Sukses

Pengertian

Latah merupakan gangguan perilaku berupa kebiasaan mengulangi kata-kata orang lain secara otomatis dan involunter. Berdasarkan ilmu kejiwaan, terdapat beberapa jenis latah, yaitu:

  • Echolalia, yaitu latah berupa mengulangi frase atau kalimat yang diucapkan oleh orang lain. Jika penderita echolalia diberi pertanyaan, sering kali ia bukannya menjawab pertanyaan tersebut, melainkan mengulangi pertanyaannya.
  • Palilalia, yaitu latah berupa mengulangi suku kata yang diucapkan oleh lawan bicaranya. Biasanya suku kata yang diulang merupakan suku kata terakhir yang diucapkan lawan bicaranya.
  • Koprolalia, yaitu latah berupa mengucapkan kata-kata yang kotor atau kasar.

Jenis latah yang akan dibahas pada artikel ini adalah latah berupa echolalia. Kelainan ini bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. Bila terjadinya pada anak-anak, harus dipikirkan bahwa ada gangguan perkembangan mental yang terjadi. Misalnya autisme, karena latah pada anak sering merupakan gejala dari gangguan perkembangan.

Penyebab

Penyebab latah pada anak dan dewasa sangat berbeda. Pada anak di bawah usia 3 tahun yang masih belajar bicara, latah bisa merupakan hal yang normal, bagian dari prosesnya untuk belajar bicara.

Latah pada anak yang lebih besar umumnya disebabkan oleh gangguan perkembangan, seperti autisme atau sindrom Rett. Sementara itu, latah yang terjadi pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh adanya tekanan mental atau gangguan cemas. Selain itu, cedera kepala atau adanya gangguan saraf di otak juga dapat menyebabkan kelainan ini.

Diagnosis

Adanya latah atau echolalia dapat dipastikan oleh dokter dengan cara mengamati percakapan antara penderita latah dengan orang lain. Jika dalam percakapan tersebut, penderita terlihat kesulitan untuk mengungkapkan isi pikirnya sendiri dan cenderung mengulangi perkataan lawan bicaranya, maka diagnosis latah dapat dipastikan. Melalui observasi percakapan tersebut, dokter juga dapat menentukan derajat keparahan latah yang dialami.

Bila latah terjadi pada anak-anak, khususnya yang berusia 3 tahun ke atas, observasi perilaku dan percakapan perlu dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan (psikiater). Hal ini penting untuk memastikan apakah anak hanya mengalami latah, atau mengalami gangguan perkembangan mental seperti spektrum autisme.

Gejala

Gejala utama dari latah adalah kebiasaan mengulangi frase yang baru saja didengar oleh penderitanya. Kebanyakan penderita latah mengulangi frase atau kata-kata yang baru saja didengarnya, tapi tak jarang pula ada penderita latah yang mengulangi frase yang didengarnya beberapa jam sebelumnya.

Selain itu, penderita latah juga bisa mengalami frustasi atau depresi saat menjalani percakapan. Tak jarang, agar gejala latahnya tak muncul, penderita latah hanya memilih untuk diam saja.

Pengobatan

Pengobatan latah mencakup kombinasi dari terapi wicara dan obat-obatan.

Penderita latah dianjurkan untuk menjalani terapi wicara secara rutin untuk belajar mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya dan mengurangi otomatisasi mengulang pembicaraan orang lain. Pada pengobatan ini, umumnya terapis akan mengajarkan penderita untuk menahan diri sejenak sebelum berbicara, merangkai isi pikiran, lalu mengeluarkannya dalam bentuk kata-kata yang merupakan inisiatifnya sendiri dan tidak mengulang perkataan orang lain.

Selain itu, untuk mengurangi frustasi atau depresi akibat latah yang dialami, dokter juga kadang meresepkan obat antidepresan untuk menenangkan penderita. Hal ini juga penting karena latah umumnya lebih mudah muncul saat penderita mengalami stres atau depresi.

Dukungan dari keluarga juga dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif dan menciptakan suasana percakapan yang tenang untuk penderita latah.

Pencegahan

Hingga saat ini belum ada hal yang dapat dilakukan untuk mencegah latah.