Kebakaran Pabrik Petrowidada di Bulan Keselamatan Kerja

Kebakaran di pabrik PT Petrowidada di Gresik, Jawa Timur, terjadi setelah pemerintah mencanangkan Januari ini sebagai Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Manajemen PT Petrowidada membantah lalai.

oleh Liputan6Diterbitkan 29 Januari 2004, 23:03 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Kebakaran di pabrik PT Petrowidada di Gresik, Jawa Timur, Selasa pekan silam, benar-benar mencoreng program Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dicanangkan pemerintah. Betapa tidak. Selain menewaskan dua pekerja, insiden terjadi saat pemerintah mencanangkan Januari ini sebagai Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Selain itu, PT Petrowidada baru menerima sertifikat keselamatan kerja, dua pekan sebelum kebakaran. Tak pelak, Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea yang menandatangani sertifikat tersebut kecewa. &quotIni sangat memalukan. Fasilitas sudah siap. Pengawasan dilakukan. Tapi, masih saja terjadi,&quot kata Jacob di Jakarta, baru-baru ini. Karena itu, Jacob menuduh manajemen PT Petrowidada melakukan kelalaian [baca: Mennakertrans Mencurigai Keselamatan Kerja di Petrowidada].

PT Petrowidada tak berdiam diri dituding begitu. Kepala Regu D PT Petrowidada Basuki Rahmat mengaku, pihaknya sudah mendekteksi kebocoran di pipa tangki B2994, sehari sebelum insiden. Basuki kemudian mengurangi isi tangki dan menyiram air di luar tangki. &quotTujuannya agar tangki dingin, sehingga menurunkan tekanan,&quot kata Basuki. Keesokan harinya, dia kembali menyiapkan selang hidran di sekitar tangki sesuai prosedur standar keselamatan. Sementara karyawan belum diperintahkan mengevakuasi diri. Tapi tanpa diduga, ledakan mengguncang sekitar pukul 16.00 WIB [baca: Ledakan Beruntun di Pabrik Kimia Gresik].

Staf hubungan masyarakat PT Petrowidada Tasril Jamal membantah kebakaran terjadi karena faktor kelalaian. Sebab, menurut dia, semua prosedur sudah dilakukan. &quotIni murni kecelakaan,&quot kata Tasril. Sebelumnya, kebakaran memang berulang kali terjadi di pabrik yang memproduksi bahan baku plastik itu. Namun, insiden sebelumnya belum pernah memakan korban jiwa.

Selain dituding melakukan kelalaian, selama ini PT Petrowidada juga berulang kali dituduh mencemari lingkungan, antara lain dengan membuang limbah ke Kali Romo, Meduran. Tak heran, saat kebakaran api juga berkobar sepanjang sungai. Pabrik tersebut pun membuang limbah dalam drum yang disimpan di lapang terbuka dekat pemukiman. Menurut manajemen PT Petrowidada, pihaknya membuang limbah tersebut dengan alasan sudah memberi kompensasi Rp 8.000 per drum kepada warga. Namun, ketika dikonfirmasi, tak seorang pun warga yang mengaku menerima dana kompensasi tersebut.

Kobaran api di sungai praktis menyambar rumah-rumah di bantaran kali, termasuk milik pasangan lanjut usia Embah Sumo dan Kitri. Nyaris tak ada harta yang bisa diselamatkan oleh Sumo. Televisi 16 inci, duit tabungan Rp 1,5 juta, dan barang lainnya hangus terbakar. Padahal, menurut kakek berusia 90 tahun ini, sebagian uang simpanan akan digunakan untuk membeli hewan kurban untuk Idul Adha 1424 Hijriah [baca: Tabungan Ludes Terbakar, Niat Berkurban Gagal].

Korban lain adalah Safiudin. Saat kejadian, pemuda yang baru saja lulus sekolah menengah kejuruan itu hendak melintas ke lokasi pabrik. Belum sampai ke lokasi, satpam pabrik menyuruh Safiudin menjauhi pabrik. Namun, beberapa saat setelah Safiudin berbalik arah, tangki pabrik meledak. Pemuda itu baru tersadar setelah dirawat di Rumah Sakit Dokter Sutomo, Surabaya.

Menurut dokter yang merawat korban, Safiudin mengalami pendarahan selaput otak. Diperkirakan, Safiudin setidaknya harus dirawat selama tiga bulan untuk pulih kembali. Sarmini, ibu korban, menyatakan tak akan menuntut PT Petrowidada. Sebab, semua biaya perawatan selama ini sudah ditanggung PT Petrowidada.

Sementara Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat, beberapa hari setelah kebakaran, Gresik diguyur hujan. Padahal, saat itu cuaca tak mendung. Air hujan tersebut juga menyebabkan warga gatal-gatal. &quotApakah iklim Gresik yang parah atau gara-gara kebakaran Petrowidada, itu harus diselidiki,&quot kata aktivis Walhi Jatim Ridho Syaiful.

Sebenarnya, kasus PT Petrowidada bukanlah hal luar biasa di negeri ini. Banyak pabrik lain yang membuang limbah tanpa diolah terlebih dahulu. Sementara pengawasan pemerintah pun lemah.(ZAQ/Tim Sigi SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya