Prabowo: Sekarang Masa Kritis, Apakah Kita Survive, Degradasi, atau Bahkan Disintegrasi

Prabowo bersyukur hingga saat ini bangsa Indonesia masih bisa bersatu.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 16 Agustus 2021, 18:35 WIB
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto (kiri) mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/11/2019). Rapat perdana Komisi I bersama Menhan Prabowo ini membahas rencana kerja dan anggaran Kementerian Pertahanan Tahun 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto memuji kecermelangan generasi para pendiri bangsa yang tidak memilih bahasa mayoritas sebagai bahasa kebangsaan. Menurutnya, hal itu berhasil untuk menghindari perpecahan.

"Kecermelangan selanjutnya adalah generasi tersebut tidak memilih bahasa mayoritas sebagai bahasa kebangsaan. Di banyak negara, ini masih menjadi masalah, bahkan di Eropa saja sebentar lagi negara kerajaan seperti Belgia akan pecah karena tidak sepakat bahasa kebangsaan mereka, apakah pakai bahasa Perancis atau Belanda," kata Prabowo dalam acara 50 tahun CSIS secara virtual, Senin (16/8/2021).

Menteri Pertahanan ini mengatakan, bahwa Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa dan jumlah penduduknya keempat terbesar di dunia. Dia bersyukur hingga saat ini bangsa Indonesia masih bisa bersatu.

"Alhamdulillah besok ulang tahun kita ke-76 dan banyak ahli ahli sejarah membuat research dan mengatakan saat saat paling kritis dalam sejarah bangsa adalah antara 70 sampai 100 tahun, ya kita sekarang berada di masa masa kritis itu, apakah kita survive seterusnya sebagai bangsa atau kita mengalami suatu degradasi, bahkan bisa bisa disintegrasi," tuturnya.

 

Tak Paksakan Bahasa Mayoritas

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (11/11/2019). Rapat perdana Komisi I bersama Menhan Prabowo ini membahas rencana kerja dan anggaran Kementerian Pertahanan Tahun 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Prabowo menambahkan, kecemerlangan yang diberikan para pendiri bangsa tidak boleh dilupakan. Kata dia, para pendiri bangs telah arif dan bijak tidak memaksakan bahasa mayoritas menjadi bahasa kebangsaan.

"Jadi kehebatan kita, kecermerlangan kita tidak boleh kita lupakan. Juga sebaliknya jangan kita anggap dengan sendirinya itu datang, we cannot take it for granted, bahwa satu kita pendiri bangsa kita telah begitu arif begitu bijak tidak memaksakan bahasa mayoritas menjadi bahasa kebangsaan," pungkasnya.

Reporter: Genan Kasah

Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya