Liputan6.com, Jakarta - Peluncuran Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO) Anthropic akan menjadi penguji minat investor setelah CEO Anthropic Dario Amodei khawatir akan keamanan AI. Beberapa waktu lalu, CEO Anthropic menyerukan perlambatan di seluruh sektor industri akibat meningkatnya kekhawatiran terkait keselamatan.
Melansir CNN, Selasa (6/202/2026), IPO-nya bisa diluncurkan pada November. IPO Anthropic sudah sangat dinantikan setelah perusahaan tersebut mengumumkan pada Juni secara rahasia mengajukan permohonan IPO.
Advertisement
Anthropic bisa meraup hingga US$ 100 miliar, atau Rp 1.790 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.908) dalam IPO yang bisa memberi nilai perusahaan tersebut hingga US$ 2 triliun, atau Rp 35.815 triliun, menurut Wall Street Journal. Jumlah sebesar itu akan menempatkan Anthropic di 10 perusahaan termahal di dunia.
IPO Anthropic akan menandai tonggak penting dalam booming AI yang telah melanda pasar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perjalanan menuju IPO tersebut berjalan tidak mulus dan sempat mengalami penundaan.
Rencana IPO Anthropic telah dipenuhi pertanyaan mengenai regulasi AI dan risiko keamanan. Mantan karyawan, serta CEO Dario Amodei, telah menimbulkan kekhawatiran beberapa minggu ini.
Dia menyerukan agar industri memperlambat pengembangan AI untuk melakukan manajemen risiko lebih baik. Pemimpin industri teknologi layaknya Amodei telah menandatangani kesepakatan di Gedung Putih pekan lalu untuk “mengatur mandiri” pengembangan AI.
Gejolak Geopolitik hingga Suku Bunga Pengaruhi Pasar Saham
Sementara, prospek untuk semua potensi IPO telah menjadi rumit beberapa bulan ini.
Lantaran, pasar telah terombang-ambing seiring suku bunga yang semakin tinggi. Imbal hasil obligasi telah melonjak dalam beberapa pekan terakhir, sehingga mendorong kenaikan biaya pinjaman, seiring para pelaku pasar menyesuaikan diri dengan guncangan energi akibat perang di Iran dan kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
Sehingga, nyali beberapa perusahaan menjadi ciut. Contohnya, Oura, perusahaan teknologi yang membuat cincin pelacak kesehatan, mengatakan mereka akan melakukan penawaran publik pada kuartal akhir 2026, namun kemudian mengumumkan mereka akan mengundurnya karena ketidakpastian pasar.
Lalu, Holtec Nuclear, sebuah perusahaan energi, juga menahan rencana IPO mereka, mengatakan bahwa sentimen yang buruk memengaruhi pasar saham. Selain itu, OpenAI juga mengatakan akan mengundur IPO-nya hingga tahun depan karena kekhawatiran keamananan AI.
Semua faktor seperti suku bunga, konflik geopolitik, hingga keadaan ekonomi secara umum menjadi penyebab ketidakpastian ini.
"Ada suku bunga yang naik. Ada perang dengan Iran. Ada kondisi yang agak goyah setelah AI. Inilah yang menciptakan ketidakpastian,” tutur kepala riset investasi berbasis AI di Citi, Heath Terry, kepada CNN.
Dia berpendapat, IPO harus dilakukan saat pasar sedang stabil dan sentimen yang positif.
“IPO butuh pasar yang stabil, butuh sentimen investor yang positif, dan situasi ekonomi secara umum yang tidak stabil seperti itu, yang membuatnya jauh lebih sulit,” ujar Terry mengenai IPO yang tidak terikat pada perusahaan yang spesifik.
IPO Anthropic Diprediksi Lampaui SpaceX
Namun, Anthropic tetap akan melakukan IPO sambil menghimpun modal. Jika Anthropic berhasil mendapat US$ 100 miliar atau Rp 1.790 triliun dan meraih nilai perusahaan sebesar US$ 2 triliun (Rp 35.815 triliun), ini akan menyalip IPO terbesar oleh SpaceX.
Kala itu, SpaceX meraup sebesar US$ 86 miliar atau Rp 1.540 triliun dalam IPO-nya, dan memiliki valuasi sebesar US$ 1,77 triliun (Rp 31.696 triliun), yang sebagian karena visi mengenai perannya sendiri dalam bidang AI.
IPO SpaceX yang berskala raksasa itu jauh mengungguli penawaran umum sebelumnya, dengan Saudi Aramco berada di posisi kedua jauh di belakang, setelah perusahaan tersebut mengumpulkan sekitar US$ 29 miliar (Rp 519,3 triliun) pada tahun 2019.
Profesor emeritus di Universitas Florida, Jay Ritter, berpendapat sangat memungkinkan posisi teratas SpaceX akan tergeser dalam sekitar satu bulan.
“SpaceX benar-benar sebuah kasus yang luar biasa, IPO terbesar sepanjang sejarah dunia, jauh melampaui yang lain. Sangat mungkin mereka akan berada di peringkat kedua (kira-kira) sebulan dari sekarang,” ungkapnya.
Apakah Ini Waktu yang Tepat untuk Anthropic Lakukan IPO?
Pengawasan risiko AI semakin kuat beberapa minggu ini setelah insiden agen AI yang memberontak dan mencoba masuk ke sistem lain.
Minggu lalu, Reuters mendapat salinan prospektus IPO Anthropic yang belum dirilis, dan melaporkan terdapat peringatan bahwa model AI perusahaan tersebut bisa menyebabkan “risiko luar biasa atau eksistensial terhadap kemanusiaan.”
Meskipun pemimpin industri teknologi sudah setuju melakukan pengawasan mandiri, Anthropic masih diperkirakan akan bersaing dengan perusahaan seperti OpenAI. Kekhawatiran keamanan akan tetap ada dengan atau tanpa IPO, kata ahli kepada CNN.
Kenaikan suku bunga juga dapat menekan valuasi saham dan membuat pasar IPO menjadi lesu. Namun, menunda IPO tidak menjamin suku bunga akan turun, dan bagi perusahaan yang sangat membutuhkan dana seperti Anthropic, melakukan IPO tetap bisa menjadi langkah yang masuk akal, kata para analis dan Ritter.
Menunda IPO juga memiliki risiko kondisi pasar yang semakin memburuk atau munculnya kendala lain, sehingga akan lebih sulit untuk kembali mempersiapkan IPO. Di saat yang sama, Nasdaq Composite sedang mendekati level tertinggi perdagangannya sepanjang masa, yang merupakan skenario positif bagi penawaran umum perdana (IPO) di sektor teknologi.
“Anda tidak bisa memberi waktu tertentu dalam melakukan IPO untuk menghilangkan segala kemungkinan di masa depan yang berkaitan dengan perusahaan maupun produk Anda,” ujar profesor hukum bisnis di Fakultas Hukum Carey, Universitas Pennsylvania, Jill E. Fisch, kepada CNN.
Minat untuk Anthropic Dinilai Masih Tinggi
Anthropic dan OpenAI sedang dalam perlombaan sengit untuk memproduksi model AI terkemuka, dan dua perusahaan tersebut menggelontorkan dana fantastis untuk mendukung riset dan pengembangan. Anthropic kehilangan dana sebesar US$ 42 miliar atau Rp 752,1 triliun pada 2025 dan berencana mengucurkan dana lebih dari US$ 500 miliar atau Rp 8.953 triliun untuk komputasi dan infrastruktur dalam beberapa tahun mendatang, menurut Reuters.
Namun, menurut laporan Financial Times, perusahaan tersebut dilaporkan telah menyampaikan kepada investor bahwa mereka akan mencetak laba untuk kuartal kedua berturut-turut tahun ini. Anthropic memperoleh pendapatannya dengan menyewakan model canggih dari bot Claude miliknya kepada perusahaan-perusahaan besar.
Analis teknologi di CFRA Research, Angelo Zino, mengatakan meskipun kondisi pasar tidak kondusif untuk setiap perusahaan melakukan IPO, dia merasa Anthropic tidak termasuk di antaranya. Dia menyoroti sinyal kuat dalam permintaan produknya dan kemungkinan untuk mendapat laba meskipun perusahaan tersebut memiliki pengeluaran yang besar.
“Saya rasa akan ada minat yang sangat kuat untuk Anthropic,” kata Zino.
AI sudah menjadi poros utama yang mendorong pasar saham mencatat tingkat tertingginya beberapa tahun belakangan. Dengan valuasi yang sangat tinggi, Anthropic meminta para investor untuk percaya pada kemampuannya dalam terus menghasilkan pendapatan dari layanan AI-nya serta memperluas pangsa pasarnya.
“Jika perusahaan meluncurkan model bisnisnya, maka mereka akan aman,” ujar Ritter.
Dia melanjutkan, “Namun seperti yang diketahui, seringkali hal tak berjalan sesuai rencana.”