Sukses

Keindahan Pagi yang Tersembunyi di Leuwi Tonjong Garut

Liputan6.com, Garut - Setelah menyabet penghargaan sebagai ‘Surga Tersembunyi’ terbaik kedua nasional oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI beberapa waktu lalu. Objek wisata Leuwi Tonjong, yang berada di Kecamatan Cihurip, Garut, Jawa Barat terus berbenah.

Kawasan wisata Leuwi Tonjong memang masih asing di telinga masyarakat Garut sekalipun. Berada di bawah kaki gunung Gong, kebaradaan wisata alam yang baru ini masih menyimpan segudang pemandangan alam yang elok untuk dinikmati.

Airnya yang jernih dalam kubangan kolam yang hampir menyerupai danau mini, serta himpitan dua bongkahan batu besar alam di atasnya, seolah hampir mirip dengan area grand Canyon, namun tentu ini dalam versi mini.

“Memang sebagian pengunjung saat pertama kali pasti bilangnya seperti grand Canyon,” ujar Juhadin, (54) warga sekitar sekaligus pengelola kawasan itu saat ditemui Liputan6.com bersama rombongan Pemda Garut yang tengah melakukan peninjauan lapangan, Selasa (4/12/2018) petang.

Panorama Leuwi Tonjong memang tengah menjadi buah bibir saat ini, terlebih setelah penghargaan itu. Memiliki air terjun dangkal setinggi tiga meter yang berada di tengah himpitan dua batu besar, view yang ditawarkan sangat cocok bagi anda penyuka pemadanganan alami yang masih asri. “Belum diapa-apain sejak awal masih asri begini,” ujar dia menambahkan.

Airnya yang jernih hingga terlihat sampai dasar sungai (kecuali jika deras air sungai naik akibat hujan) menjadikanya betah untuk berenang, sekalipun seharian di sana. Terlihat hamparan lumut yang menempel di bebatuan di sekitarnya masih tertempel dengan rapi, udanya yang sejuk seakan menegaskan keindahan surga yang tersembunyi itu, sebagai tujuan destinasi baru wisata anda.

"Pengunjung yang datang masih didominasi dari Jabodetabek," kata dia.

Saat ini, kunjungan tertinggi masih berkutat di akhir pekan, sementara hari lainnya terbilang rendah. "Kalau libur panjang bisa di atas 1.000 orang, tapi sehari-hari paling puluhan," ujarnya.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman yang memimpin langsung kunjungan pertama ke kawasan destinasi wisata baru itu, mengaku takjub atas anugerah kekayaan alam yang dimiliki wilayahnya, terlebih terbentuknya wisata itu, terjadi secara alami.

"Apalagi nanti jika bantu dengan perbaikan infrastruktur, tentu bakal ramai sekali," ujar Helmi.

Namun apa daya, minimnya infrastruktur menuju ke sana, menjadikan kawasan itu masih minim dikunjungi. Untuk mendukung rencana itu, rencannya mulai tahun depan lembaganya siap mengucurkan anggaran untuk sejumlah perbaikan infrastruktur.

"Paling utama tentu jalan dari parkir ke tempat wisata, lokasi parkir, dan fasilitas di kawasan wisatanya," ujarnya.

 

2 dari 3 halaman

Tambahan Destinasi Wisata Religi

Selain bisa menikmati pemandangan alam yang cukup indah, para pengunjung yang datang pun bisa menikmati sensasi lain. Bagi anda yang menyenangi wisata religi terutama yang berkenaan dengan hal jiarah dan napak tilas. Kawasan Leuwi Tonjong menyimpan sebuah sejarah masa lalu sebagai kearifan lokal masyarakat sekitar.

Jalal, (26), salah satu warga Cihurip mengatakan, berdasarkan cerita yang ia peroleh secara turun menurun dari orang tua. Kawasan wisata yang memilik sumber air dari Gunung Gong, dan Kawasan hulu perkebunan teh Megawati tersebut, memiliki beberapa bekas petilasan atau tempat bersemedi untuk meraih kesaktian orang tempo dulu. "Ada makam yang kadang muncul kadang menghilang," ujarnya.

Sebut saja petilasan Prabu Rangkasbitung, Prabu Fajar Raya hingga Sunaya. Ketiga dikenal memiliki keilmuan yang cukup tinggi, hingga akhirnya menghilang menembus bumi di sekitar kawasan wisata itu. “Kalau tahunnya (ditemukanya) sendiri saya tidak tahu, cuma cerita orang tua saya memang ada makam tiga prabu tadi,” ujarnya.

Bahkan konon di bawah derasnya arus sungai Leuwi Tonjong yang mengalir, terdapat jalan khusus yang bersambung hingga tembus ke Jurug Bali Naga, di daerah Mekarwangi, pada kecamatan yang sama.

"Tapi itu katanya hanya orang tertentu yang bisa melewatinya," ujar dia tanpa menjelaskan lebih rinci.

Bukan hanya itu, ketiga sosok itu selama hidupnya dikenal memiliki sikap yang rendah hati, dan selalu mengajarkan sopan santun bagi masyarakat sekitar, sehingga siapa pun yang mengunjungi wisata Leuwi Tonjong dimohon tetap tetap menjaga sikapnya dan tidak sombong.

"Kalau dulu ada larangan setiap Jumat jangan ke sini, tapi sekarang sudah tidak digunakan lagi," kata dia.

Juhadin, salah satu pengelola wisata Leuwi Tonjong menambahkan, untuk melestarikan kawasan sekitar dari tangan jahil, ia berharap kerjasama dan bantuan dari seluruh pengunjung yang datang, tetap memperhatikan etika yang baik selama kunjungan berlangsung. “Makanya kalau hanya merusak dan membuat kotor kawasan ini, saya langsung ingatkan atau bahkan tidak dianjurkan,” ujarnya.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman menambahkan, adanya cerita itu bisa menambah kekayaan informasi wisata, terlebih cerita yang diturunkan mengandung ajakan postif pada sikap manusia. "Bagus itu, tentu dibutuhkan juga nanti ahli sejarah yang mendukung," kata dia.

Menurutnya, paska diraihya penghargaan itu, lembaganya langsung berbenah. Kawasan itu ujar dia, memiliki potensi besar wisata alam Garut yang perlu dikembangkan ke depan. “Memang kita akui salah satu kendalanya lagi-lagi ke soal infrastruktur,” kata dia.

Namun meskipun demikian, lembaganya tetap berusaha untuk memberikan perhatian, terlebih setelah datangnya pengakuan resmi dari pemerintah pusat tersebut. “Nanti kita juga kolaburasi dengan pemerinah provinsi dan pusat,” papar dia.

3 dari 3 halaman

Minim Fasilitas Penunjang

Meskipun sudah mendapatkan pengakuan bergengsi dari Kementerian Pariwisata, namun hingga kini kelengkapan sejumlah fasilitas penunjang belum menunjukan perbaikan berarti. Sebut saja mulai fasilitas tempat parkir kendaraan pengunjung, tangga rute pengunjung, joging track hingga fasilitas wisata di sekitar kawasan wisata.

“Coba lihat saja saat pertama kali datang ke sini, pasti bakal mengeluhkan jalan dan ketiadaaan tangga penyangga pengunjung,” ujar Juhadin.

Memang benar adanya, saat Liputan6.com menyusuri kawasan wisata baru itu. Hampir seluruh akses jalan menuju kawasan Leuwi Tonjong rusak dalam kondisi masih berbalur tanah. Anda mesti melintasi kawasan hutan yang masih asri tanpa banyak perubahan dan campur tangan manusia.

Bahkan saat anda memasuki 100 meter terakhir menuju kawasan Leuwi, hanya deretan tangga seadanya tanpa penyangga yang akan dilalui pengunjung, sehingga dibutuhkan konsentrasi dan kewaspadaan saat anda di sana. “Pokonya pas deh kalau untuk menguji fisik dan menguras keringat,” ujar Hilman Firmansyah, salah seorang pengunjung menambahkan.

Menurutnya, kawasan wisata alam Leuwi Tonjong memiliki potensi besar untuk menjadi pusat wisata alam baru di Garut bahkan nasional. Debit dan arus air jernih yang terbilang besar sepanjang tahun, bisa menjadi keunggulan tersendiri dibanding wisata alam lainnya di Garut. “Sepintas seperti grand Canyon tapi versi Garut lah,”kata dia.

Dua bongkahan besar batu alam yang terbentuk secara alami, menjadi pemandangan berarti bagi pengunjung yang datang. Bahkan airnya yang jernih bisa dijadikan area mandi ria di alam terbuka. “Kecuali musim hujan, jika sehari-hari airnya pasti bening,” ungkapnya.

Namun sama dengan keluhan yang disampaikan Juhadin, Hilman menilai pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan, area parkir yang luas serta penyediaan jogging track bagi pengunjung, harus segera menjadi fokus pemda Garut. “Kalau tidak sayang potensi besar ini bakal terbuang sia-sia,” ujarnya.

Dengan upaya itu, pengunjung dengan sendirinya akan semakin bertambah dan bakal memberikan dampak positif untuk kemajuan potensi wisata Garut ke depan.

Multiple effectnya banyak sekali yang bisa langsung dirasakan pengunjung dan masyarakat sekitar,” ujarnya.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Kampanye Makanan Rendah Kalori Lewat Kue Ulang Tahun Anak
Artikel Selanjutnya
Sedapnya Nyaneut, Minum Teh Bersama di Garut