Sukses

Sejumlah Penderitaan Inung Rio Jelang Detik-Detik Kematiannya

Liputan6.com, Pekanbaru - Kematian Harimau Sumatra bernama Inung Rio terbilang sangat mengejutkan. Apalagi si Datuk Belang itu menghembuskan nafas terakhir pada pertengahan April 2019, di mana Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau tidak pernah menyampaikannya ke publik.

Kepala BBKSDA Riau Suharyono beberapa kali dikonfirmasi tidak pernah memberi jawaban. Pertanyaan sejumlah wartawan terkait kematian Inung Rio di WhatsApp Group Konservasi juga tak ditanggapi meski sudah dibacanya.

Kejelasan kematian Inung Rio baru didapat setelah Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno angkat bicara. Diapun menjelaskan secara lengkap kronologi kematian Inung Rio pada Kamis pagi, 4 Juli 2019.

Inung Rio dievakuasi ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatra Dharmasraya, Sumatra Barat, setelah terjerat kawat baja di kawasan restorasi ekosistem Desa Sangar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, akhir Maret 2109. Ada sekitar 22 jam kakinya terlilit kawat hingga masuk ke daging.

Usai dievakuasi, BBKSDA Riau menyatakan kaki kanan depan Inung Rio bisa diamputasi. Namun tim medis di pusat rehabilitasi memutuskan mengobatinya hingga terpantau membaik. Inung mulai makan sembari memberi peringatan kepada manusia yang mendekati kandangnya.

"Selama masa karantina, harimau jantan berumur 3 tahun berbobot 95 kilogram ini sempat demam 40 derajat celcius. Masa karantina saat itu diperkirakan berjalan 14 hari," jelas Wiratno.

Wiratno menjelaskan, pada 12 April kondisi Inung Rio terbilang baik dan tidak memperlihatkan sakit serius. Sifat keliarannya masih ada dan melahap daging babi yang diberikan petugas kepadanya.

Pada 14 April 2019, aktivitas Inung Rio terlihat tim medis mulai menurun. Gerakannya hanya sebatas mendekat dan menjauhi lampu treatment infra red.

2 dari 3 halaman

Belang Rontok

Hasil pengamatan tim medis, terlihat adanya kerontokan rambut, air liur berlebih (hypersalivasi), mata berair (hiperlakrimasi), dan hilangnya nafsu makan.

"Terjadi peningkatan frekuensi nafas mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB," ucap Wiratno.

Selanjutnya pada 15 April 2019 sekitar pukul 02.00 WIB, terdapat lendir dalam rongga hidung dan terlihat adanya refleks batuk dengan rata-rata frekuensi nafas 48 kali per menit.

"Lalu pukul 08.00 WIB terlihat adanya lendir kental. Inung Rio terbaring lemah dengan frekuensi nafas 62 kali per menit," terang Wiratno.

Kondisi ini belanjut hingga pukul 10.00 WIB. Berdasarkan observasi, terjadi peningkatan frekuensi nafas menjadi 70 kali per menit disertai hipersalivasi dan refleks batuk yang meningkat.

"Pukul 16.42 WIB Inung Rio mengalami kejang-kejang dengan durasi sekitar 2 menit," sebut Wiratno.

Setelah itu, tim langsung melakukan prosedur tindak darurat pacu jantung (PCR). Pada pukul 16.53 WIB Inung Rio dinyatakan meninggal setelah percobaan tindak darurat CPR dilakukan dan gagal.

"Dengan ragam gejala di atas, Inung Rio diduga mengalami gangguan pernafasan yang disebabkan infeksi sistemik," sebut Wiratno.

3 dari 3 halaman

Komplikasi Penyakit

Wiratno menambahkan, pada 16 April 2019 pukul 14.00 WIB hingga pukul 18.30 WIB, tim melakukan pemeriksaan kematian, atau nekropsi/autopsi terhadap bangkai Inung Rio, sebelum akhirnya dikubur.

Hasil diagnosa sementara, Inung Rio mengalami gangguan sistem pernafasan (pneumonia) dengan suspect infeksi jamur dan bakteri Clostridium tetani, kegagalan sirkulasi darah, gangguan fungsi saraf ringan dan distemper.

Pada saat proses nekropsi ini, lanjut Wiratno, juga dilakukan pengambilan sampel organ. Pada 18 April, sampel ini dikirim ke laboratorium Balai Veteriner Bukittinggi dan PSSP IPB Bogor.

Menurut Wiratno, pemeriksaan patologi baru selesai pada 29 Mei 2019. Adapun hasilnya, terjadi perubahan pada organ utama terutama paru-paru. Hal ini berkontribusi besar terhadap kematian dan infeksi yang terjadi secara menyeluruh (sistemik).

"Namun belum dapat ditentukan agen patogennya (bakteri atau virus)," kata Wiratno.

Di samping itu, nung Rio mengalami ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga terjadi hypopolemic shock. Kemudian, ada juga infeksi fungal (jamur) sebagai infeksi sekunder yang berkontribusi besar terhadap kasus pneumonia pada Inung Rio.

"Hal ini juga dipicu oleh kondisi stres sejak harimau malang ini terjerat serta mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh," jelas Wiratno.

Wiratno menyatakan, kondisi ini diperburuk oleh terjadinya gastroenteritis parah akibat infestasi parasit Trycostrongilus sp.

"Sehingga disimpulkan penyebab utama kematian adalah pneumonia oleh infeksi yang sistemik," ujar Wiratno.

Loading