Harga Minyak Melandai Usai G7 Sepakat Lepas Cadangan

Harga minyak turun setelah ekspor Timur Tengah meningkat dan negara G7 sepakat melepas cadangan strategis.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Oktober 2026, 07:40 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun pada penutupan perdagangan Senin. Peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan rencana negara-negara G7 melepas cadangan minyak mendorong kenaikan pasokan.

Kondisi tersebut mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat perang AS-Israel dengan Iran yang masih berlangsung.

Mengutip CNBC, Selasa (6/10/2026), harga minyak Brent yang menjadi patokan harga dunia turun 1,9% dan ditutup di US$ 100,32 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sekitar 1,8% menjadi US$ 89,43 per barel.

Harga Brent memangkas sebagian besar kenaikan pada pekan sebelumnya. Sementara WTI turun 1,6% setelah negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.

Keputusan itu diambil setelah tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Negara-negara G7 juga berjanji tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi.

Tambahan pasokan dari G7 akan meningkatkan ekspor minyak mentah Timur Tengah. Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak kawasan tersebut bahkan sudah berada di atas level sebelum perang dalam empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.

 

Serangan Kelompok Houthi

Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Kenaikan ekspor terjadi meski terdapat serangan terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.Harga gasoil berjangka ICE juga naik lebih dari 2% menjadi US$ 1.390,25 per barel pada Senin.

“Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis mengurangi sebagian kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek. Ada pula pandangan yang berkembang bahwa volume ekspor Arab Saudi mulai kembali menuju level sebelum perang, meskipun minyak tersebut masih dikirim dengan biaya lebih tinggi dan melalui rute yang kurang efisien,” kata Tim Waterer, kepala analis KCM Trade.

“Kombinasi tersebut cukup untuk menekan harga saat ini, meskipun risiko kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk belum hilang.”

Kelompok Houthi mengklaim meluncurkan rudal balistik dan drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi. Serangan itu disebut sebagai respons atas 50 serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam sebelumnya.

Namun, Arab Saudi belum mengonfirmasi laporan tersebut.

Pada Minggu, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional menyatakan akan melancarkan operasi militer besar untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.

 

 

Aramco Pangkas Harga

Saudi Aramco

Di sisi lain, Aramco secara mengejutkan memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun.

Analis ING dalam sebuah catatan mengatakan harga Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel karena ketegangan geopolitik yang terus berlangsung serta meningkatnya serangan terhadap kapal komersial di kawasan Teluk.

Sementara itu, OPEC+ menunda pembahasan yang akan menentukan kuota produksi minyak anggotanya untuk 2027.

Dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan perang Iran telah mengganggu sejumlah proyek untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak di Timur Tengah. Kondisi ini membuat perkiraan mengenai potensi produksi minyak dunia pada masa mendatang menjadi tidak pasti.

Di Eropa, Ukraina juga berencana meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan hal tersebut dalam wawancara dengan Reuters yang diterbitkan pada Sabtu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya