Nekat Jual Barang Pribadi Demi Bengkel, Kini Berharta Rp 93 Triliun

Dari pemuda desa miskin, Liang Wengen nekat lepas pekerjaan stabil demi bangun Sany. Kini ia jadi salah satu raja alat berat dunia.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 29 September 2026, 08:00 WIB
Liang Wengen. (Dok Sany)

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan hidup Liang Wengen menjadi bukti nyata bagaimana keteguhan mental dan keberanian mengambil risiko mampu mengubah takdir. Lahir dari keluarga petani miskin di pedesaan Provinsi Hunan, China, pada 10 Januari 1956, pemuda desa ini berhasil bertransformasi menjadi salah satu taipan paling berpengaruh di industri manufaktur global.

Dikutip dari SuccessStory, Selasa (29/9/2026), perjalanan karier Liang tidak dimulai dengan kemewahan. Lulus dari Central South University, ia sempat menikmati posisi aman dan stabil dengan bekerja di pabrik peralatan militer milik pemerintah. Namun, naluri kewirausahaannya menolak untuk bertahan di zona nyaman.

Melihat geliat reformasi ekonomi China yang mulai terbuka pada era 1980-an, Liang mengambil keputusan nekat. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bersama tiga kawan setianya, ia menjual barang-barang pribadi demi mengumpulkan modal awal mendirikan bengkel bahan pengelasan (welding material) di Lianyuan, kota kelahirannya.

Sebelum memantapkan langkah di industri berat, Liang sempat mencoba berbagai lini bisnis lain, termasuk usaha pembuatan anggur. Meski sempat mengalami kegagalan, ketajaman visinya teruji saat melihat masifnya proyek pembangunan infrastruktur di seluruh penjuru China. Liang menyadari bahwa alat berat adalah kunci utama pembangunan negara.

Cikal Bakal Lahirnya Sany Group

Keyakinan itulah yang melahirkan Sany Group pada tahun 1989. Kehadiran Sany perlahan merobohkan monopoli perusahaan milik negara sekaligus menggoyang dominasi raksasa asing yang saat itu menguasai pasar alat berat China.

Dilansir dari The Guardian, lonjakan pembangunan infrastruktur China mulai dari jalan tol, jembatan, gedung pencakar langit, hingga bandara membuat permintaan mesin konstruksi Sany melesat pesat. Portofolio usahanya berkembang luas, memproduksi ekskavator, mesin pancang, pompa beton, hingga turbin angin.

Puncak kejayaannya tercatat pada laporan Hurun Rich List 2011. Liang Wengen dinobatkan sebagai orang terkaya di China dengan kekayaan bersih mencapai US$ 11 miliar atau sekitar Rp 197 triliun (kurs Rp 18.010 per US$). Ia bahkan melampaui raja minuman ringan Wahaha, Zong Qinghou, dan pendiri Baidu, RobinLi.

Meski kekayaannya berfluktuasi mengikuti dinamika pasar global, nilai kekayaan bersihnya kini tetap bertahan stabil di kisaran US$ 4 miliar hingga US$ 5,2 miliar atau sekitar Rp 93,6 triliun.

Inovasi dan Ekspansi Global

Ketajaman strategi Liang Wengen tak berhenti pada dominasi pasar domestik. Ia merekrut jajaran manajer berbakat untuk mentransformasi Sany menjadi pemain internasional yang disegani. Produk ekskavator dan pompa beton Sany perlahan mulai mengungguli kualitas serta harga kompetitor asing.

Langkah monumental Liang terjadi pada tahun 2012 saat Sany resmi mengakuisisi Putzmeister, produsen pompa beton ternama asal Jerman. Transaksi ini menjadi salah satu akuisisi Sino-Jerman terbesar pada masanya. Sebelum akuisisi tersebut, ekspor Sany tak pernah menyumbang lebih dari 5% total pendapatan. Namun, aksi korporasi berani itu berhasil membuka pintu jaringan internasional hingga produk Sany menembus lebih dari 100 negara.

Kisah sukses Liang Wengen membuktikan bahwa keterbatasan latar belakang keluarga bukanlah penghalang untuk meraih puncak dunia. Kombinasi keberanian keluar dari zona nyaman, kejelian membaca arah pembangunan, serta kedisiplinan menjaga kualitas telah menempatkan namanya sebagai salah satu tokoh pengusaha paling fenomenal dalam sejarah manufaktur modern.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya