Sukses

Tinggal di Bekas Gudang Es Angker, Keluarga Miskin di Solo Luput Bantuan Pemerintah

Solo - Keluarga miskin beranggotakan lima orang yang tinggal bekas gudang angker di Kelurahan, Jajar, Laweyan, Solo, pernah ditawari indekos oleh warga sekitar namun menolak.

Hal itu diungkapkan salah seorang warga berinisial A yang ditemui Solopos.com tak jauh dari lokasi, Jumat (19/6/2020). A menyebut beberapa warga sempat menawarkan indekos namun keluarga itu menolak.

Dia tak tahu apa alasan keluarga pasangan Agus Supriyanto, 35, dan Noviyanti, 56, itu menolak tawaran tersebut. Ia mengonfirmasi informasi bahwa Agus bekerja di salah satu warung angkringan di Fajar Indah.

Sedangkan si perempuan di keluarga miskin yang tinggal di bekas gudang di Jajar, Solo, itu menurut A dulu sempat hidup di jalanan sebagai pengamen.

"Setahu saya perempatan Fajar Indah ke utara [warung angkringan tempat Agus bekerja], tetapi tepatnya mana saya kurang tahu," ujar A.

Sementara itu, Lurah Jajar, Jati Waluyo, mengaku kurang mengetahui informasi sempat ada yang menawarkan indekos untuk ditinggali Agus bersama Noviyanti dan tiga anak mereka. Menurutnya, Agus dan Novi lebih memilih kebebasan.

Bahkan, Jati mengaku memperoleh informasi Noviyanti sempat hidup di jalanan. Jati menyebut keluarga miskin yang tinggal di gudang itu bukan merupakan warga Jajar, Laweyan, Solo.

"Agus Supriyanto dan Noviyanti bukan warga Jajar. Mas Agus itu warga Kerten sedangkan perempuan itu warga Batam, begitu informasinya," papar dia kepada Solopos.com, Jumat.

Ia menambahkan secara data kependudukan Agus masuk kartu keluarga atau KK orang tuanya yang merupakan warga Kerten. Namun, orang tua Agus saat ini mengontrak rumah di wilayah Jajar.

Karena itu pula, Agus tidak mendapat bantuan sosial tunai sebagai jaring pengaman ekonomi keluarga miskin terdampak Covid-19 di wilayah Jajar, Solo. Sedangkan orang tua Agus berhak memperoleh bantuan itu.

"Kalau satu KK kan tidak bisa dobel, saya dapat fotokopi KK Agus. Kalau si perempuan mengakunya dari Semarang tetapi saya tanya KK-nya ikut orang tuanya di Batam. Jadi agak sulit. Ide saya KK di Batam itu difoto untuk kroscek agar bisa mengurus kependudukan dia di sini," papar dia.

Jati berencana segera berkoordinasi dengan instansi lain untuk mengurus kependudukan keluarga Agus. Hal itu anak-anaknya bisa memiliki data kependudukan untuk keperluan pendidikan.

"Nanti saya minta mereka diprioritaskan karena situasi dan ekonominya," ujar dia seraya menambahkan akan berkoordinasi dengan Lurah Kerten untuk memecah KK Agus agar (keluarga miskin) dapat diberi BST.

Dapatkan berita menarik Solopos.com lainnya, di sini:

2 dari 2 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini: