Jejak Rendi dari Natuna ke Filipina, Berakhir Tragis di Medan Perang Rusia

Keluarga makin berduka dan bingung karena kabarnya jenazah Rendi tak mudah dipulangkan.

oleh Ajang NurdinDiterbitkan 30 September 2026, 01:02 WIB
Sosok Rendi, Pemuda Natuna jadi Tentara Rusia (Foto: Istimewa Ajang Nurdin/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari Rendi (30), pemuda asal Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau (Kepri), yang menjadi salah satu WNI yang menjadi tentara di Rusia. Dia dilaporkan meninggal dunia pada 20 September 2026, ketika serangan drone Ukraina menyasar Moskow dan sejumlah wilayah Rusia.

Orangtua Rendi membenarkan kabar kematian tersebut. Informasi itu mereka terima dari teman anaknya yang juga berada di Rusia.

"Iya, kan ada informasinya itu Rusia diserang drone dari Ukraina sewaktu Rusia mengadakan pemilu. Di situlah terjadinya serangan drone itu. Di situ anak saya tidak bisa menghindar lagi, karena banyaknya drone," kata Rustamal, pada Selasa (29/9/2026).

Serangan pada 20 September tersebut terjadi bertepatan dengan hari terakhir pemilu parlemen Rusia. Otoritas Rusia melaporkan serangan drone dalam skala besar, dengan lebih dari 1.600 drone disebut berhasil dicegat di sejumlah wilayah dan sekitar 450 di antaranya ketika mendekati Moskow.

 

Mengaku Kerja di Filipina

Kepada keluarga, Rendi mulanya mengaku bekerja sebagai teknisi listrik di Filipina. Namun lima bulan setelahnya, dia memberi kabar telah berada di Rusia.

Kepada orangtuanya, Rustamal dan Eniyanti, Rendi mengaku bekerja di bagian logistik. Belakangan, keluarga mendapat informasi bahwa pekerjaan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas sebagai tentara bayaran untuk Rusia. Keluarga mengaku sempat terkejut ketika Rendi tiba-tiba memberi tahu bahwa dirinya sudah berada di Rusia. Apalagi, keluarga tahu negera tersebut tengah dilanda perang.

"Saya bilang, kenapalah di sana. Di sana kan lagi perang. Mudah-mudahanlah, Pak, aman. Doa saja, Pak," ujar Rustamal menirukan percakapannya dengan Rendi.

 

Nasib Jenazah Rendi

Kini, persoalan keluarga bukan lagi soal mengapa Rendi berada di Rusia. Tetapi bagaimana jenazahnya dapat dibawa pulang ke Natuna. Keluarga mengaku telah mencoba berkomunikasi dengan rekan Rendi di Rusia untuk menanyakan kemungkinan pemulangan jenazah.

Namun, mereka mendapat jawaban bahwa proses tersebut tidak mudah karena kondisi di lokasi masih dalam situasi perang.

"Tidak bisa Pak, jawab temannya, karena di lokasi masih gawat dengan perang. Sekarang masih ada tulang-belulang yang belum dievakuasi," ujar Rustamal.

Keluarga kini hanya berharap ada kepastian mengenai keberadaan dan kondisi jenazah Rendi agar dapat dipulangkan ke tanah air dan dimakamkan di kampung halamannya di Natuna.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya