Liputan6.com, Madiun: Jenazah Faturrahman al-Ghozi alias Goci tiba di kediaman orang tuanya di Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Madiun, Jawa Timur, Kamis (16/10), sekitar pukul 02.40 WIB. Sekitar tiga jam sebelumnya, peti mati Al-Ghozi diangkut dengan ambulans dari Bandar Udara Djuanda, Surabaya, Jatim. Setiba di rumah duka, Nyonya Rukanah diberi kesempatan pertama melihat jenazah putra kandungnya itu [baca: Jenazah Al-Ghozi Dikawal ke Kampung Halaman].
Kini, jenazah buronan kasus terorisme yang ditembak polisi di Filipina itu masih disemayamkan di rumah duka. Rencananya, siang ini, pemakaman baru dilakukan setelah Tim Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) melakukan otopsi. Sebelumnya, Rukanah meminta jasad Al-Ghozi segera dikubur tanpa dikafani atau dimandikan karena anaknya dianggap mati syahid.
Menurut kalangan keluarga, otopsi dilakukan buat memastikan penyebab kematian Al-Ghozi. Tewas karena baku tembak dengan polisi Filipina atau didor dari jarak dekat [baca: Sejumlah Keganjilan Kematian Al-Ghozi]. Jika Al-Ghozi terbukti dieksekusi dan sarat muatan politis, keluarga menyerahkan segalanya ke pengacara dari Tim Pembela Muslim (TPM).
Kedatangan jenazah Al-Ghozi juga disaksikan sekitar 100-an santri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Tampak pula pimpinan Ponpes Al-Islam, Tenggulun, Lamongan, Jatim, ustad Zakaria. Mereka tampak khusuk mendoakan almarhum di rumah duka. Setelah pihak keluarga menyatakan pemakaman menunggu otopsi, ratusan pelayat berangsur-angsur pulang. Kini, di sepanjang jalan menuju rumah Al-Ghozi, dipenuhi spanduk berisikan dukungan kepada Al-Ghozi yang dianggap sebagai pejuang yang mati syahid.(ANS/Agus Ainul Yakin dan Danang Sumirat)
Kini, jenazah buronan kasus terorisme yang ditembak polisi di Filipina itu masih disemayamkan di rumah duka. Rencananya, siang ini, pemakaman baru dilakukan setelah Tim Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C) melakukan otopsi. Sebelumnya, Rukanah meminta jasad Al-Ghozi segera dikubur tanpa dikafani atau dimandikan karena anaknya dianggap mati syahid.
Menurut kalangan keluarga, otopsi dilakukan buat memastikan penyebab kematian Al-Ghozi. Tewas karena baku tembak dengan polisi Filipina atau didor dari jarak dekat [baca: Sejumlah Keganjilan Kematian Al-Ghozi]. Jika Al-Ghozi terbukti dieksekusi dan sarat muatan politis, keluarga menyerahkan segalanya ke pengacara dari Tim Pembela Muslim (TPM).
Kedatangan jenazah Al-Ghozi juga disaksikan sekitar 100-an santri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah. Tampak pula pimpinan Ponpes Al-Islam, Tenggulun, Lamongan, Jatim, ustad Zakaria. Mereka tampak khusuk mendoakan almarhum di rumah duka. Setelah pihak keluarga menyatakan pemakaman menunggu otopsi, ratusan pelayat berangsur-angsur pulang. Kini, di sepanjang jalan menuju rumah Al-Ghozi, dipenuhi spanduk berisikan dukungan kepada Al-Ghozi yang dianggap sebagai pejuang yang mati syahid.(ANS/Agus Ainul Yakin dan Danang Sumirat)