Sukses

BI Rate Tekan Sektor Saham Keuangan dan Konstruksi

Sektor saham keuangan dan konstruksi berpotensi terus tertekan hingga akhir tahun 2013, hal itu seiring kenaikan suku bunga acuan/BI Rate.

Pada perdagangan saham Rabu (13/11/2013), sektor saham konstruksi memimpin pelemahan indeks saham dengan turun 3,12%. Disusul sektor saham infrastruktur turun 2,76%, sektor saham industri dasar melemah 2,63%, dan sektor saham keuangan melemah 2,21%.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun turun 1,95% ke level 4.295,10 pada sesi pertama perdagangan saham. Investor asing melakukan aksi jual senilai Rp 506,85 miliar. Sepuluh sektor saham menekan pergerakan indeks saham hari ini.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto melihat, kenaikan suku bunga acuan/BI Rate menjadi 7,5% memberikan tekanan ke sektor saham keuangan dan konstruksi.

"Kenaikan suku bunga acuan membuat potensi pertumbuhan kredit melambat. Sementara itu, emiten konstruksi memiliki debt to equity ratio (DER) yang besar juga," kata David, saat dihubungi Liputan6.com, Rabu pekan ini.

Hal senada dikatakan, Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada. Menurut Reza, kenaikan suku bunga acuan berimbas terhadap sektor saham keuangan dan konstruksi.

Reza memproyeksikan, sektor saham keuangan khususnya perbankan masih tertekan hingga akhir tahun 2013. Kenaikan suku bunga acuan berdampak negatif bagi sektor perbankan. "Kalau pun ada kenaikan tapi tipis, lebih besar peluang di zona merahnya," tutur Reza.

David juga memperkirakan, sektor saham keuangan termasuk perbankan masih tertekan hingga akhir tahun 2013.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 12 November 2013, indeks sektor saham keuangan naik 1,07% year to date. Sektor saham infrastruktur naik 6,11% year to date. (Ahm)