Sukses

Wall Street Merosot Jelang Hasil Pertemuan The Fed

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada perdagangan Selasa, 25 Januari 2022. Indeks Dow Jones ditutup merosot pada perdagangan bak rollercoaster seiring bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) mempersiapkan investor untuk kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 67,77 poin atau 0,2 persen ke posisi 34.297,73.  Indeks S&P 500 tergelincir 1,2 persen menjadi 4.356,45. Indeks Nasdaq susut 2,3 persen menjadi 13.539,30.

Gerak pasar pada perdagangan wall street Selasa, 25 Januari 2022 terjadi setelah indeks Dow Jones menguat dari kerugian lebih dari 1.000 poin. Indeks Nasdaq membalikkan penurunan 4,9 persen dari hari sebelumnya menjadi positif.Indeks S&P 500 juga reli.

“Suasana perdagangan bak roller coaster berlanjut,” ujar Adam Crisafulli dari Vital Knowledge dilansir dari CNBC, Rabu (26/1/2022).

Saham-saham bank dan energi, sektor-sektor yang mendapatkan keuntungan dari pemulihan ekonomi dan imbal hasil yang lebih tinggi memimpin pemulihan pada Selasa pekan ini. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun melanjutkan kenaikan menjadi 1,78 persen.

Saham Bank of America dan Citigroup masing-masing naik sekitar dua persen. Saham Occidental Petroleum dan APA Corp naik lebih dari delapan persen.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Gerak Saham di Wall Street

Saham American Express mencatat top gainer di indeks Dow Jones dan S&P 500 setelah mengalahkan prediksi laba. Saham American Express bertambah 8,9 persen. Saham IBM dan Johnson&Johnson juga termasuk di antara top gainers setelah melaporkan hasil kuartalan.

Saham teknologi berjuang di tengah kenaikan suku bunga. Saham Nvidia turun 24 persen pada 2022. Pada Selasa pekan ini, saham Nvidia susut 4,5 persen. Saham Microsoft melemah 2,7 persen jelang laporan pendapatan.

Saham General Electric termasuk di antara penurunan terbesar di S&P 500 dengan kerugian 6 persen setelah perusahaan melampaui harapan pendapatan kuartalan tetapi meleset dari perkiraan pendapatan. Sementara itu, indeks S&P 500 susut lebih dari 8 persen pada Januari pekan ini dengan laju bulanan terburuk sejak Maret 2020 pada awal pandemi COVID-19.

“Saya rasa itu belum selesai. Ini adalah proses,” ujar Head of Investment Strategy SoFi Liz Young.

3 dari 3 halaman

Menanti Kebijakan The Fed

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik pada 2022 karena the Fed mengisyaratkan akan mulai mengetatkan kebijakan moneter segera setelah kenaikan suku bunga pada Maret 2021.

Investor rotasi saham dari area dengan pertumbuhan tinggi demi taruhan lebih aman. Indeks Nasdaq turun lebih dari 16 persen dari rekor intraday.

“Risiko penurunan dari pengetatan moneter lebih tinggi vs sejarah. Rasa sakitnya sejauh ini tapi terlokalisasi pada saham dengan valuasi tinggi, tetapi tanda-tanda risiko lebih luas sedang muncul,” ujar Maneesh Deshpande dari Barclays.

Investor sedang menunggu kebijakan terbaru setelah pertemuan kebijakan dua hari the Fed yang berakhir Rabu pekan ini. Pelaku pasar ingin mengetahui kapan bank sentral akan menaikkan suku bunga dan seberapa banyak.

The Fed akan memberi sinyal kenaikan suku bunga setelah Maret dan lebih banyak pengetatan kebijakan untuk mengatasi inflasi lebih tinggi.

Ketegangan geopolitik di perbatasan Rusia-Ukraina terus membayangi pasar. Presiden AS Joe Biden berbicara dengan pemimpin Eropa pada awal pekan ini di tengah kekhawatiran kemungkinan invasi ke Ukraina.