Liputan6.com, Jakarta: Cerita rakyat Malin Kundang kembali dipentaskan dalam bentuk opera. Kendati telah dipentaskan berulang kali dengan beragam versi, kisah Malin Kundang yang mengisahkan kedurhakaan seorang anak pada ibunya --diperankan Titiek Puspa-- tetap menarik untuk ditonton. Selain itu, cerita ini juga dapat dipetik sebagai pelajaran yang berharga.
Di dalam opera diceritakan, Malin Kundang adalah anak seorang perempuan miskin yang menjadi saudagar kaya setelah beristrikan wanita rupawan. Celakanya, Malin yang sudah kaya dan kerap mengenakan pakaian mewah lupa dengan ibunya yang tetap miskin. Meski begitu, sang ibu tak pernah lupa dengan Malin, yang mempunyai bekas luka di pipinya.
Namun, malang bagi sang ibu. Malin tetap menolak mengakuinya. Bahkan, Malin tega menyakiti hati dan tubuh sang ibu, meski sang istri telah memperingatkan Malin agar mengakui ibunya. Sang ibu yang terluka lahir dan batin akhirnya meminta kepada Sang Pencipta agar memberi kutukan kepada Malin. Tak lama kemudian, Malin pun menjadi batu.
Cerita Malin tetap menarik untuk dipetik sebagai pelajaran. Seorang anak janganlah mengingkari sang ibu yang telah melahirkan dengan susah payah. Sebab, doa seorang ibu yang dipanjatkan dengan kesungguhan hati dapat dipastikan selalu menjadi kenyataan.(ULF/Trie Ambarwati dan Gatot Setiawan)
Di dalam opera diceritakan, Malin Kundang adalah anak seorang perempuan miskin yang menjadi saudagar kaya setelah beristrikan wanita rupawan. Celakanya, Malin yang sudah kaya dan kerap mengenakan pakaian mewah lupa dengan ibunya yang tetap miskin. Meski begitu, sang ibu tak pernah lupa dengan Malin, yang mempunyai bekas luka di pipinya.
Namun, malang bagi sang ibu. Malin tetap menolak mengakuinya. Bahkan, Malin tega menyakiti hati dan tubuh sang ibu, meski sang istri telah memperingatkan Malin agar mengakui ibunya. Sang ibu yang terluka lahir dan batin akhirnya meminta kepada Sang Pencipta agar memberi kutukan kepada Malin. Tak lama kemudian, Malin pun menjadi batu.
Cerita Malin tetap menarik untuk dipetik sebagai pelajaran. Seorang anak janganlah mengingkari sang ibu yang telah melahirkan dengan susah payah. Sebab, doa seorang ibu yang dipanjatkan dengan kesungguhan hati dapat dipastikan selalu menjadi kenyataan.(ULF/Trie Ambarwati dan Gatot Setiawan)