Kebakaran Hutan Taman Nasional Babul Meluas

Karhutla di TN Babul Pangkep meluas hingga hampir 26 hektare setelah lima hari.

oleh FauzanDiterbitkan 06 Oktober 2026, 14:24 WIB
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa).

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, terus meluas setelah lima hari berlangsung.

Luas area yang terdampak kebakaran kini mencapai hampir 26 hektare. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan hari pertama, ketika area terbakar diperkirakan masih sekitar 10 hingga 15 hektare.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Rabu (30/9) malam di kawasan Gunung Lesang, Kecamatan Minasatene. Hingga saat ini, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan telah merambat dari zona rimba hingga memasuki zona inti taman nasional.

Petugas gabungan dari Balai TN Bantimurung-Bulusaraung, Manggala Agni, TNI, Polri, pemadam kebakaran, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat masih melakukan upaya pemadaman di sejumlah titik. Selain memadamkan api, petugas juga berupaya memutus jalur rambatan kebakaran agar tidak bergerak ke arah permukiman warga.

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan luas area yang terbakar terus bertambah dalam beberapa hari terakhir.

"Sampai tadi siang, kita mengidentifikasi hampir 26 hektare yang terbakar. Itu artinya semakin meluas dibanding hari pertama kemarin," kata Abdul Rajab, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, salah satu penyebab utama meluasnya kebakaran adalah lokasi titik api yang berada di kawasan puncak dan celah-celah karst yang sulit dijangkau petugas. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara maksimal di seluruh area yang terbakar.

"Iya, dari hari pertama itu semakin meluas karena pada hari pertama itu cuma sekitar 10-15 hektare. Tapi karena penanganan untuk kebakaran di puncak celah karst itu tidak dimungkinkan, sehingga pada hari selanjutnya itu menyebar karena kondisi angin juga sangat kencang di lokasi," ujarnya.

Karakteristik kawasan karst yang dipenuhi tebing terjal dan celah batuan juga menjadi hambatan besar bagi tim pemadam. Untuk mencapai titik api tertentu, petugas harus berjalan kaki menembus lereng berbatu hingga memanjat tebing yang berisiko tinggi.

 

Titik Sulit Dijangkau

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul), Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Dok. Istimewa).

Abdul Rajab menuturkan, banyak titik api berada di sela-sela batuan karst sehingga sulit dijangkau secara langsung. Faktor keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam menentukan strategi pemadaman.

"Karakteristik kebakarannya juga ini karena menyebar di sela-sela karst. Sehingga teman-teman untuk menjangkau ke celah karst itu sangat tidak dimungkinkan. Kalau misalnya kita harus memanjat, kita mengutamakan keselamatan teman-teman juga," tuturnya.

Selain medan yang sulit, angin kencang yang terus bertiup di kawasan pegunungan karst mempercepat penyebaran api. Kondisi tersebut memicu munculnya titik-titik kebakaran baru yang lokasinya cukup jauh dari sumber api awal.

Menurut Abdul Rajab, material yang terbakar di area puncak karst ikut memperparah situasi. Serasah dan batuan yang jatuh dari area yang terbakar diduga menjadi pemicu munculnya api di lokasi lain.

"Pergerakan titik api selama beberapa hari ini jumlah titik api menyebar karena ada yang sampai ke puncak karst sehingga pada saat terbakar, serasah-serasah kemudian batu yang ikut jatuh itu ternyata memicu titik api baru," jelasnya.

Akibat kondisi tersebut, petugas menemukan sejumlah titik api baru di sekitar kawasan permukiman yang sebelumnya tidak terdampak kebakaran. Lokasi titik api itu bahkan berada cukup jauh dari area kebakaran pertama.

"Pada hari ini banyak titik api yang kita jumpai di sekitar permukiman masyarakat, jauh dari titik api awal yang di kampung sebelah," ungkap Abdul Rajab.

-Prioritas Penanganan

Munculnya titik api di dekat permukiman membuat petugas mengubah prioritas penanganan. Jika sebelumnya fokus utama berada di kawasan puncak karst, kini upaya perlindungan terhadap wilayah yang berdekatan dengan rumah warga menjadi perhatian utama.

Petugas gabungan terus melakukan penyekatan dan pemadaman di titik-titik yang berpotensi mengancam permukiman. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah kebakaran yang telah menghanguskan puluhan hektare kawasan karst itu meluas ke area yang lebih berisiko.

"Tantangan terberatnya kondisi lokasi karena medannya karst, kemudian angin yang cukup kencang sehingga memicu terjadinya titik api baru. Makanya pada briefing terakhir tadi kami arahkan supaya lebih fokus kepada perlindungan area-area di sekitar permukiman masyarakat," pungkas Abdul Rajab.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya