Sukses

Pengadilan Tolak Gugatan Genius soal Teks Lirik di Hasil Pencarian di Google

Liputan6.com, Jakarta - Pengadilan negara bagian menolak gugatan Genius terhadap Google. Genius menuduh Google telah melanggar persyaratan penggunaan layanan Genius lantaran Google menyalin lirik dari laman Genius untuk ditampilkan pada hasil pencarian.

Selain itu, Genius menegaskan bahwa pihaknya telah menghabiskan sejumlah uang untuk melakukan transkripsi lirik lagu di layanannya melalui prosedur yang tepat. Genius juga meyakini bahwa apa yang Google lakukan menguntungkan Google sendiri.

"Tuduhan Penggugat bahwa Tergugat melakukan perayapan (scraping) dan menggunakan liriknya untuk mendapatkan keuntungan sama dengan tuduhan bahwa Tergugat mereproduksi transkripsi lirik milik Penggugat secara tidak sah dan mengambil keuntungan darinya," kata Hakim Margo Brodie dikutip dari Tech Crunch, Kamis (13/8/2020).

Menurut pengadilan, Genius bukanlah pemilik hak cipta atas lirik-lirik di layanan mereka. Hal itu pula yang membuat tuduhan Genius terhadap Google lebih tepat dikategorikan sebagai tuduhan pelanggaran undang-undang hak cipta di tingkat Federal.

"Mengingat bahwa Pengadilan menemukan bahwa semua klaim hukum negara bagian Penggugat didahului oleh Undang-Undang Hak Cipta [di tingkat Federal], dan Penggugat belum mengajukan klaim hukum federal, Pengadilan menolak Gugatan karena [Penggugat] gagal menyatakan klaim," ujar Hakim.

2 dari 3 halaman

Google Hadirkan Berbagai Tools Baru untuk Dukung Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi hal yang penting dilaksanakan seiring dengan pandemi Covid-19 yang belum mereda. Banyak institusi dan perusahaan mulai menghadirkan solusi untuk mempermudah PJJ, termasuk Google.

Google pun, mengembangkan tools yang memudahkan guru, pimpinan sekolah, keluarga dan siswa untuk belajar di rumah.

"Ketika para pengajar mengubah praktik mengajar menjadi online, kami pun menyesuaikan tools kami demi memenuhi kebutuhan mereka dalam situasi pendidikan yang baru ini," kata Product Manager for G Suite for Education, Zach Yeskel, dalam sebuah sesi media roundtable, Rabu (12/8/2020).

Zach mengatakan, solusi G Suite for Education dibuat untuk mendukung pembelajaran, di mana tools diciptakan untuk membantu proses belajar mengajar seperti di kelas.

Bahkan, Google mendengar langsung dari para pengajar tentang tools apa saja yang dibutuhkan demi menunjang pembelajaran di kelas secara online.

Dalam keterangannya, Google memilliki lebih dari 50 fitur baru untuk Meet, Classroom, G Suite dan berbagai produk lain yang mendukung pembelajaran.

3 dari 3 halaman

Dukungan Lebih bagi Pengguna Classroom

Dengan bertambahnya jumlah pengajar di seluruh dunia yang memakai Classroom, Google berupaya menjadikan penggunaan Classrom lebih mudah dan efisien dipakai dengan kehadiran fitur baru.

Pertama dengan menghadirkan Widget daftar tugas baru di halmaan Kelas, sehingga membantu siswa melihat tugas yang akan datang, yang terlewatkan dan telah dinilai.

Kemudian kedua, pelajar dapat membagikan link atau tautan kepada siswa agar mereka bisa bergabung ke kelas dengan lebih mudah.

Ketiga, Classroom akan segera tersedia dalam 10 bahasa tambahan baru, termasuk Indonesia. Sehingga total akan ada 54 bahasa.

Tak hanya itu, pengajar juga akan memberikan pengajar memeriksa keaslian tugas untuk mendeteksi kemungkinan plagiarisme dari sumber internet atau dari hasil pekerjaan siswa lain. Pengajar diberi kesempatan memeriksa keaslian lima kali per kelas.

Google juga memberi admin lebih banyak tools efektif untuk mengelola G Suite dan Classroom. Misalnya, pimpinan sekolah yang memiliki lisensi Enterprise akan memiliki visibilitas lebih besar mengenai penggunaan Classroom melalui dasbor Data Studio baru.

Di sini, admin bisa melihat kelas yang sedang aktif, mengukur penggunaan fitur, atau memantau tingkat terlibatan pengajar dan siswa.

Untuk mendukung pengajar dan admin, Google mempermudah sinkronisasi nilai Classroom dengan sistem informasi siswa yang dipakai sekolah.