Sukses

Jadi Gatotkaca, Rizky Nazar Dilatih Cecep Arif Rahman dan Yayan Ruhian

Liputan6.com, Jakarta Dalam konferensi pers virtual film Satria Dewa Gatotkaca yang digelar Kamis (13/8/2020), Hanung Bramantyo resmi mengumumkan daftar pemain film Satria Dewa Gatotkaca. Rizky Nazar menjadi pemeran utama.

Ia melakonkan Yudha. Rizky Nazar bangga jadi pemeran utama Satria Dewa Gatotkaca. Mendalami peran ini bukan perkara mudah. Rizky memaparkan persiapan khsusus yang dijalani selama beberapa bulan, sebelum syuting dimulai.

Rizky Nazar menyebut dua aspek yang mesti disiapkan, fisik dan mental. “Keduanya harus dijaga beriringan. Untuk fisik, saya menjalani sesi latihan selama dua-tiga bulan bareng Kang Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman,” Rizky Nazar membeberkan.

2 dari 5 halaman

Bela Diri

“Mereka mengajari saya bela diri. Selain itu saya diminta menjaga gestur, ini penting. Di depan kamera, gestur saya harus tampak biasa berolahraga,” sambung bintang film I Love You From 38.000 Feet.

Dengan gestur natural, Rizky Nazar percaya nantinya bisa meyakinkan penonton bahwa dialah harapan utama dalam konflik yang disajikan film Satria Dewa Gatotkaca.

3 dari 5 halaman

Poros Cerita Astina

Hanung Bramantyo menambahkan, poros cerita Satria Dewa Gatotkaca di kota Astina. Ini mengadopsi negara Hastinapura dalam epos besar Mahabharata. Sejumlah kota diriset untuk dijadikan visual Astina.

Di antaranya Malang, Yogyakarta, dan Semarang. Sineas peraih 2 Piala Citra ini sempat mempertimbangkan Solo dan Magelang. Namun wabah Covid-19 mengubah sejumlah agenda syuting.

4 dari 5 halaman

Melirik Semarang

“Sempat melirik Semarang dan minta izin kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Sejak awal saya jatuh cinta dengan arsitektur Kota Tua Semarang,” terang Hanung Bramantyo, mendampingi Rizky Nazar dan pemain lain.

Seminggu kemudian Semarang menjadi zona merah Covid-19. Pada 17 Juli 2020, ia bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyarakarta, (Ngarso Dalem) Sri Sultan Hamengkubuwono X. Sang Gubernur menyalakan lampu hijau untuk syuting. 

5 dari 5 halaman

Ke Gunung dan Hutan

“Yang jelas kami tidak bisa syuting di tengah kota melibatkan 250 ekstras dan 200-an kru. Wabah disikapi dengan merampingkan kru dan pemain, lalu memindah lokasi ke gunung dan hutan,” terang Hanung Bramantyo.

“Kalau pun syuting permukiman penduduk, kami pilih perkampungan dengan menutup jalan agar yang terlibat syuting hanya yang berkepentingan serta lolos tes Covid-19. Ini demi kesehatan kru dan pemain. Sejumlah adegan di tengah kota terpaksa dipangkas,” pungkasnya.