Sukses

Solusi Atasi Kesenjangan Keterampilan Teknologi di Era Digital

Liputan6.com, Jakarta Kemajuan teknologi seharusnya memang berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Itu karena teknologi yang hadir saat ini, sangat membantu masyarakat dalam meningkatkan perekonomiannya. 

Coba cek saja, selama pandemi cara berdagang seperti apa yang paling efektif untuk dilakukan? Yup, pastinya transaksi yang dilakukan secara online bukan? 

Wajar bila saat ini Pemerintah mendorong masyarakat terutama UMKM untuk memiliki keterampilan teknologi dan digital yang mumpuni. Namun ada fakta yang sedikit disayangkan. 

Berdasarkan laporan IMD World Digital Competition pada 2020 diketahui bahwa Indonesia saat ini menjadi negara dengan peringkat paling rendah mengenai pengetahuan dan keahlian dalam menggunakan teknologi di seluruh dunia. Padahal keterampilan teknologi diperlukan, agar masyarakat dapat ambil bagian dari ekonomi digital yang semakin berkembang.

Lalu pertanyaannya sekarang, bagaimana caranya agar kesenjangan terkait penggunaan akses internet dan literasi digital bisa dipersempit. Nyatanya tak mudah memang, namun pasti selalu ada cara untuk mencapai level inklusif di mana semua orang dari latar belakang sosial, usia, dan tingkat pendapatan yang berbeda.

Tujuannya tak lain untuk mendapatkan kesempatan yang sama dan ikut berpartisipasi penuh sebagai anggota masyarakat melalui digitalisasi. Demikian dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Mira Tayyiba dalam sesi Diskusi Konektivitas dan Inklusi Sosial 1st Digital Economy Task Force Meeting G20 di Italia. 

Nah tak bisa dipungkiri sektor yang tergerus arus digital adalah UMKM yang notabene adalah penyokong perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah bersama stakeholder pun memberi perhatian khusus. 

 

2 dari 5 halaman

Cara Meredam Kesenjangan Keterampilan Teknologi

Sejak 2020, Pemerintah berusaha meningkatkan keterampilan digital UMKM dengan meluncurkan Program e-learning gratis EDUKUKM.id dan Program Kakak Asuh UMKM yang menyasar masyarakat yang ingin menjadi pelaku usaha digital, khususnya di e-commerce.

"Namun kita juga perlu kolaborasi dengan sektor swasta agar dampak positif ini bisa lebih luas dan cepat dirasakan oleh para UMKM," jelas Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. 

Menanggapi hal ini, perusahaan teknologi terdepan di Asia Tenggara Grab menyediakan solusi digitalisasi sekaligus membantu peningkatan keterampilan digital.

Neneng Goenadi, Country Managing Director Grab Indonesia mengatakan, saat ini banyak UMKM yang sudah tahu cara go-digital, tetapi kurang paham cara mengembangkan bisnis digital mereka. Padahal platform-nya sudah tersedia, namun lagi-lagi kemampuan dan kapasitas sumber daya manusianya belum ada. 

Nah, begini cara Grab membantu Pemerintah dan juga pelaku UMKM, dalam mempersempit kesenjangan teknologi di era digital, yaitu: 

3 dari 5 halaman

Reskilling UMKM dan Kisah Sukses Mereka

Reskilling UMKM menjadi langkah tepat untuk membantu para pelaku usaha bukan hanya untuk mengembangkan bisnisnya, tapi juga untuk pemulihan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu Menteri Teten menyarankan agar UMKM mendapatkan pembekalan keahlian di bidang teknologi informasi (IT). 

"Saat ini sudah ada pergeseran pemasaran produk UMKM dari offline ke online, namun jumlahnya baru mencapai 8 juta UMKM atau 13% dari seluruh UMKM. Setelah online pun, UMKM masih harus tetap dan akan bersaing dengan seluruh brand besar di platform digital."

Dilansir dari World Economic Forum, di masa yang akan datang dibutuhkan kemampuan menganalisis, kreativitas dan fleksibilitas sebagai keterampilan utama dalam bekerja, dan bisnis yang paling bersaing. Adalah mereka yang melakukan reskilling dan meningkatkan keterampilan. 

Maka dari itu, pada 2020, Grab melakukan berbagai program untuk membantu peningkatan keterampilan UMKM, misalnya melalui program GrabAcademy yang merupakan sebuah platform online bagi mitra pengemudi dan mitra merchant untuk belajar berbagai hal termasuk literasi digital dan literasi keuangan. 

Kemudian ada juga program Grab #TerusUsaha Akselerator yang memberikan pelatihan dan pendampingan bisnis bagi ratusan pelaku UMKM Indonesia untuk beradaptasi dengan teknologi di tengah ekonomi digital.

Hal ini diaplikasikan oleh Erna Sari (38) dan Eko Sulistyo (42). Ya, mereka merasakan manfaat dari reskilling dan penggunaan teknologi demi mengembangkan bisnisnya. Di tengah pandemi mereka memanfaatkan teknologi agar bisa berjualan online sehingga dapat menaikkan omzet.

Erna yang merupakan pemilik usaha Ayam Penyet Bandung dan Eko pemilik usaha Ayam Canton Soerabaja sebelumnya merasakan kesulitan dalam mengelola bisnis, mulai dari pencatatan keuangan, cara berpromosi, hingga berinovasi.

Erna menjelaskan bahwa pandemi memaksanya menutup lima gerai dan memberhentikan 12 karyawan karena mengalami penurunan omzet yang drastis. Tak ingin terus terpuruk, Erna mulai mencari tahu bagaimana caranya mempertahankan bisnis ini, yaitu dengan mengikuti Grab #TerusUsaha Akselerator 

"Selama mengikuti program pelatihan Grab #TerusUsaha Akselerator, saya mendapatkan kesempatan belajar langsung dari pakarnya dan menambah keahlian dalam mengelola usaha. Banyak sekali materi yang langsung saya terapkan ke dalam bisnis. Salah satunya adalah mengelola keuangan menggunakan aplikasi GrabMerchant serta digital marketing tentang bagaimana cara berpromosi dengan memanfaatkan media sosial," jelas Erna. 

Begitu pula dengan Eko Sulistyo yang mengikuti program pelatihan dan pendampingan Grab #TerusUsaha Akselerator. Eko mengaku menjadi lebih tahu tentang pentingnya kemasan produk yang menarik agar lebih diminati calon pembelinya. 

"Saya langsung mengubah logo serta kemasan Ayam Canton Soerabaja. Selain itu, saya sudah bisa melunasi hutang modal mendirikan usaha karena paham cara mengatur keuangan bisnis dan pengeluaran rumah tangga," ujar Eko.

4 dari 5 halaman

Reskilling Sektor Pekerja Lepas

Tidak hanya bagi UMKM, reskilling dari Grab juga membantu para pekerja lepas untuk meningkatkan keterampilan mereka. Nyai Dasimah (38) misalnya. Ibu rumah tangga ini ingin mencari penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarganya, dengan cara menjadi mitra pengemudi online. 

Nyai Dasimah tertarik dengan profesi ini karena waktu yang fleksibel, sehingga dia dapat membagi waktu antara bekerja dan mengurus keluarga. Namun bukan berarti di awal-awal menjalankan profesinya, Nyai Dasimah tidak kesulitan.  

Selama menjadi mitra pengemudi, Nyai Dasimah sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan orderan penumpang setiap harinya. Selain itu, ia juga belum memahami bagaimana cara mengelola keuangan. 

"Penghasilan dari ngojek banyak, jadi saya mau tahu caranya buat mengelola uang ini dengan baik," jelasnya.

Namun melalui program pelatihan GrabAcademy, Nyai mengikuti sejumlah pelatihan online yang diakses dari aplikasi mitra pengemudi dengan format video menarik, dimana setiap modul dapat diselesaikan dalam 8-10 menit.

Program yang dapat diikuti seluruh mitra pengemudi secara gratis ini memiliki beberapa topik yang dapat dipelajari, seperti perbaikan kualitas layanan, berkendara yang aman, menghindari dan mengatasi pelecehan seksual dan verbal, hingga pelatihan dalam mengelola keuangan dan pemanfaatan teknologi internet.

"Setelah mengikuti beberapa modul dari program pelatihan tersebut, saya sekarang fasih menggunakan digital wallet untuk menyisihkannya sebagai tabungan. Ada juga modul untuk belajar supaya bisa lebih memanfaatkan internet dan mengoperasikan Google. Hal ini sangat bermanfaat bagi saya yang merupakan seorang Ibu rumah tangga, terlebih saat ini kedua anak saya harus menjalani sekolah daring setiap harinya," ungkap Nyai Dasimah.

Lain cerita, Irwan Subandi (38) yang merupakan seorang mitra pengemudi GrabCar tertarik mengikuti program pelatihan GrabAcademy karena mengetahui salah satu materinya adalah mengenai pengelolaan keuangan. Awalnya, ia mengalami kesulitan dalam mengelola keuangan karena masih memiliki cicilan mobil.

"Sebelum mengikuti program pelatihan, saya tidak pernah tahu pentingnya menyiapkan dana darurat dan melakukan investasi. Ini sangat penting bagi saya selalu kepala keluarga," ujar Irwan Subandi. 

Ke depannya, Irwan berencana membagikan ilmu yang telah ia dapatkan kepada teman-teman lainnya. Saat ini ia sudah hampir menyelesaikan cicilannya tanpa kesulitan dan bisa menabung untuk pendidikan anaknya.

 

5 dari 5 halaman

Perluas Dampak Positif

Masih banyak pekerjaan rumah untuk memastikan UMKM dan pekerja lepas benar-benar bisa menikmati manfaat dari ekonomi digital. Namun, usaha untuk memberikan pelatihan keterampilan digital menjadi awal mula untuk memastikan lebih banyak orang bisa berkembang dengan teknologi. 

Neneng menambahkan, dengan bantuan teknologi digital banyak jumlah usaha dan bisnis yang bertahan dan berkembang di masa sulit seperti sekarang. Ditambah dengan reskilling diharapkan dapat meningkatkan kemampuan serta keahlian dalam produktivitas untuk bersaing dan mandiri di berbagai sektor. 

"Hal ini akan berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja dan mengurangi tingkat pengangguran, serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), yang pada akhirnya membantu memulihkan perekonomian negara," tutup Neneng.

 

 

(Adv)