Sukses

Mau Pasar Modal Tumbuh Pesat, Ini Resep dari Bos BEI

Liputan6.com, Jakarta - Geliat pasar modal Indonesia terus menunjukkan peningkatan selama 37 tahun ini. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Ito Warsito memberikan resep agar pasar modal Indonesia dapat bertumbuh dengan pesat.

"Stabilitas keamanan sosial dan politik serta pertumbuhan ekonomi yang sustain. Itu adalah rumus supaya pasar modal tumbuh dengan baik," kata Ito kepada Liputan6.com, Jakarta, seperti ditulis Senin (18/8/2014).

Diperingatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ini, dia berharap agar Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan sehingga negara ini lebih maju dan sejahtera.

"Resepnya memang cuma itu, pertumbuhan ekonomi dan jaminan keamanan. Jika pasar modal kita tumbuh pesat, maka kita siap bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Masyarakat Indonesia, sambung Ito, harus memandang MEA sebagai sebuah peluang bukan ketakutan. Cara pandang yang positif, katanya, akan dapat membangkitkan rasa optimisme sehingga pasar di pasar modal Tanah Air akan semakin besar.

"Jadi tergantung bagaimana orang melihatnya. Kalau kita menganggapnya positif, maka bisa jadi peluang. Pasar yang besar memudahkan pelaku pasar di sini memasarkan produk-produk investasi di negara ASEAN dari yang sebelumnya cuma di Indonesia saja. Nggak perlu takut, kita justru harus mempersiapkan diri untuk pasar modal ASEAN," tegas dia.

Ito menilai, emiten atau perusahaan terbuka di Indonesia sudah sangat siap menghadapi MEA. Namun pihaknya maupun otoritas pasar modal masih memiliki kendala di persoalan waktu dan tenaga.

"Kendalanya waktu dan tenaga, karena untuk melakukan harmonisasi dibutuhkan waktu dan tenaga. Itu bukan cuma di Indonesia, tapi juga negara ASEAN lainnya terkait aturan, infrastruktur juga kesiapan pelaku pasarnya misalnya sumber daya manusia, seperti untuk pialang, anggota bursa, dan manajer investasi harus bisa bersaing di ASEAN," pungkas Ito.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida, mengklaim bahwa kinerja pasar modal di Tanah Air menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan.

"Indikator utamanya, pertama bisa dilihat dari laju IHSG. Dibandingkan negara lain, terutama kawasan regional, pertumbuhan IHSG dari 2 Januari-13 Agustus ini berada diurutan ketiga sebesar 19,43 persen," ujarnya.

Peringkat IHSG tersebut masih kalah dari kinerja bursa saham dari Thailand dan India yang masing-masing bertumbuh 25,49 persen dan 24,02 persen di periode yang sama. Sementara kinerja IHSG tercatat lebih baik ketimbang Malaysia dan Singapura dengan pertumbuhan 0,27 persen dan 3,99 persen.

Indikator lain penunjang pasar modal, tambah Nurhaida, terlihat dari kapitalisasi pasar Indonesia yang juga bertengger di peringkat ketiga dengan pertumbuhan 24,80 persen senilai US$ 410,38 miliar pada 11 Agustus 2014. Angka ini meningkat dari periode 2 Januari ini senilai US$ 328,84 miliar. (Fik/Ndw)