Sukses

Jelang Pilpres Prancis Kebanjiran Hoax

Liputan6.com, Jakarta - Berita yang tak terbukti kebenarannya alias hoax sungguh meresahkan karena bisa menimbulkan persepsi yang salah. Rupanya, kecemasan akan maraknya hoax tak cuma di terjadi di Indonesia maupun Amerika Serikat, tetapi juga Prancis.

Sekadar mengingatkan, di negara sebesar Amerika Serikat, hoax memuncak jelang pemilihan presiden beberapa waktu lalu. Bahkan, dipercaya bahwa hoax telah mempengaruhi hasil pemilu di negeri adi daya tersebut.

Terbaru, Prancis dikabarkan menghadapi masalah yang sama terkait dengan hoax. Dalam berita yang dilaporkan Reuters, di Prancis disebut-sebut ada banyak akun media sosial yang membanjiri negara Menara Eiffel itu dengan hoax jelang pemilihan presiden.

Seperti Tekno Liputan6.com kutip dari Ubergizmo, Minggu (23/4/2017), hal ini didasari oleh hasil studi yang dilakukan peneliti Universitas Oxford. Dalam hasil studi disebutkan, banyak tautan berbau politik yang dibagikan melalui platform media sosial seperti Twitter dan Facebook, rupanya setelah diteliti informasi yang dimaksud tak terbukti kebenarannya alias hoax.

Meski begitu, para peneliti mengakui bahwa jumlah hoax yang beredar tidak semasif yang terjadi menjelang pilpres Prancis.

Sementara itu, studi yang didasari berbagai tautan yang dibagikan di Twitter, Kevin Limonier dari University of Paris VIII menunjukkan bahwa Facebook menjadi platform yang paling banyak dipakai untuk menyebarkan hoax.

Kabarnya, platform besutan Mark Zuckerberg ini telah memblokir lebih dari 30.000 akun yang diduga menyebarkan tautan-tautan hoax. Apalagi setelah Facebook mengumumkan bahwa perusahaan berupaya memberantas hoax di platform mereka.

Facebook telah melakukan banyak taktik untuk meredam peredaran hoax, misalnya saja dengan memberikan keterangan informasi hoax, menghapuskan iklan untuk penerbit yang menciptakan berita palsu, dan lain-lain. Meski begitu, masih saja hoax merajalela di platform yang dipakai lebih dari satu miliar pengguna itu.

(Tin/Ysl)