Liputan6.com, Jakarta: Terlahir dengan keterbatasan fisik dan mental bukanlah akhir segalanya. Hee Ah Lee, gadis asal Korea yang dilahirkan dengan empat jari, kaki yang tidak utuh, dan mengalami keterbelakangan mental justru menunjukan semangat hidup sebagai pianis. Hee Ah tumbuh menjadi gadis yang mahir bermain paino dan terkenal di pentas dunia.
Tampil dalam konser di Jakarta, Sabtu (31/3) malam, Hee Ah Lee benar-benar membuktikan kekuatan cinta telah mewujudkan impian yang mungkin bagian sebagian orang dianggap mustahil. Salah satu lagu yang dibawa dalam pertunjukkan bertema Sharing The Strength Of Love adalah Love Story.
Konser pertama Hee Ah di Jakarta ini dipadati penonton dari berbagai kalangan. Penampilan penuh percaya diri gadis 22 tahun ini menggugah semangat dan menumbuhkan inspirasi baik para ibu maupun anak-anak.
Kehebatan Hee Ah lee bermain piano tidak diraih dalam waktu semalam. Ia berlatih 15 tahun sejak usianya baru tujuh tahun. Dalam satu hari dia melatih empat jarinya menekan tuts piano selama 13 jam bersama ibunya, Woo. Butuh kerja keras mengajari Hee Ah karena ia tak sanggup memegang sebatang pensil.
Awalnya Woo frustasi karena tak ada piano khusus untuk orang cacat. Tapi, kegigihan dan ketabahan berbuah manis. Not balok yang begitu sulit dibaca, sedikit demi sedikit sanggup diterjemahkan Hee Ah.
Woo saat mengandung sudah merasa bahwa Hee Ah lee akan lahir dalam keadaan cacat. Pasalnya Woo terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan. Namun di mata Woo, tangan Hee Ah yang berjari empat justru terlihat lebih indah.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
Tampil dalam konser di Jakarta, Sabtu (31/3) malam, Hee Ah Lee benar-benar membuktikan kekuatan cinta telah mewujudkan impian yang mungkin bagian sebagian orang dianggap mustahil. Salah satu lagu yang dibawa dalam pertunjukkan bertema Sharing The Strength Of Love adalah Love Story.
Konser pertama Hee Ah di Jakarta ini dipadati penonton dari berbagai kalangan. Penampilan penuh percaya diri gadis 22 tahun ini menggugah semangat dan menumbuhkan inspirasi baik para ibu maupun anak-anak.
Kehebatan Hee Ah lee bermain piano tidak diraih dalam waktu semalam. Ia berlatih 15 tahun sejak usianya baru tujuh tahun. Dalam satu hari dia melatih empat jarinya menekan tuts piano selama 13 jam bersama ibunya, Woo. Butuh kerja keras mengajari Hee Ah karena ia tak sanggup memegang sebatang pensil.
Awalnya Woo frustasi karena tak ada piano khusus untuk orang cacat. Tapi, kegigihan dan ketabahan berbuah manis. Not balok yang begitu sulit dibaca, sedikit demi sedikit sanggup diterjemahkan Hee Ah.
Woo saat mengandung sudah merasa bahwa Hee Ah lee akan lahir dalam keadaan cacat. Pasalnya Woo terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan. Namun di mata Woo, tangan Hee Ah yang berjari empat justru terlihat lebih indah.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)