Transformasi Taktik Arsenal di Era Mikel Arteta: Dari 'Mini City' ke Raja Bola Mati

Alih-alih meniru gaya permainan Pep Guardiola di Manchester City, Arsenal justru berkembang dengan identitas baru yang lebih pragmatis.

oleh Ari Rachman PrayogaDiterbitkan 20 Maret 2026, 23:12 WIB
Mikel Arteta memberikan instruksi pada skuad Arsenal di laga lawan Manchester City di pekan kelima Liga Inggris 2025/26 di Emirates Stadium, Minggu (21/09/2025). (AP Photo/Kin Cheung)

Liputan6.com, Jakarta - Legenda Liverpool, Jamie Carragher, menilai perubahan pendekatan taktik Arsenal di bawah kendali Mikel Arteta jauh dari ekspektasi awal. Alih-alih meniru gaya permainan Pep Guardiola di Manchester City, The Gunners justru berkembang dengan identitas baru yang lebih pragmatis.

Sejak ditunjuk sebagai manajer, Arteta memang diharapkan membawa filosofi sepak bola berbasis penguasaan bola ala Guardiola. Hal itu tidak lepas dari latar belakangnya sebagai mantan asisten pelatih di City. Namun, realitas di lapangan memaksa Arsenal beradaptasi.

Dalam beberapa musim terakhir, Arsenal kerap kesulitan saat berhadapan dengan Manchester City. Meski demikian, musim ini mereka menunjukkan lonjakan signifikan dengan memimpin klasemen Premier League dan membuka peluang meraih gelar pertama sejak 2004.


Arsenal Kembali ke Gaya Klasik

Manajer Arsenal asal Spanyol, Mikel Arteta (kiri ke kanan), memberikan instruksi dari pinggir lapangan kepada gelandang Arsenal asal Inggris bernomor punggung 41, Declan Rice, gelandang Arsenal asal Brasil bernomor punggung 11, Gabriel Martinelli, dan bek Arsenal asal Spanyol bernomor punggung 36, Martin Zubimendi, selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Bayer 04 Leverkusen vs Arsenal di Leverkusen, Jerman barat, pada 12 Maret 2026. (INA FASSBENDER/AFP)

Salah satu perubahan paling mencolok adalah efektivitas Arsenal dalam memanfaatkan bola mati. Tim asal London Utara itu kini dikenal sebagai salah satu tim paling berbahaya dari situasi sepak pojok maupun tendangan bebas. Strategi ini memang menuai kritik, dengan sebagian pihak menilai Arsenal terlalu bergantung pada satu pendekatan permainan.

Carragher mengakui bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Ia bahkan menyebut Arsenal seperti kembali ke gaya “klasik” yang mengandalkan kekuatan fisik dan organisasi saat situasi bola mati.

Menurutnya, upaya awal Arteta untuk membangun tim dengan gaya menyerang atraktif ala City sempat terlihat menjanjikan. Namun, kualitas yang dimiliki saat itu belum cukup untuk menandingi dominasi tim asuhan Guardiola.

“Tim itu sangat bagus, tetapi Manchester City tetap lebih unggul,” tulis Carragher dalam kolomnya di The Telegraph.


Perubahan Taktik Arteta

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, memberi instruksi kepada para pemainnya saat pertandingan Liga Champions melawan Inter Milan di Giuseppe Meazza, Italia, Rabu (21/1/2026). (AP Photo/Luca Bruno)

Carragher menambahkan bahwa Arsenal kala itu masih dibayangi sejumlah kelemahan lama, seperti kurang tangguh menghadapi tim fisik, minim pengalaman di level elite Eropa, hingga kurang cerdik dalam mengelola pertandingan krusial.

Situasi tersebut mendorong Arteta untuk mengubah pendekatan. Arsenal kini tampil lebih solid, disiplin, dan efisien, bahkan jika harus meninggalkan sebagian idealisme permainan indah.

Perubahan itu membuahkan hasil. Arsenal kini masih berpeluang meraih empat gelar sekaligus musim ini, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah klub.


Arsenal di Ambang Trofi Pertama Musim Ini

Manajer Arsenal, Mikel Arteta, bersama anak asuhnya setelah duel kontra Everton pada pekan ke-17 Premier League di Hill Dickinson Stadium, Minggu (21/12/2025) dini hari WIB. Dalam pertandingan tersebut, The Gunners menang 1-0 atas Everton. (AP Photo/Ian Hodgson)

Tantangan terdekat mereka datang dari Manchester City di final Carabao Cup akhir pekan ini. Selain itu, pertemuan kedua tim di liga bulan depan juga diprediksi menjadi penentu arah perebutan gelar.

Pada pertemuan pertama musim ini, Arsenal berhasil mencuri satu poin berkat gol penyeimbang di menit akhir. Hasil tersebut menjadi bukti bahwa mereka kini lebih kompetitif menghadapi sang juara bertahan.

Carragher pun menyimpulkan bahwa jika Arsenal tetap memaksakan diri meniru gaya Guardiola, mereka kemungkinan besar akan gagal. Sebaliknya, keberanian Arteta untuk mengadopsi pendekatan yang lebih “gelap” namun efektif justru menjadi kunci kebangkitan The Gunners.

Dengan identitas baru yang lebih fleksibel, Arsenal kini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mematikan saat dibutuhkan.

Sumber: The Telegraph


Klasemen Liga Inggris 2025/2026

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya