Dor... Dor... Dor...! Sang Direktur Tewas

Kepala, dada, punggung, dan lengan Direktur Utama PT Asaba Boedyharto Angsono ditembus peluru penembak gelap. "Kalau pelaku tak ditangkap, pasti akan ada jatuh korban lagi," kata kerabat korban.

oleh Liputan6Diterbitkan 26 Juli 2003, 22:28 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Dor... Dor... Dor...! Suara tembakan beruntun tiba-tiba memecah kesunyian nan tentram di halaman parkir Gelanggang Olah Raga Sasana Krida, Jembatan Tiga, Pluit, Jakarta Utara, Sabtu (19/7) pagi. Perlahan tapi pasti, dua sosok manusia terkapar bersimbah darah menyusul bunyi memekakkan telinga tadi. Yang satu kemudian diketahui bernama Boedyharto Angsono, Direktur Utama PT Aneka Sakti Bakti (Asaba). Korban kedua adalah pengawal pribadinya, Sersan Dua TNI Edi Siyed, anggota Komando Pasukan Khusus TNI Angkatan Darat Grup C. Kedua korban tewas di tempat, diikuti suara deru sepeda motor sang eksekutor yang meninggalkan lokasi kejadian secepat kilat.

Hari itu masih sekitar pukul 05.30 WIB. Seperti biasa, Boedyharto mengawali akhir pekannya dengan berolah raga basket di lokasi yang agak jauh dari kediamannya di Apartemen Syalendra, Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Dia berangkat dengan mobil Mercedes Benz S 600 yang disetir Darjan, sopir pribadinya yang sudah berumur 50 tahun. Bersama mereka, lelaki berusia 60 tahun itu juga membawa serta pengawal pribadinya, Edi, yang juga teman akrabnya.

Kehadiran sang pengawal ini sudah dilakukan sejak tiga tahun silam, menyusul ancaman dari seorang kerabat yang sakit hati. Aksi pengamanan semakin diperketat semenjak peristiwa penembakan Paulus Tedja Kusuma, rekannya yang menjabat Direktur Keuangan PT Asaba, Juni lampau [baca: Direktur PT Asaba Ditembak]. Seorang kerabat korban mengungkapkan, keluarga kaya ini menyewa sekitar tujuh anggota TNI, yang dipakai bergantian menemani setiap anggota kelurga ke mana pun mereka pergi.

Perjalanan dari rumah sampai ke gedung olah raga aman-aman saja. Setibanya di lokasi pun masih adem ayem. Tapi, saat sang pengawal pribadi keluar mobil untuk membukakan pintu sebelah kiri bagi Boedyharto, tiba-tiba serentetan peluru menghantam lelaki itu sampai tewas seketika. Tepat mengenai bagian kanan kepala, leher, dan dada. Menyaksikan itu, Boedyharto langsung berusaha melarikan diri lewat pintu kanan mobil. Sialnya, dia kalah sigap dengan si penembak gelap. Beberapa langkah menjauh dari mobil, sang penembak berhasil menyarangkan timah panas di kepala, dada, punggung, dan lengan Boedyharto sampai meregang nyawa.

"Anggota [tentara] dulu yang dihajar, soalnya kan punya senjata. Pas dia tahu bosnya lari, langsung dikejar dan dihajar [ditembak]. Ada sekitar 100 meteran lah," kata seorang saksi mata. Kepolisian Metro Penjaringan Jakut yang pertama kali menangani kasus ini mendapati sejumlah barang bukti di tempat kejadian perkara. Antara lain sembilan selongsong peluru kaliber sembilan milimeter dari pistol jenis FN-45 berikut proyektilnya.

Jenazah kedua korban lantas dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat untuk diotopsi. Setelah itu, oleh keluarga masing-masing, jasad Boedyharto disemayamkan di Rumah Duka Rumah Sakit Dharmais, Jakbar. Sedangkan mayat Edi dijemput keluarga untuk segera dimakamkan di Bandung, Jawa Barat. Jenazah Boedyhartono baru dikebumikan tiga hari setelah kejadian, di Tempat Pemakaman Umum Jati Petamburan, Jakpus, dengan dihadiri sekitar 1.000-an pelayat [baca: Jenazah Dirut PT Asaba Dimakamkan].

Berbagai spekulasi pun muncul mewarnai kasus ini. Namun dari keterangan beberapa kerabat dekat Boedyharto, pelaku merujuk pada satu nama: Gunawan Santoso alias Acin alias Lukman Nurhadi. Dia adalah mantan menantu korban yang bercerai dengan putrinya Alice Gunawan pada 1996 [baca: Dirut Asaba Diduga Dibunuh Mantan Menantu]. "Saya yakin betul bahwa pembunuhan terhadap Boedyharto dilakukan mantan menantunya Gunawan. Sebab, pada waktu bersama saya, dia [Gunawan] pernah mengatakan akan menghabisi tiga orang: Boedyharto, Paulus, dan Stephen Hartono, anak Boedyharto, jika mereka mengeksekusi vila di Cidahu [Sukabumi, Jabar]," beber Fauzie, seorang kolega korban. Tak tanggung-tanggung, ancaman itu menargetkan kematian korban. "Karena itu kepala selalu jadi sasaran [tembak]," tambah Fauzie.

Eksekusi yang dimaksud berkaitan dengan kasus korupsi yang dituduhkan pada Gunawan. Kala itu Gunawan tercatat bekerja pada PT Asaba. Namun pada 1996, dia dilaporkan ke polisi oleh Paulus karena disinyalir menyelewengkan uang PT Asaba sebesar Rp 40 miliar. Di pengadilan, tuduhan itu terbukti benar dan pria yang dikabarkan pernah terlibat kasus mobil mewah di Amerika Serikat itu pun dijatuhi hukuman enam tahun penjara.

Gunawan sempat mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Salemba, Jakpus. Kemudian dipindahkan ke LP Sukamiskin, Bandung, dan terakhir menghuni LP Kuningan, Jabar. Beredar kabar, pemindahan ini dilakukan atas permintaan Gunawan sendiri, karena menurutnya Boedyharto telah mengirimkan utusan-utusannya ke penjara untuk membunuh Gunawan. Namun baru dua tahun menjalani hukuman kurungan atau pada Januari silam, lelaki itu sukses melarikan diri dari sel Kuningan dan sampai sekarang belum tertangkap. "Kalau dalam waktu dekat Gunawan tak tertangkap, sudah pasti korban berikutnya akan berjatuhan," keluh Fauzie.

Keterangan tersebut tentu saja tak otomatis memutus Gunawan buat menyandang status tersangka. Sebab, menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Prasetyo, untuk menyimpulkan bahwa Gunawan-lah sang pelaku, diperlukan bukti dan kesaksian yang akurat. Sejauh ini, Polda Metro Jaya yang sudah bekerja sama dengan Kepolisian Resor Metro Jakut dan Polsek Penjaringan serta masih terus memeriksa saksi serta barang bukti, belum bisa menemukan sosok tersangka. Tapi mereka mengakui ada kemiripan pembunuhan Boedyharto dengan kasus penembakan Paulus. "Teknik penembakannya sama. Kita tunggu, apakah jenis pelurunya sama. Jika ya, maka pelakunya kemungkinan hampir sama," kata Prasetyo.

Sementara itu, menyangkut dugaan keterlibatan anggota TNI dalam kasus ini, Polri yang bekerja sama dengan Pusat Polisi Militer masih menyelidiki kemungkinan tersebut [baca: TNI Desertir Kemungkinan Terlibat Pembunuhan Dirut Asaba]. "Indikasi awalnya baru ditemukan selongsong kaliber sembilan milimeter. Memang kalau dilihat, itu standar TNI. Tapi senjata itu sekarang kan banyak dipegang sipil," kilah Komandan Puspom TNI Mayor Jenderal Sulaiman. Kepala Badan Reserse Kriminal Markas Markas Besar Polri Komisaris Jenderal Polisi Erwin Mapassang pun mengakui kemungkinan hubungan antardua kasus tersebut. "Untuk sementara kita melihat kedua kasus itu parsial. Tapi berdiri sendiri. Belum terorganisir," ungkap dia.

"Polisi kecolongan!" seru Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Inspektur Jenderal Polisi Farouk Muhammad menanggapi persoalan ini. Hal itu, nilai dia, terjadi tak lain akibat kinerja Polri yang cenderung menggunakan pola lama dalam penanganan suatu kasus. Menurut dia, sudah tak zaman lagi polisi cuma bertugas menerima laporan setelah itu ditinggalkan semaunya. "Seharusnya semua penyidik atau petugas yang diberi tanggung jawab mengungkap suatu kasus punya progress. Sampai di mana dan apa hambatannya. Ini yang harus dikejar, baik yang bersangkutan maupun atasannya," saran Farouk.

Namun, Farouk yang anggota Dewan Direksi Jurnal Ilmiah Hukum Legality Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur, ini tak dapat menyembunyikan keheranannya atas perkara kematian Boedyharto. "Kenapa korban berada dalam perlindungan rekan kita dari unsur TNI? Walaupun dikatakan secara individu. Kenapa tidak minta [bantuan] kepada polisi," kata dia. Pejabat yang juga pernah menulis buku soal penegakan hukum bidang lalu lintas ini meninjau ulang, jika dulu Boedyhartono meminta pengamanan pada polisi, pastilah dikabulkan. Pengamanan tersebut sedianya bisa dilaksanakan berbarengan dengan kasus penembakan Paulus.

Kasus ini pun disimak para pengamat dunia kriminal. Yang terpenting, usul kriminolog Mulyana W. Kusumah, Polri harus menerapkan pola penyelidikan menyeluruh dalam menangani kasus ini. "Kumpulkan informasi lebih detil dan jangan terhambat ketertutupan sejumlah pihak, termasuk dari lingkungan sosial dan kerja korban. Baru kemudian direkonstruksi dan ditentukan arah dugaan terkuat," tambah pengajar Universitas Indonesia ini. Ya, semoga komplotan pelaku cepat dibekuk.(MTA/Tim Derap Hukum SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya