Sukses

BNI Bidik Sektor Turunan Komoditas

Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (BBNI) menangkap peluang pengembangan bisnis ke area sektor downstream  atau sektor turunan komoditas. Permintaan pada sektor - sektor turunan kini mulai meningkat seiring pemulihan setelah pandemi Covid - 19. 

Corporate Secretary BNI Mucharom menuturkan, potensi pertumbuhan kredit tahun ini tergolong cukup tinggi. Banyak sektor yang kembali membukukan peningkatan kinerja cukup baik sehingga mendorong kinerja, khususnya dari sektor turunan komoditas. 

Hal ini pun sejalan dengan arahan dari pemerintah agar komoditas andalan Tanah Air dapat dijual ke luar negeri dengan nilai tambah lebih tinggi. 

"Sektor downstream komoditi ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Kami melihat banyak pembangunan smelter akan sangat marak dan besar," ujar dia dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (8/5/2022).

Ia menuturkan, pemerintah mulai banyak melarang barang yang belum jadi sehingga semua proses pengolahan terjadi di dalam negeri. Perseroan berharap ini menjadi mesin pertumbuhan segmen korporasi swasta.

Mucharom menuturkan, pertumbuhan kredit BNI 2022 masih sesuai target awal tahun. Beberapa nasabah top tier sudah mulai menunjukkan perbaikan kinerja seperti infrastruktur, listrik dan gas, pergudangan dan digital. Hal ini juga sejalan dengan penurunan  restrukturisasi kredit sehingga membantu BNI untuk dapat melakukan ekspansi lebih berkualitas. 

"Kami akan tetap dengan target awal kami di high single digit. Kami lihat potensi pertumbuhan tinggi sejak awal tahun ini, sehingga kami cukup percaya diri," ujar dia.

Kredit di segmen business banking masih menjadi motor akselerasi bisnis kredit BNI. Pertumbuhan ini terutama pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 9,9 persen yoy menjadi Rp193,2 triliun; segmen large commercial yang tumbuh 24,5 persen yoy menjadi Rp46,1 triliun.

Selanjutnya segmen UMKM juga tumbuh 11,8 persen yoy dengan nilai kredit Rp98 triliun. Secara keseluruhan kredit di sektor business banking ini tumbuh 4,8 persen yoy menjadi Rp 489,3 triliun.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

BNI Incar Pertumbuhan Kredit 10 Persen pada 2022

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit naik hingga 10 persen di tahun ini. Sepanjang kuartal I 2022, kualitas kredit terus membaik sehingga menambah kemampuan BNI dalam mengakselerasi percetakan pendapatan di awal tahun.

"BNI akan terus meningkatkan kinerja kredit dengan rentang pertumbuhan 7 persen hingga 10 persen pada tahun ini,” ungkap Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dalam paparan publik BNI, Selasa, 26 April 2022.

Pada kuartal pertama tahun ini, laba BNI mencapai Rp 3,96 triliun, tumbuh 63,2 persen yoy. Pencapaian laba bersih ini dihasilkan dari Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) yang tumbuh kuat 7,3 persen yoy menjadi Rp 8,5 triliun.

Pencapaian pendapatan operasional ini bahkan adalah tertinggi yang pernah dihasilkan BNI, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi. Selain itu, upaya perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan dan kebijakan yang efektif membuat biaya pencadangan kredit juga turun tajam sebesar 26,1 persen yoy.

"Total kredit yang disalurkan sepanjang kuartal pertama 2022 tumbuh 5,8 persen yoy menjadi Rp 591,68 triliun. Posisi ini sudah lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi yakni di kuartal I 2020,” beber Royke.

Indikator kinerja positif lainnya terkait dengan kualitas aset, likuiditas, dan efisiensi juga semakin baik sehingga turut mendorong tercapainya pendapatan operasional yang lebih tinggi.

“Kami bersyukur BNI mampu mempertahankan kinerja yang solid pada awal tahun ini. Kinerja ini merupakan salah satu tanda dari pemulihan sekaligus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun ini,” ujar dia.

3 dari 5 halaman

Kinerja Kuartal I 2022

Sebelumnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI kembali mempertahankan kinerja solid pada awal 2022. Hal itu seiring tren pertumbuhan ekonomi yang menguat.

Pada kuartal I 2022, BNI mencatatkan laba Rp 3,96 triliun atau tumbuh 63,2 persen secara tahunan (yoy). Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar mengatakan, pencapaian laba bersih hasilkan dari pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) yang tumbuh kuat 7,3 persen yoy menjadi Rp 8,5 triliun.

"Pencapaian pendapatan operasional ini bahkan menjadi yang tertinggi yang pernah dihasilkan BNI. Lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi,” kata dia dalam paparan publik perseroan, Selasa, 26 April 2022.

Selain itu, upaya perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan, dan kebijakan yang efektif membuat biaya pencadangan kredit juga turun tajam sebesar 26,1 persen yoy. Jumlah kredit yang disalurkan sepanjang kuartal 1 2022 bahkan lebih tinggi dari kondisi sebelum pandemi.

Indikator kinerja lainnya yang terkait dengan kualitas aset, likuiditas dan efisiensi juga semakin baik. Sehingga turut mendorong tercapainya pendapatan operasional yang lebih tinggi.

“Kami bersyukur BNI mampu mempertahankan kinerja pada awal tahun ini. Kinerja ini merupakan salah satu tanda dari pemulihan sekaligus pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun ini. Ke depan BNI akan terus meningkatkan kinerja kredit dengan pertumbuhan di kisaran 7 sampai 10 persen di tahun ini,” ujar Royke.

4 dari 5 halaman

Rincian Kinerja Kuartal I 2022

Pertumbuhan kinerja organik yang telah menghasilkan PPOP yang tertinggi di dalam kerja BNI ini dihasilkan dari fokus pada segmen berisiko sebesar 5,8 persen yoy menjadi sebesar Rp 591,68 triliun.

Net Interest Margin (NIM) yang relatif stabil di level 4,5 persen, ditopang dengan tingginya mencapai and fee Based income atau tumbuh 25,6 persen yoy sebesar Rp 4,03 triliun pada kuartal pertama 2022 .

“Kredit di segmen bisnis banking masih menjadi motor akselerasi bisnis kredit BNI. Pertumbuhan ini terutama pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 9,9 persen yoy menjadi Rp 193,2 triliun,” beber Royke.

Segmen komersial yang tumbuh 24,5 persen yoy menjadi Rp 46,1 triliun. Segmen UMKM juga tumbuh 11,8 persen yoy dengan nilai kredit Rp 98 triliun. Secara keseluruhan kredit di sektor bisnis banking tumbuh 4,8 persen yoy menjadi Rp 489,3 triliun

Pertumbuhan kredit di seluruh segmen ini sejalan dengan kondisi ekonomi nasional yang sudah mulai pulih. Sektor yang dibidik di sektor bisnis banking adalah sektor perdagangan, instruktur, industri pengolahan, bahkan pembiayaan segmen hijau terus menunjukkan kebutuhan pembiayaan besar sekaligus berkualitas

“Hal ini juga bisa menjadi motor pendorong kredit sindikasi dan penopang kredit korporasi perseroan,” imbuhnya.

 

5 dari 5 halaman

Restrukturisasi Kredit Membaik

Dari sisi konsumer, kredit payroll dan kredit KPR membukukan penguatan kinerja positif pada awal tahun ini dengan pertumbuhan payroll 18,8 persen yoy, dan KPR 8,4 persen yoy. Secara keseluruhan kredit konsumer tumbuh 11,4 persen yoy.

Hal itu karena merek consumer banking BNI yang terbentuk dengan baik. Sehingga mampu memberi daya saing yang sangat kuat dalam berkompetisi dengan peers untuk melayani kebutuhan pembiayaan konsumen masyarakat Perbaikan risiko kredit juga memberi dukungan peningkatan kinerja yang sangat baik pada awal 2022.

Loan at risk BNI pada kuartal I 2022 tercatat 22,1 persen atau membaik 4,8 persen yoy. Demikian juga dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang terus bergerak membaik 60 bps yoy ke posisi 3,5 persen dari periode tahun lalu 4,1 persen.

Restrukturisasi kredit akibat pandemi terus menunjukkan perbaikan positif. Pada awal 2022, kredit restrukturisasi covid-19 tercatat Rp 69,6 triliun. Turun dari posisi perioda yang sama tahun lalu sebesar Rp 84,3 triliun.

"Bahkan debitur terdampak pandemi mulai melakukan pembayaran. Sehingga kami optimis trend perbaikan kualitas kredit akan terus berjalan di semua segmen,” pungkasnya.