Sukses

Kaspersky: Hati-Hati dengan Data Pribadi yang Dibagikan ke Medsos

Liputan6.com, Jakarta - Kaspersky menyarankan ke pengguna internet untuk selalu berhati-hati dalam membagikan data pribadi ke media sosial.

Perusahaan keamanan siber ini menyebut, memberikan terlalu banyak informasi di media sosial bisa memudahkan penjahat siber untuk mengumpulkan informasi tentang seseorang.

Berikut adalah sejumlah tips Kaspersky untuk memaksimalkan privasi online tetap terjaga dengan baik.

- Hindari publikasikan informasi tentang rencana perjalanan yang akan datang. Hal ini bisa mengingatkan kepada orang-orang bahwa kamu akan berada jauh dari rumah.

- Hindari mengungkap terlalu banyak informasi seperti tanggal lahir atau tempat kerja di media sosial. Hindari juga untuk mengunggah alamat rumah atau nomor telepon di forum publik mana pun.

- Periksa apakah medsos yang kamu pakai menambah data lokasi pada unggahan. Jika iya, matikan pengaturan ini. Pada dasarnya, membagikan lokasi secara publik merupakan hal yang tidak perlu.

- Hindari mengikuti kuis trivia yang sesekali beredar di media sosial. Pasalnya sering kali dapat menanyakan pertanyaan seperti hewan peliharaan favorit atau nama sekolah.

Jenis pertanyaan ini seringkali digunakan sebagai pertanyaan keamanan, jadi memberikan jawaban ini kepada publik mempermudah peretas untuk membobol akun online kamu.

- Hati-hati dengan hadiah, giveaway, dan kontes. Meski banyak yang sah, beberapa merupakan penipuan terselubung.

Dengan membagikannya ke media sosial, kamu bisa menyebarkan malware tanpa disadari, atau menjebak orang memberikan data sensitif mereka.

2 dari 3 halaman

Ajak Pengguna Amankan Perangkat

Kaspersky juga mengajak pengguna untuk mengamankan perangkat seluler mereka, caranya:

- Pastikan memiliki kode sandi atau password yang tidak mudah ditebak untuk mengakses ponsel kamu. Pastikan untuk selalu mengunduh aplikasi atau gim hanya dari toko aplikasi yang sah.

- Jangan melakukan jailbreak atau root perangkat kamu. Hal tersebut memberi peretas cara untuk menimpa pengaturan kamu dan menginstal perangkat lunak berbahaya milik mereka.

- Pertimbangkan download aplikasi yang bisa menghapus semua data ponsel dari jarak jauh jika ponsel dicuri. Dengan begitu, kamu bisa menghapus informasi pribadi dengan mudah.

- Selalu update software apa pun, dan hati-hati ketika mengklik tautan online.

- Pasang solusi gabungan produk keamanan untuk meminimalkan ancaman dan menjaga data tetap aman saat online

3 dari 3 halaman

Masyarakat Asia Tenggara Beralih ke Non-tunai

Tips keamanan ini dibagikan karena dalam survei mengenai keamanan digital Kaspersky mengungkap bahwa beberapa masih ada pengguna di Asia Tenggara yang membagikan data pribadi mereka di media sosial.

Meski begitu, ada cukup banyak pengguna internet yang memilih untuk tidak membagikan informasi keuangan (76 persen) dengan 68 persen generasi muda memilih tidak menyimpan kredensial keuangannya secara online.

Para pengguna internet di Asia Tenggara juga memilih tidak membagikan identitas pribadi mereka (69 persen), informasi tentang keluarga dekat (64 persen), keberadaan mereka/geotag (54 persen), dan pekerjaan (47 persen) di media sosial.

Responden di Asia tenggara juga mengaku khawatir jika ada data berharga yang dicuri oleh penjahat siber (71 persen) dan orang yang tidak dikenal (61 persen).

Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Chris Connell mengungkap, krisis kesehatan mempercepat upaya non-tunai di Asia Tenggara secara signifikan.

"Fenomena ini disambut dengan baik, melihat pengguna kini mulai mempertimbangkan data mana yang bisa mereka bagikan secara online dan mana yang tidak. Sebagian masyarakat juga menyadari, penjahat siber dan orang asing tidak boleh mendapatkan informasi penting tersebut," tutur Connell dalam keterangan Kaspersky, Senin (3/5/2021).

Meski sudah sadar dengan keamanan siber, hanya 5 dari 10 responden yang memeriksa dan rutin mengungah pengaturan privasi perangkat, aplikasi, dan layanan. Selain itu, hanya 4 dari 10 yang menghindari penggunaan software ilegal.

Menurut Connell, Kaspersky melihat bahwa ini merupakan awal dari perjalanan digital Asia Tenggara.

"Dapat dimaklumi bahwa beberapa orang mungkin masih merasa takut dan tidak yakin ketika mereka menggunakan layanan pembayaran seperti pembayaran digital karena relatif baru. Inilah mengapa penting untuk mewujudkan kesadaran dalam bentuk tindakan," tuturnya.

(Tin/Ysl)

BERANI BERUBAH: Takjil Drive Thru Masjid Al Azhar