Sukses

Terpapar Covid-19, Dokter di Solo Ciptakan Lagu dalam Ruang ICU

Liputan6.com, Solo - Seorang dokter spesialis kulit di Solo berhasil menciptakan lirik lagu religi saat terinfeksi Covid-19. Kondisinya saat itu telah memburuk dan dirawat di ruang ICU RSUD Dr Moewardi Solo. Beruntung nyawanya bisa tertolong berkat donor plasma konvalesen.

Dokter spesialis kulit bernama Khoirul Hadi bercerita lagu tersebut berhasil diciptakannya setelah berhasil melewati masa kritis terpapar Covid-19. Saat itu, ia beranggapan tidak akan selamat melawan virus corona karena kondisinya memang sudah kritis dan memburuk.

"Waktu itu saya sudah pasrah apalagi ketika melihat sebelah saya meninggal. Saya benar-benar menangis sejadi-jadinya. Di tengah menangis itu hidung saya mengeluarkan darah cukup banyak," kata dia.

Dengan kondisi seperti itu, ia pun merasa jika hidupnya tak akan lama lagi. Darah terus mengalir dari hidungnya. Khoirul sudah berusaha sekuat tenaga mencoba menghentikan aliran darah itu, tetapi tetap gagal.

Bahkan, pemilik klinik Be Hati itu sempat berpikiran jika pendarahan itu berasal dari paru-paru maka hidupnya tinggal menunggu waktu. Namun, Tuhan punya kehendak lain, ternyata pada esok harinya keajaiban terjadi, darahnya telah mengering alias berhenti.

"Alhamdulillah saya masih hidup. Setelah itu saya mencoba menulis kisah perjuangan yang hampir mati itu dalam sebuah catatan di handphone. Saya menulis lirik itu saat masih di ICU. Catatan itulah yang menjadi lirik dari Kembang Duka," jelasnya.

Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama 15 hari dan hasil swab PCR negatif Covid-19, Khoirul diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Di rumah, ia tetap harus menjalani isolasi mandiri.

"Saat saya harus isolasi mandiri di rumah malah saya kian tertarik menulis lirik lagu untuk mengisi waktunya itu. Total sudah 12 lagu yang saya ciptakan selama di rumah sakit hingga isolasi mandiri di rumah," sebut dia.

Lagu yang diciptakannya merupakan lagu religi. Ia pun berharap lagu-lagu yang dikumpulkan menjadi album religi berjudul Assahlan itu bisa menemani aktivitas masyarakat pada bulan Ramadan mendatang. Adapun judul lagu-lagu di album itu di antaranya Puasa, Zakat, Tahajud, Sahur, Subuh, Kembang Duka, dan lainnya.

"Dalam kurun waktu 2,5 bulan, saya berhasil mengumpulkan 12 lagu. Untuk membawakan lagu itu, saya membentuk grup Assahlan. Saya sendiri yang menyeleksi pemain drum, pemain gitar, penyanyi dan lainnya. Assahlan berarti yang dimudahkan," terangnya.

2 dari 2 halaman

Simak video pilihan berikut ini: