Sukses

Dua per Tiga Bisnis Besar di Inggris Jadi Target Serangan Hacker

Liputan6.com, Jakarta - Penjahat siber (hacker topi hitam) tidak pandang bulu dalam menyerang targetnya. Bisa pemerintah, bisa juga pelaku bisnis.

Menurut penelitian pemerintah Inggris, sebagaimana dikutip dari BBC, Rabu (11/5/2016), dua per tiga dari bisnis besar di Inggris telah terkena serangan siber (cyber attack) pada tahun lalu.

Sebagian besar serangan tersebut, kata Cyber ​​Security Breaches Survey, melibatkan virus, spyware atau malware.

Terungkap bahwa seperempat dari perusahaan-perusahaan besar mengalami pelanggaran siber (cyber breach) setidaknya sebulan sekali.

Menteri Ekonomi Digital Ed Vaizey mengatakan, "Bisnis yang benar-benar penting adalah aman dan dapat melindungi data."

Dalam beberapa kasus serangan hacker terkait internet memakan biaya jutaan poundsterling. Hasil survei ini telah dirilis bersama dengan pemerintah Cyber ​​Governance Health Check, yang diluncurkan setelah serangan siber TalkTalk pada Oktober 2015.

Penyedia jaringan telepon dan pita lebar, yang memiliki lebih dari empat juta pelanggan di Inggris, memaparkan beberapa rincian perbankan dan informasi pribadi pelanggan mereka bisa diakses sehubungan dengan pelanggaran tersebut.

Mengingat hasil survei ini, bisnis-bisnis tersebut sekarang sedang didesak untuk melindungi diri mereka secara lebih baik.

(Why/Isk)

Artikel Selanjutnya
Konflik Suriah dan Ramalan Nostradamus dari Balkan soal Perang Dunia III
Artikel Selanjutnya
Sanksi AS Buat Rusia Bikin Harga Emas Makin Kinclong