6 Perusahaan Proses IPO di Bursa

Tujuh perusahaan telah mencatatkan saham di BEI hingga 25 September 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 September 2026, 06:00 WIB
Tampak dalam foto, layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan tujuh perusahaan yang mencatatkan saham di BEI hingga 25 September 2026. Dana yang dihimpun mencapai Rp 2,16 triliun dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

“Hingga saat ini, terdapat enam perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” demikian seperti dikutip dari keterangan resmi BEI, ditulis Minggu (27/92/2026).

Adapun berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017:

  • 2 perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar)
  • 2 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50 miliar-Rp 250 miliar)
  • 2 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar)

Rincian sektornya antara lain dua perusahaan di sektor energi, tiga perusahaan di sektor perawatan kesehatan dan satu perusahaan di sektor industri.

Selain itu, BEI juga mengungkapkan telah diterbitkan 132 emisi dari 62 penerbit efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) dengan dana dihimpun Rp 128,81 triliun.

“Sampai dengan 25 September 2026 terdapat 22 emisi dari 16 penerit EBUS yang sedang berada dalam pipeline,” demikian seperti dikutip dari keterangan BEI.

Adapun klasifikasi sektornya antara lain tiga perusahaan dari sektor basic materials, tiga perusahaan dari sektor energi, lima perusahaan dari sektor keuangan, satu perusahaan dari sektor industri, tiga perusahaan dari sektor infrastruktur. Selanjutnya satu perusahaan dari sektor properti dan real estate.

Untuk rights issue, per 25 September 2026 telah terdapat 15 perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan nilai Rp 16,23 triliun. Masih terdapat satu perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI yang bergerak di sektor properti dan real estate.

Kinerja IHSG Sepekan

Penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (4/7/2024) menunjukan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 6.400 pada perdagangan saham 21-25 September 2026. Analis menilai tekanan IHSG sepekan dipicu kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (26/9/2026), IHSG turun 3,09% sehingga ditutup ke level 6.241,89 dari pekan lalu 6.441,16.

Demikian juga kapitalisasi pasar BEI yang tertekan. Kapitalisasi pasr BEI turun 3,2% atau Rp 361 triliun menjadi Rp 10.905 triliun dari pekan lalu Rp 11.266 triliun.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG melemah 3,09%, dan masih didominasi oleh tekanan jual. Pergerakan IHSG itu didorong sejumlah sentimen. Pertama, kenaikan suku bunga acuan the Federal Reserve (the Fed) ke level 4%, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan di atas 5%. Ia menuturkan, hal ini menguatkan indeks dolar AS dan membuat aliran dana asing keluar dari Emerging Market (EM) atau negara berkembang.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini berada di 17.942 per dolar AS sehingga meningkatkan kekhawatiran akan capital outflow dan tekanan pada Surat Berharga Negara (SBN). “Ketiga, harga minyak mentah masih menjadi penekan pergerakan bursa, di mana saat ini berada di atas US$ 100 per barel dan akan meningkatkan kekhawatiran inflasi energi global,” kata dia.

 

Investor Asing Jual Saham

Seorang pria melihat ponselnya di depan layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang anjlok signifikan selama pembukaan pasar, di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta pada Rabu 13 Mei 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian terperosok 3,95% menjadi 1,82 juta kali transaksi dari 1,89 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian merosot 21,32% menjadi Rp 11,98 triliun dari Rp 15,22 triliun pada pekan lalu. Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian di BEI naik 2,04% menjadi 29,20 miliar saham dari 28,61 miliar saham pada pekan lalu.

Sementara itu, investor asing mencatatkan aksi jual saham mencapai Rp 3,15 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing lebih besar dari pekan lalu Rp 2,94 triliun.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya