Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali turun pada perdagangan Selasa ini. Harga emas Antam hari ini melemah Rp 17.000 per gram, melanjutkan penurunan sehari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16.000.
Dengan demikian, dalam dua hari terakhir harga emas Antam secara akumulatif telah merosot sebesar Rp 33.000.
Advertisement
Mengutip laman resmi logammulia.com, Selasa (29/9/2026), harga emas Antam hari ini dibanderol Rp 2.580.000 per gram, merosot dari posisi sebelumnya di level Rp 2.597.000 per gram.
Penurunan signifikan juga terjadi pada harga buyback (beli kembali) emas Antam. Harga buyback hari ini merosot hingga Rp 47.000 menjadi Rp 2.375.000 per gram.
Sebagai informasi, harga buyback merupakan nominal yang diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangan ke Antam. Sementara itu, harga yang tercantum pada awal perdagangan merupakan harga jual emas Antam kepada konsumen.
Sebagai catatan, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram.
Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan harga emas dunia serta kondisi pasar harian.
Rincian Harga Emas Antam Selasa (29/9/2026):
- 0,5 gram: Rp 1.340.500
- 1 gram: Rp 2.580.000
- 2 gram: Rp 5.110.000
- 3 gram: Rp 7.647.000
- 5 gram: Rp 12.715.000
- 10 gram: Rp 25.350.000
- 25 gram: Rp 63.210.000
- 50 gram: Rp 126.255.000
- 100 gram: Rp 252.360.000
- 250 gram: Rp 630.590.000 (pre-order)
- 500 gram: Rp 1.260.900.000 (pre-order)
- 1.000 gram: Rp 2.520.600.000 (pre-order).
Harga Emas Dunia Jatuh
Harga emas dunia turun tajam pada perdagangan Amerika Serikat (AS) Senin. Harga emas spot berada di sekitar US$ 4.131 per ounce, turun sekitar 3,8% dalam sehari.
Mengutip Kitco, Selasa (29/9/2026), tekanan terhadap harga emas terjadi setelah meningkatnya risiko di Selat Hormuz mendorong harga minyak, sekaligus mengangkat imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau The Fed kembali menaikkan suku bunga.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun juga naik ke kisaran 5,23%, level tertinggi sejak 2007. Sementara itu, indeks dolar AS bertahan di sekitar 101,16.
Kenaikan imbal hasil obligasi AS menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang memegang emas ikut naik.
Pergerakan harga emas selanjutnya akan dipengaruhi sejumlah data ekonomi AS, termasuk data lowongan pekerjaan, inflasi PCE, penggajian swasta, aktivitas manufaktur, dan laporan ketenagakerjaan.
Target Kenaikan Harga Emas
Situasi di Selat Hormuz dan hubungan AS-Iran menjadi salah satu faktor geopolitik utama yang memengaruhi harga minyak dan secara tidak langsung menekan harga emas.
Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari US$ 4 per barel setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil US Treasury lebih tinggi.
Bagi emas, tekanan tersebut lebih dominan dibandingkan permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik. Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas.
Secara teknikal, target kenaikan harga emas berikutnya berada di area US$ 4.199 hingga US$ 4.223 per ounce. Jika mampu menembus zona tersebut secara berkelanjutan, emas berpeluang menguji US$ 4.244 dan kemudian US$ 4.257.
Sebaliknya, target penurunan berikutnya berada di US$ 4.162, dengan support lebih dalam di US$ 4.152 dan US$ 4.128 per ounce.