Kipas Sentuhan Bali Buatan Nyoman Sukantha

Kipas I Nyoman Sukantha diberi sentuhan tradisional khas Bali seperti barong dan beraneka bunga berhiaskan warna-warni. Produk kipas warga Sesetan, Denpasar, Bali ini merambah ke berbagai wilayah Nusantara.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 September 2005, 09:22 WIB
Liputan6.com, Denpasar: Siapa tak kenal kipas. Alat pengusir rasa gerah yang dilipat ini ternyata mampu bersaing dengan produk impor. Caranya, kipas lokal diberi sentuhan tradisional berhiaskan warna-warni. Hal ini dibuktikan I Nyoman Sukantha. Warga Sesetan, Kota Denpasar, Bali, kini mampu memasarkan produknya tak hanya di Pulau Bali. Tapi juga beredar ke beberapa wilayah di Indonesia.

Namun cerita sukses I Nyoman Sukantha tak diraih dalam sehari. Semula, perajin ini seperti rekan-rekan sedesanya hanya pasrah dengan hasil kipas yang diproduksi sederhana itu. Apalagi kipas dari luar negeri sudah beredar di Pulau Dewata sehingga membuat produk mereka kalah bersaing. Selain itu, membuat kipas bernilai tinggi dengan memberi nilai tambah juga bukan hal yang gampang. Tak heran bila kondisi ini membuat jumlah perajin kipas kini hanya puluhan saja dibanding sebelumnya yang mencapai dua ratusan lebih.

Tapi I Nyoman Sukantha pantang menyerah dengan kondisi ini. Setelah mengamati kipas impor, lelaki ini sadar produknya punya keunggulan. Kipas Nyoman mempunyai kelebihan dari bahan baku kayu eboni dan cendana yang tak dimiliki produk impor. Tinggal memberi sentuhan bisa menjadi nilai plus di pasaran. Perajin yang sudah menggeluti usaha sejak 1978 ini lalu mengubah corak kipas. Sejak beberapa tahun belakangan produk kipas Nyoman tak lagi sederhana. Dia menambah corak barong dan hewan khas Bali lain pada produknya. Selain itu dia juga menghiasi dengan beraneka bunga khas Bali.

Hasilnya cukup memuaskan. Sukantha kini dapat memproduksi 200-an kipas sehari. Harganya pun bervariasi antara Rp 7.500 hingga Rp 500 ribu, tergantung corak dan bahan yang digunakan. Sepertinya Nyoman tak perlu kecewa dengan pemerintah setempat yang tak mempedulikan produk yang dikembangkan para perajin lokal.(MAK/Aries Wicaksono)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya