Liputan6.com, Jakarta - Kue geplak merupakan salah satu jajanan atau kudapan khas Betawi. Kue ini bisa dengan mudah ditemukan di kawasan Betawi pinggiran.
Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, istilah geplak pada kue ini merujuk pada cara pembuatannya yang dipadatkan, ditekan, dan dikeplak-keplak. Dari sanalah lahir nama kue geplak.
Advertisement
Lahirnya kue bertekstur kenyal ini dipercaya bermula dari ketersediaan bahan yang ada di lingkungan Betawi tempo dulu. Keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak 1900-an.
Hal itu tertulis dalam Penelusuran Sejarah, Filosofi, dan Budaya Makan Kue Geplak Khas Betawi oleh Kezia Elsty dan Zayyini Nahdlah. Kue geplak yang sudah ada sejak 1900-an ini banyak ditemukan di wilayah Betawi pinggiran.
Geplak betawi ini merupakan hasil kreatifitas dan pengetahuan leluhur etnis Betawi di wilayah Jakarta. Mereka memanfaatkan bahan pangan yang tersedia melimpah, seperti tepung beras dan kelapa parut yang disangrai kemudian disatukan dengan larutan gula
Penggunaan bahan hasil bumi pada kue geplak memiliki nilai filosofis tersendiri. Penggunaan beras yang merupakan hasil bumi masyarakat setempat menunjukkan kemakmuran sekaligus ukuran kebersamaan.
Bahan dari ketan umumnya memiliki filosofi sebagai pelekat silaturahmi. Namun, bahan dari tepung beras cenderung lebih menonjolkan filosofi keberkahan dan menyambung silaturahmi.
Taburan tepung beras yang sudah disangrai pada permukaan kue geplak juga memiliki tujuan tersendiri agar tidak lengket. Selain itu, tambahan taburan ini juga menambah tekstur kue geplak dan mempercantik penampilan.
Mirip Bedak
Bagi masyarakat Betawi, taburan tepung beras sangrai yang berwarna putih dipandang menyerupai bedak yang biasanya digunakan sebagai elemen perias wajah. Bedak yang berfungsi mempercantik wajah tersebut juga diartikan sama pada kue geplak. Masyarakat Betawi ingin membuat kue geplak terlihat lebih cantik sebelum dinikmati.
Adapun proses pembuatan kue geplak juga memiliki filosofi tersendiri. Berasal dari adonan berserakan yang dirapatkan kembali, kue geplak memiliki filosofi sebagai penyambung silaturahmi. Tak heran, kue geplak khas Betawi kerap hadir dalam berbagai acara penting masyarakat Betawi.
Umumnya, kue geplak menjadi bagian dalam hantaran lamaran dan pernikahan, bersama dengan kue-kue lainnya. Selain penuh filosofi, kue geplak juga realtif lebih tahan lama, sehingga terus disajikan dalam berbagai acara.
Hingga kini, kue geplak masih menjadi bagian dari setiap acara penting masyarakat Betawi. Kue ini juga merupakan simbol kebanggaan dan gengsi karena kerap disajikan dalam jumlah banyak kepada tamu undangan.
Penulis: Resla