Euro Diusulkan Mengganti Dolar AS dalam Perdagangan

Negara yang memakai dolar AS dalam transaksi luar negeri akan gampang terpengaruh perubahan suku bunga dan inflasi yang kini melanda AS. BBM belum akan naik. Sektor pertanian tak terpengaruh perang.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 Maret 2003, 08:18 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Agresi militer Amerika Serikat ke Irak tak urung mempengaruhi tingkat suku bunga dan nilai mata uang dolar AS di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang tersebut pun berubah-ubah. Akibatnya, transaksi dagang Indonesia di pasar internasional yang notabene menggunakan dolar AS jadi terombang-ambing. Agar masalah tersebut tak berkelanjutan--karena perang AS dan Irak diperkirakan masih lama--mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli mendesak pemerintah mengganti dolar AS menjadi euro sebagai alat tukar perdagangan luar negeri. "Hal itu penting karena kalau tidak, berarti negara-negara ketiga memberi kekuatan imperialisme di bidang ekonomi pada AS,"kata Rizal di Jakarta, Sabtu (29/3).

Dari segi politik, Rizal menganalisa, serangan AS ke Irak jelas-jelas adalah bukti ambisi kolonialisme pemerintahan Presiden AS George Walker Bush terhadap negara lain. Tindakan tersebut harus ditentang sekeras-kerasnya, kata Rizal, karena bertentangan dengan ide awal pendirian negara Indonesia yang menghormati kedaulatan bangsa lain. Lagipula, lanjut dia, pemakaian mata uang lain dalam transaksi dagang internasional akan mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia terhadap Negara Adidaya itu.

Pengamat industri minyak Kurtubi juga mengamini. Menurut dia, jika semakin banyak negara melepas dolar AS sebagai alat transaksi dagang internasionalnya, maka kurs dolar AS akan melemah. Kondisi tersebut jelas menguntungkan Indonesia karena dengan demikian, utang luar negeri jadi lebih murah, ulasnya.

Indonesia bukan yang pertama menggagas peralihan mata uang dolar AS ke euro dalam berdagang. Setidaknya Iran kini sedang mempertimbangkan pemakaian mata uang yang baru resmi diluncurkan empat tahun silam itu dalam jual beli minyak dan gas negaranya. Negara kaya minyak itu menyatakan, kemungkinan hanya akan menerima pembayaran minyak mentahnya dalam mata uang euro. Irak lewat Presidennya Saddam Hussein, bahkan sudah memutuskan memakai euro sejak November 2000 dan saat ini terbukti sudah memperoleh keuntungan dari selisih kurs euro terhadap dolar AS. Hal itu pulalah yang disinyalir sebagian pengamat sebagai cikal bakal mandat Bush menghabisi Negeri 1001 Malam [baca: Agresi AS ke Irak Didasari Motif Ekonomi].

Wacana penukaran alat transaksi dagang internasional memang menarik. Sejauh ini, pemerintah menyatakan akan mengkaji ide tersebut dan berharap bisa dijadikan solusi terhadap sensitifnya nilai tular rupiah terhadap dolar AS. Lebih jauh, pemikiran tersebut dianggap bisa meredam ketimpangan ekonomi dunia yang sangat terpengaruh fluktuasi mata uang dolar AS.

Perang AS-Irak sampai kini dinilai belum berdampak pada harga bahan bakar minyak di Tanah Air. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Sabtu kemarin, menyatakan pemrintah masih tetap dalam perhitungannya untuk tak menaikkan harga BBM [baca: Harga BBM Dipastikan Tak Naik]. Alasannya, harga minyak di pasaran dunia belum stabil. "Jadi kebijakan soal perminyakan tak gegabah diputuskan. Tunggu sampai stabil," papar Purnomo. Dia juga menjelaskan, kondisi ini juga dipengaruhi dampak pemogokan perusahaan minyak di Nigeria beberapa waktu silam yang menyebabkan suplai minyak ke pasaran dunia berkurang.

Di lain pihak, tak seperti industri tekstil yang terpuruk gara-gara perang AS-Irak, sektor pertanian tampaknya malah masih adem-adem saja [baca: Ekspor Tekstil Terhambat, Pabrik akan Berguguran]. Menteri Pertanian Bungaran Saragih menyatakan, bisnis tersebut hanya akan terganggu jika perang berlangsung lama. Dan bila hal itu terjadi, pemerintah sudah mengantisipasinya dengan memanfaatkan pangsa pasar dalam negeri. Lagipula, lanjut Bungaran, pangsa pasar terbesar pertanian Indonesia adalah negara-negara Asia dan Eropa. Sedangkan untuk tujuan negara-negara Timur Tengah tak begitu besar. "Kalau perang lama, untuk sementara kita bisa manfaatkan ekspor ke Cina dan Australia. Masih banyak kesempatan, jangan terlalu pesemis lah," ungkap dia.(MTA/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya