Sukses

Asrul Sani Wafat

TOKOH sastra, teater, dan film Asrul Sani meninggal dunia pada Ahad (11/1), pukul 22.15 WIB, dalam usia 76 tahun. Dia mengembuskan napas terakhir di rumahnya, Kompleks Warga Indah, Jalan At-tahiriyah Nomor 4 E, Pejaten, Jakarta Selatan, karena sakit. Suami dari aktris Mutiara Sarumpaet atau Mutiara Sani ini dimakamkan secara militer di Taman Makam Menteng Pulo, Jaksel. Mutiara mengatakan bahwa Asrul Sani memang minta dikebumikan di sana. Sebagai salah satu tokoh pejuang Angkatan `45, Asrul sebenarnya berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tapi, Asrul justru memilih di TPU. "Setahun silam ia [Asrul] pernah bercanda. Masak sampai detik terakhir, kita masih mau diatur negara," kata Mutiara, mengutip ucapan sang suami. Kepergian Asrul Sani sangat membekas di hati Mutiara. Banyak kenangan manis saat mereka bersama. Bahkan, pada detik terakhir pun, Asrul berada di pelukan Mutiara Sani. "Tiba-tiba jam sembilan [21.00 WIB] dia [Asrul] makan obat. Saya kasih obat, saya ganti popoknya. Tau-tau dia mau cekukan, saya angkat kepala saya rangkul dan dia dekatkan bibirnya ke pipi saya, lalu ia pergi," kata Mutiara, tersedu. Almarhum meninggalkan tiga anak dan enam cucu. Dari penyair Siti Nuraini, istri pertamanya, dokter hewan ini juga mendapat tiga anak. Di mata para sahabat, Asrul memang orang yang sangat bersahaja. Padahal, nama lelaki kelahiran Rao, Sumatra Barat itu, sangat harum karena pernah melahirkan karya-karya besar di dunia perfilman. Sebut saja, film "Monumen", "Kejarlah Daku Kau Kutangkap", "Naga Bonar", "Omong Besar", dan "Titian Serambut Dibelah Tujuh". Asrul juga pernah menyabet enam Piala Citra. Karyanya seperti "Apa yang Kaucari, Palupi?" juga terpilih sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Asia pada 1970. Deddy Mizwar yang pernah melakoni tujuh buah film karya Asrul mengaku sangat kehilangan. Pemeran Naga Bonar itu menilai, Asrul adalah budayawan yang mempunyai pola pikir sangat matang. "Pola pikirnya juga sangat jauh," kata Deddy. Buktinya, naskah Naga Bonar sudah dibuat Asrul, 15 tahun sebelum difilmkan. "Ada ruang yang jelas dalam bentuk dan ekspresinya," lanjut lelaki berkacamata minus itu. Penyair Putu Wijaya juga mengacungkan jempol untuk Asrul. "Sebagai orang film, dia [Asrul] meletakkan batu yang sangat besar di antara batu lain," ujar Putu. Kepiawaian Asrul yang lahir pada 10 Juni 1927 itu pun telah melahirkan sineas-sineas andal, antara lain Slamet Rahardjo dan Deddy Mizwar. "Tidak ada guru seperti beliau," kata Putu. Kini, sosok tegap Asrul dengan janggut putih lebat nan wibawa itu sudah pergi. Tapi, karya-karya Asrul tak akan mati dimakan zaman. Selamat jalan!