Sukses

Novelis Saman Tak Antikemapanan

Liputan6.com, Jakarta: Novel Saman yang ditulis Ayu Utami yang diluncurkan pada 1998 lampau, sempat menghebohkan dunia sastra Indonesia. Novel berlatar belakang zaman Orde Baru itu dianggap sangat terbuka. Mendobrak nilai-nilai tabu. "Ada yang bilang novel tersebut memakai kata-kata kotor," tutur lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu dalam diskusi yang diadakan Klub Buku dan Film SCTV, di Studio SCTV, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Ayu semua itu dilandasi pemikiran untuk menguji sejumlah prinsip tertentu. "Jika ada rasa-rasa yang tidak adil harus segera dibicarakan," ujarnya.

Ayu menilai, bangsa Indonesia dalam aktivitasnya ingin tampak bermoral di mana hal tersebut malah terjerumus dalam kesalahan. "Saya ingin membebaskan hal-hal yang moralistis yang berlebihan," ucap novelis kelahiran Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968 silam itu.

Ia mencontohkan mengenai penerjemahan kata orgasme yang dilakukan Purwodarminto dalam Kamus Bahasa Inggris-Bahasa Indonesia. Di kamus itu, orgasme diartikan "marah". Ayu juga mencontohkan, kata "pelacur" yang dihaluskan menjadi Wanita Tuna Susila (WTS). "Padahal ini sangat kasar, dan seolah-olah orang yang mengucapkan telah berbuat sopan," tambah Ayu.

Sekadar informasi, Saman merupakan masterpiece novel Ayu. Meski dinilai berbagai pihak sangat kasar, namun novel yang bercerita mengenai perjuangan seorang pemuda bernama Wisanggeni yang mengabdikan dirinya sebagai seorang pastor ini berhasil meraih penghargaan Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, Belanda. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang dari dunia ketiga yang berprestasi dalam bidang kebudayaan dan pembangunan. Penghargaan lain diraih Ayu dalam novelnya Saman yakni Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998.(AND)