Sukses

Alangkah Lucunya (negeri ini), Refleksi Realita Sosial

Liputan6.com, Jakarta: Film "Alangkah Lucunya (negeri ini)" membicarakan potret kehidupan masyarakat sehari-hari. Deddy Mizwar, sutradara film tersebut, menyebutnya sebagai refleksi realita sosial. Menurut Deddy, film ini merupakan cermin untuk bisa menertawakan diri sendiri, tanpa perlu menuduh orang. "Dengan begitu orang bisa lebih bijak," kata Deddy dalam perbincangannya dengan SCTV, Sabtu (17/4).

Dijelaskan Deddy, film yang memotret kehidupan para pencopet sebenarnya dibuat untuk menggambarkan rasa pesimistis yang dialami masyarakat dengan kejadian-kejadian saat ini. Karena itu, Deddy sengaja membuat film yang bisa menumbuhkan rasa optimistis. "Orang boleh benci kepada pemimpinnya atau kelompok. Tapi, kita tetap harus cinta kepada Tanah Air," ujarnya.

Film "Alangkah Lucunya (negeri ini)" selain didukung pemain kawakan, seperti Slamet Rahardjo, Jaja Mihardja, dan Tio Pakusadewo, juga diramaikan anak-anak dari sebuah yayasan. Beberapa di antara mereka adalah anak-anak mantan pencopet.

Tio Pakusadewo menyebutkan bahwa bermain dalam film ini merupakan pengalaman yang luar biasa, terlebih berjumpa dengan aktor kawakan dan brilian, seperti Deddy. "Saya banyak belajar," kata Tio.

Hal serupa juga diutarakan Tika Bravani. Perempuan ini mengaku sangat bahagia dapat main film bersama Deddy, dan Tio. Terlebih ini adalah debut pertamanya terjun di layar lebar.

Film "Alangkah Lucunya (negeri ini)" sempat mendapat pujian dari Menteri Sosial Salim Segaf al Jufri. Menurut Mensos, film ini sangat bagus karena mengangkat permasalahan di negeri ini seperti anak-anak telantar, penyandang cacat, dan kekerasan [baca: "Alangkah Lucunya (negeri ini)"].(IAN)