Liputan6.com, Jakarta:/font> Buku Detik-Detik Yang Menentukan yang ditulis mantan presiden B.J. Habibie laku keras baik di toko buku maupun di Habibie Center. Setelah buku berdasarkan diari ini diluncurkan, ayah dua anak itu punya kesibukan baru. Sejak Selasa hingga Sabtu depan, Habibie sibuk meneken buku-bukunya di Kantor Habibie Center di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Habibie dengan sabar melayani permintaan tanda tangan. Presiden ketiga RI ini juga menulis nama pembeli pada halaman buku yang ditulisnya. Pembeli buku juga berharap dapat berfoto bersama dengan ahli pesawat terbang ini.
Habibie mengatakan, bukunya baru mengungkap sekitar 70 persen sejarah politik saat dia menjadi presiden. Dia mengaku belum waktunya untuk mengupas semuanya. "Saya tidak mau mengeluarkan sesuatu yang menghalangi jalannya demokratisasi," kata dia.
Detik-Detik Yang Menentukan diluncurkan 22 September silam []. Buku setebal 550 halaman ini laris manis. Padahal, harga jual buku Rp 150 ribu. Cetakan pertama 5.000 eksemplar langsung habis dan dicetak ulang 20.000 eksemplar. Kini, sedang dicetak 20.000 eksemplar lagi, termasuk dalam edisi bahasa Inggis.
Salah satu bagian yang kontroversial dalam buku ini adalah pertemuan Habibie yang baru dilantik menjadi Presiden dengan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Prabowo Subianto. Dalam bukunya Habibie menulis waktu itu Prabowo meminta jabatan Panglima ABRI. Namun, Habibie menolak.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Habibie dengan sabar melayani permintaan tanda tangan. Presiden ketiga RI ini juga menulis nama pembeli pada halaman buku yang ditulisnya. Pembeli buku juga berharap dapat berfoto bersama dengan ahli pesawat terbang ini.
Habibie mengatakan, bukunya baru mengungkap sekitar 70 persen sejarah politik saat dia menjadi presiden. Dia mengaku belum waktunya untuk mengupas semuanya. "Saya tidak mau mengeluarkan sesuatu yang menghalangi jalannya demokratisasi," kata dia.
Detik-Detik Yang Menentukan diluncurkan 22 September silam []. Buku setebal 550 halaman ini laris manis. Padahal, harga jual buku Rp 150 ribu. Cetakan pertama 5.000 eksemplar langsung habis dan dicetak ulang 20.000 eksemplar. Kini, sedang dicetak 20.000 eksemplar lagi, termasuk dalam edisi bahasa Inggis.
Salah satu bagian yang kontroversial dalam buku ini adalah pertemuan Habibie yang baru dilantik menjadi Presiden dengan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal Prabowo Subianto. Dalam bukunya Habibie menulis waktu itu Prabowo meminta jabatan Panglima ABRI. Namun, Habibie menolak.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)