Harga Minyak Dunia Turun, Jalur Pipa Arab Saudi Kembali Beroperasi

Harga minyak Brent turun setelah Arab Saudi memulihkan aliran pipa East-West yang menjadi jalur alternatif Selat Hormuz.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 September 2026, 07:40 WIB
Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun dari level tertinggi perdagangan Senin setelah Arab Saudi dilaporkan kembali meningkatkan aliran minyak melalui jalur pipa East-West yang strategis.

Mengutip CNBC, Selasa (29/9/2026), harga minyak Brent, patokan global, naik 96 sen menjadi US$ 105,28 per barel saat penutupan. Sebelumnya, Brent sempat menyentuh US$ 108,83 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik 19 sen menjadi US$ 92,60 per barel, setelah sempat mencapai US$ 96,54 per barel.

Arab Saudi telah memulihkan aliran minyak melalui pipa East-West menjadi sekitar 3,5 juta barel per hari (bph). Pipa tersebut memiliki kapasitas maksimal 7 juta bph. Laporan Bloomberg dan The Wall Street Journal menyebut ekspor minyak melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah juga kembali berjalan.

Jalur tersebut sebelumnya ditutup setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone.

Perkembangan tersebut memberikan sedikit tekanan terhadap harga minyak karena membuka kembali jalur alternatif untuk mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz.

 

Ketegangan AS- Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Kamis (29/1/2026). (Dok. AP/Allison Robert)

Di sisi lain, ketegangan AS dan Iran masih menjadi perhatian pasar. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNN bahwa Presiden Donald Trump terbuka terhadap pelonggaran sanksi terhadap Iran dan pencairan dana Iran yang dibekukan jika ada kemajuan konkret menuju kesepakatan nuklir.

Sementara itu, Trump sebelumnya menolak tawaran bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

“Mereka mengajukan proposal, tetapi saya menolaknya,” kata Trump.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menawarkan pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut dan dimulainya kembali perundingan nuklir dengan AS dalam tujuh hari jika Washington memenuhi sejumlah persyaratan.

Jika ketegangan mereda dan jalur pasokan kembali normal, tekanan terhadap harga minyak dapat meningkat karena pasar memperhitungkan tambahan pasokan.

Iran mensyaratkan penghentian apa yang disebutnya sebagai tindakan agresi AS, pencabutan blokade laut dan tekanan ekonomi, serta pembebasan aset Iran.

 

Jalur Penting Minyak Arab Saudi

Para pekerja melakukan perawatan pipa di stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak masih mendapatkan dukungan dari risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Pemulihan pipa East-West Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan kekhawatiran pasar.

Pipa tersebut memiliki kapasitas sekitar 7 juta barel per hari dan menjadi jalur penting untuk mengalihkan minyak Arab Saudi menuju Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Namun, aliran yang kembali berjalan saat ini baru sekitar setengah dari kapasitas maksimal. Pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama karena sejumlah fasilitas pemompaan mengalami kerusakan akibat serangan sebelumnya.

Dengan demikian, arah harga minyak selanjutnya masih akan sangat bergantung pada dua faktor utama, yakni seberapa cepat pasokan Arab Saudi pulih dan perkembangan hubungan AS-Iran yang menentukan kondisi Selat Hormuz.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya