Rudi Soedjarwo: Dunia Remaja Tak Bisa Dilupakan

Dengan mengangkat tema remaja, film <i>Ada apa dengan Cinta</i> mendapat sambutan luar biasa. Dengan pemain-pemain baru, Rudi Soedjarwo ingin menghidupkan kembali industri film Tanah Air.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 Februari 2002, 03:00 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Pasar remaja telah lama dilupakan para pembuat film layar lebar. Padahal dunia itu dipenuhi orang-orang dengan antusiasme dan berenergi tinggi. "Bagi saya, dunia remaja tak bisa dilupakan karena di saat itu kita jatuh cinta dan menemukan sahabat-sahabat," ujar Rudi Soedjarwo, sutradara Ada apa dengan Cinta dalam dialog dengan Indy Rahmawati di Studio Liputan 6 SCTV, Ahad (24/2) siang.

Rudi merasa beruntung bisa membuat film yang direspon dengan baik oleh masyarakat. Film yang diputar sejak 8 Februari silam di 10 kota besar di Indonesia ini mampu menyedot banyak penonton terutama kalangan remaja. Keingintahuan mereka tampak dari antrean panjang di depan loket pada seluruh jam pertunjukkannya. Bayangkan saja, film yang menghabiskan dana Rp 4 miliar itu telah meraup Rp 2,5 miliar selama lima hari tayang.

Selain didukung sejumlah aktor dan aktris film muda berbakat seperti Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal dan Nicholas Saputra, Rudi juga dibantu oleh produser Mira Lesmana dan Riri Riza, penulis skenario Jujur Prananto, serta editor Dewi S.Alibasah. Anak bungsu mantan Kapolri (almarhum) Jenderal Polisi Anton Soedjarwo ini menuturkan tak menemui hambatan berarti selama proses produksi sejak Juni 2001. "Semua lancar, kami memilih para pemain secara selektif," ujar pria berambut cepak ini.

Sutradara film Bintang Jatuh dan Tragedy itu mengungkapkan para pemain bisa berakting bagus melalui latihan serius dan syuting intens. Mereka berlatih berdialog selama tiga bulan untuk membawakan karakter masing-masing. "Pada saat syuting, mereka sudah di dunia seperti di skenario itu," ujar pria kelahiran Bogor, Jawa Barat, 9 November 1971 ini.

Rudi berkeinginan menghidupkan kembali industri film Indonesia. Karena itu, tak ada bintang tenar di A2DC. Sebaliknya pemain-pemain baru diberi kesempatan. Pemilihan Dian Sastro, kata pemilik nama lengkap Rudianto Soedjarwo ini, bukan semata-mata karena pernah bekerja sama dalam Bintang Jatuh. Kemampuan akting mahasiswi jurusan filsafat Universitas Indonesia itu cukup teruji.

Menurut Rudi, pengambilan gambar memerlukan perhatian khusus karena film yang digunakan dari pita seluloid 35 milimeter yang harganya mencapai jutaan dolar AS. Alumnus SMA Gonzaga Jakarta 1990 itu menuturkan pengalamannya bersekolah di Negeri Paman Sam cukup membantu proses pembuatan film. Cuma saja, lulusan Academy of art College di San Fransisco, Amerika Serikat ini tetap mengacu pada film-film Indonesia masa lampau.

Penggunaan puisi dalam A2DC, kata Rudi, bukan hanya tempelen tapi untuk mempersatukan karakter Cinta dan Rangga. Selain bagus secara artistik dan tema, dia juga ingin film ini bernuansa puitis. "Saya berharap penonton terhiptonis secara emosional. Untuk kalangan remaja, mereka bisa terinspirasi dengan karakter Cinta," kata lulusan manajemen San Diego State University ini.

Film drama percintaan remaja yang mengambil setting masa kini itu bercerita tentang dua anak SMU dari latar belakang berbeda. Cinta yang diperankan Dian Sastrowardoyo adalah sosok remaja yang memiliki segalanya dan kehidupan yang nyaris sempurna. Dengan puisi, Cinta dipertemukan dengan Rangga yang diperankan Nicholas Saputra, seorang remaja angkuh, dingin, penyendiri dengan latar belakang keluarga broken home.

Meski hubungan keduanya penuh pertentangan, kedua remaja itu tak mampu menolak tumbuhnya cinta. Kisah kasihnya dengan Rangga telah mengantarkan Cinta ke dalam sebuah dunia baru. Perlahan-lahan Cinta berubah menjadi orang asing dimatanya sendiri maupun sahabat-sahabatnya. Perkembangan karakter dalam diri Cinta sebenarnya menunjukkan seseorang tanpa sadar bisa berubah saat dihadapkan untuk memilih. Penonton yang bisa menilai si tokoh atau lingkungan sekitar yang berubah.(COK)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya