat elektron dalam atom berpindah antar tingkat energi. Menurut SciTech Daily, sebuah laser disesuaikan dengan frekuensi tersebut, di mana osilasi cepatnya berfungsi sebagai "detak" jam bersebut.
Satuan detik telah didefinisikan menggunakan atom cesium sejak tahun 1967, dengan jam atom berperan dalam mendukung sistem GPS dan menyelaraskan jaringan komunikasi dan transportasi.
Lutetium memiliki keunggulan dibandingkan unsur-unsur yang digunakan dalam jam atom lainnya, karena unsur ini kurang terpengaruh oleh perubahan suhu dan medan magnet, sehingga membantu jam tersebut tetap sangat akurat.
Peneliti Ibaratkan Ukuran Waktu dan Maraton
Barrett mengibaratkan pengukuran waktu yang presisi dengan lari ultramaraton, dengan unsur yang menjadi inti jam tersebut sebagai pelarinya.
"Tugas kami adalah memastikan pelari tersebut bisa menempuh jarak yang jauh. Ternyata, lutetium adalah atlet ketahanan yang alami," tuturnya kepada Live Science.
Untuk memastikan keakuratannya, para peneliti membuat dua jam lutetium dan membandingkannya selama 200 jam, sehingga menghasilkan perbandingan jam atom paling akurat yang pernah dilaporkan.
Jam-jam tersebut sangat sensitif sehingga bisa mendeteksi perbedaan sekecil apapun dalam laju waktu antara dua benda yang berjarak hanya lima milimeter akibat perubahan gravitasi.
Ketepatan seperti itu bisa membantu para ilmuwan untuk mengukur perubahan gravitasi Bumi dan pada akhirnya mendefinisikan ulang satuan detik. Para ahli pencatatan waktu internasional sedang mempertimbangkan untuk mengganti standar berbasis cesium yang digunakan saat ini dengan jam atom optik yang lebih akurat pada atau setelah tahun 2030.
Tim Singapura tersebut kini berencana untuk membuat versi jam tersebut yang lebih kecil dan portabel.