Liputan6.com, Jakarta - Sekitar 80 persen investor ultra-kaya yang menjadi nasabah Goldman Sachs dilaporkan mulai mengalihkan sebagian porsi investasi mereka dari pasar saham ke aset alternatif.
Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (28/9/2026), perubahan strategi ini terjadi di tengah kondisi pasar saham yang sebenarnya masih mencatatkan penguatan. Kendati demikian, kelompok investor dengan dana melimpah tersebut memilih mencari instrumen lain demi memperkuat diversifikasi serta menjaga stabilitas nilai portofolio.
Advertisement
Aset Alternatif dan Pasar Privat Jadi Pilihan
Aset alternatif mencakup berbagai jenis investasi di luar instrumen tradisional seperti saham publik dan obligasi. Beberapa di antaranya meliputi private equity, kredit swasta, real estat, hingga aset riil lainnya.
Tren ini mengindikasikan bahwa investor ultra-kaya (ultra-high-net-worth) tidak lagi hanya mengandalkan pergerakan pasar saham untuk memupuk kekayaan. Mereka semakin gencar memanfaatkan pasar privat (private market) yang menawarkan fleksibilitas serta imbal hasil berbeda dibanding pasar publik.
Goldman Sachs sendiri mencatatkan lonjakan minat yang sangat tinggi terhadap produk investasi alternatif. Pada kuartal II 2026, unit bisnis tersebut berhasil menghimpun dana hingga US$ 59 miliar. Secara kumulatif, total penghimpunan dana telah menembus angka US$ 85 miliar sepanjang tahun berjalan.
Goldman Sachs Perkuat Bisnis Wealth Management
Shift atau pergeseran minat investasi nasabah ini menjadi momentum besar bagi Goldman Sachs untuk memperluas jangkauan bisnis pengelolaan kekayaan (wealth management).
CEO Goldman Sachs, David Solomon, mengungkapkan bahwa total aset nasabah di unit bisnis wealth management kini telah mencapai sekitar US$ 2 triliun. Adapun total aset yang berada di bawah pengawasan (assets under supervision) perusahaan secara keseluruhan telah melampaui US$ 4 triliun.
"Kami melihat peluang yang sangat besar dalam segmen bisnis ultra-high-net-worth," ujar Solomon dalam laporan resmi kinerja perusahaan.
Goldman Sachs mencatat tingginya permintaan pasar terhadap investasi privat, khususnya pada sektor kredit, ekuitas, dan aset riil. Pihak manajemen menyebut para nasabah secara aktif terus memburu peluang investasi yang terdiversifikasi dari gejolak pasar saham publik.
Bagi perusahaan pengelola kekayaan skala global seperti Goldman Sachs, tren alokasi modal ke aset alternatif ini membuka ruang yang lebih luas untuk meningkatkan porsi layanan investasi bagi kelompok nasabah berkantong tebal.