Sukses

Wall Street Melambung di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kembali menguat secara dramatis pada perdagangan Senin, 24 Januari 2022. Hal ini menyusul investor masuk untuk membeli saham teknologi yang terpukul setelah aksi jual tajam pada pekan lalu.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 99,13 poin atau 0,3 persen menajdi 34.364,50, naik pada hari pertama dalam tujuh hari. Indeks S&P 500 menguat 0,3 persen menjadi 4.410,13. Indeks Nasdaq bertambah 0,6 persen menjadi 13.855,13. Indeks saham kapitalisasi kecil Russell 2000 juga menguat.

Indeks Nasdaq berbalik menguat setelah turun 4,9 persen pada awal sesi perdagangan. Indeks Dow Jones naik setelah sempat turun 1.115 poin. Demikian juga indeks S&P 500 yang sempat melemah pada awal sesi perdagangan dengan turun lebih daro 10 persen.

Pada perdagangan Senin menandai salah satu kembalinya pasar terbaik dalam waktu lama. Sesi ini adalah pertama kalinya setelah krisis keuangan 2008, indeks Nasdaq telah turun lebih dari 4 persen pada sesi tersebut dan ditutup naik. Indeks Dow Jones merosot 3,25 persen, dan catat penguatan intraday terbesar sejak gejolak perdagangan pada Maret 2020.

Analis JPMorgan Marko Kolanovic menuturkan, aksi jual di pasar saham terlalu berlebihan.”Kemunduran baru-baru ini pada aset berisiko tampak berlebihan, dan kombinasi indikator teknis mendekati wilayah jenuh jual dan sentimen berubah menjadi bearish menunjukkan bisa berada pada tahap akhir koreksi ini,” ujar dia dilansir dari CNBC, Selasa (25/1/2022).

Ia menambahkan, sementara pasar berjuang untuk mencerna rotasi yang dipaksakan oleh kenaikan suku bunga. "Kami berharap musim pendapatan akan meyakinkan, dan dalam skenario terburuk dapat melihat kembalinya “Fed put”,” kata dia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Investor Menanti Hasil Pertemuan The Fed

Pada awal pekan, investor melepas saham teknologi di tengah kekhawatiran the Federal Reserve akan secara agresif memperketat kebijakan. Namun, saham tersebut menguat seiring berjalannya perdagangan sepanjang hari dengan perusahaan induk Facebook Meta, Amazon dan Microsoft menguat.

Di sisi lain, meski menguat pada awal pekan ini, indeks S&P 500 susut 7,5 persen pada bulan ini dengan laju kinerja bulanan terburuk sejak Maret 2020.

Tekanan pada awal 2022 berpusat di sekitar indeks Nasdaq dan saham teknologi dengan investor keluar dari saham yang valuasinya terlihat kurang menarik karena suku  bunga naik.

Aksi jual mungkin telah mencapai titik kapitulasi dengan indeks volatilitas CBOE (VIX) yang dikenal di wall street sebagai “pengukur ketakutan” pasar mencapai level tertinggi sejak November 2020, melampaui level 38 secara intraday.

Begitu indeks pengukur rasa takut mencapai titik ekstrem tersebut, pasar memiliki kecenderungan untuk mundur, meski hanya sementara.

Investor mengamati pertemuan kebijakan the Federal Reserve (the Fed) yang dimulai pada Selasa dan berakhir Rabu pekan ini. Pelaku pasar akan mencari sinyal tentang berapa banyak bank sentral akan menaikkan suku bunga pada 2022, dan kapan itu akan dimulai.

“Ketakutan terbesar adalah bagaimana the Fed bereaksi dan menjaga tindakan penyeimbangan ini,” ujar Head of Active Equity Allspring Global Investment, Ann Miletti.

Ia menuturkan, akan ada banyak turbulensi saat melewati beberapa bulan ke depan.

3 dari 3 halaman

Investor Pantau Ketegangan Geopolitik

The Federal Open Market Committee (FOMC) atau the Federal Open Market Committee menetapkan suku bunga dan berharap tidak akan melakukan tindakan pada pertemuan Januari, tetapi akan melakukan kenaikan eprtama dari beberapa kenaikan suku bunga mulai Maret. Selain itu, the Fed akan menyelesaikan program pembelian aset bulanannya pada bulan yang sama.

Goldman Sachs melihat risiko meningkat kalau the Federal Reserve dapat memberlakukan lebih dari empat kenaikan suku bunga pada 2022. Perseroan juga mengatakan the Fed mungkin akhiri pembelian aset USD 9 triliun yang dipegang pada Juli.

Sementara itu, investor juga memantau ketegangan geopolitik saat Rusia membangun militernya di perbatasan Ukraina. Presiden AS Joe Biden akan berdiskusi dengan pemimpin Eropa pada Senin pekan ini di tengah kekhawatiran invasi Rusia ke Ukraina.