Sukses

Mengunjungi Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata di Lembang Bandung

Liputan6.com, Bandung - Jika melintas di Jalan Raya Lembang ke arah Kota Bandung sebelum melewati lokasi wisata Farmhouse, Anda pasti akan melihat sebuah gerbang berwarna putih tepat di sisi jalan. Di pinggir jalan itu terdapat sebuah kompleks pemakaman.

Jangan dulu berpikiran ini adalah tempat yang mengerikan. Karena tempat ini sebenarnya adalah kawasan untuk mengenang jasa pahlawan. Selain pemakaman, di lokasi ini juga terdapat monumen.

Ya, ini adalah kompleks monumen perjuangan Bandung Utara bernama Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata. Tepatnya di Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kompleks pemakaman ini dikelilingi tembok berpagar, lengkap dengan sebuah pintu gerbang yang selalu dikunci. Tak jauh dari pintu gerbang terdapat sebuah pos penjagaan.

Pada bagian gerbang itu hanya tertulis MPN Oto Iskanda Dinata. Tentu saja sesuai dengan keterangan di pintu gerbang, monumen ini merujuk pada seorang pahlawan nasional Oto Iskandar Dinata. Monumen ini memang dibangun untuk mengenang jasa-jasa beliau.

Ketika Liputan6.com mendatangi kompleks bersejarah ini, Sabtu (10/11/2018), suasana asri begitu sangat terasa meneduhkan. Dengan dikelilingi pohon-pohon cemara dan pinus, membuat suasana terasa semakin damai.

Monumen Oto Iskandar Dinata sendiri berada tepat di sisi sebelah timur kompleks pemakaman. Bentuknya berupa tiga buah tembok plakat dan sebuah tiang bendera.

Tidak jauh dari monumen, ada sembilan nisan makam. Termasuk makam Mayjen. H. Sentot Iskandar Dinata, putra Oto Iskandar Dinata.

Sedangkan bagian nisan makam lainnya terdapat nama Letnan Hamid. Ia merupakan sosok yang pernah memimpin pertempuran front BKR melawan pasukan Inggris/Gurkha di sekitar Villa Isola bersama Sersan Bajuri dan Sersan Surip yang turut di makamkan di Pasir Pahlawan.

Pria bernama Raden Oto Iskandar Dinata lahir di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 31 Maret 1897. Oto meninggal di Mauk, Kabupaten Tangerang pada 20 Desember 1945, ketika umur 48 tahun.

Sebagai salah satu pahlawan nasional, di beberapa kota di Jawa Barat khususnya, nama Oto Iskandar Dinata biasa dijadikan nama untuk ruas jalan. Biasanya lebih disingkat dengan Otista.

Selain jalan, sebuah stadion sepak bola yang kini kerap dipakai sesi latihan Persib Bandung, yang berlokasi di Soreang juga dinamai Stadion Si Jalak Harupat. Bahkan gambar sosok Oto Iskandar Dinata juga tercetak apik ada sebuah uang kertas pecahan Rp 20.000.

2 dari 3 halaman

Si Jalak Harupat dari Bojongsoang

Ayah Oto adalah keturunan bangsawan Sunda bernama Nataatmadja, yang setelah pulang dari ibadah haji berganti nama menjadi R.H. Adam Rakhmat, ibunya bernama Siti Hadijah. Oto adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara.

Sudah menjadi cerita yang banyak diketahui orang jika tokoh nasionalis ini juga menggemari sepak bola. Kesenangannya pada sepak bola sudah terasah sejak kecil.

Dalam segi pendidikan, Oto sempat mengenyam bangku sekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Bandung dan melanjutkan pendidikan di Kweek-school Onder-bouw (Sekolah Guru Bagian Pertama) yang merupakan sekolah berasrama di Bandung.

Dari sinilah terlihat sifat dan kepintaran yg menonjol dari Oto. Suka berontak, tetapi selalu menunjukkan prestasinya.

Setelah lulus, Oto melanjutkan di Hogere Kweekschool (Sekolah Guru Atas) di Purworejo, Jawa Tengah. Semakin matang pula pribadi Oto, dengan memiliki rasa keingintahuan tentang bacaan koran De Expres yang isinya kebanyakan tentang kecaman kecaman terhadap Belanda, muncul lah sikap berontak Oto untuk memperjuangkan hak bangsanya sendiri.

Setelah lulus dari sekolah guru, Oto mendedikasikan diri sebagai guru, yang menjadi cita-cita Oto sejak kecil.

Ia juga pernah masuk dalam daftar hitam dan membuat khawatir pemerintah Hindia Belanda, salah satunya dikarenakan nyali Oto dalam membongkar kasus bendungan kemuning yang bisa menyelamatkan rakyat Indonesia dari penipuan yang di lakukan pengusaha Belanda.

Tak bisa di pungkiri, Oto lah orang yang pertama mempopulerkan kata Indonesia Merdeka dan kemudian disingkat menjadi Merdeka karena kegigihan Oto dalam memperjuangkan hak rakyatnya.

Suami dari Soekirah, putri Asisten Wedana di Banjarnegara yang 10 tahun lebih muda darinya dan dikaruniai 12 orang anak. Keahliannya dalam orasi dan menulis adalah sosok yang tepat untuk menggambarkan Oto.

Dalam Kongres Paguyuban Pasundan yang berlangsung di Bandung pada bulan Desember 1929, Oto terpilih menjadi ketua pengurus besar Paguyuban Pasundan. Sebagai wakil dari Paguyuban Pasundan, Oto Iskandar Dinata terpilih menjadi anggota Volksraad, selain aktif juga dalam Permupakatan Perhimpunan Politik Kemerdekaan Indonesia (PPPKI) serta Gabungan Politik Indonesia (GAPI).

Dalam sidang-sidang Volksraad, Oto terkenal dengan ucapan-ucapannya yang tajam dan berani. Tidak jarang ia terlibat dalam suatu perdebatan dengan Belanda.

Namun, kematiannya masih misterius hingga saat ini. Tanggal 20 Desember 1945 adalah hari ditetapkan sebagai hari wafatnya Oto akibat dari korban "Laskar Hitam" di Pantai Mauk, Tangerang, dan tidak pernah ditemukan jenazahnya.

Untuk mengenang jasanya, segumpal tanah pasir pantai Mauk dibawa sebagai simbol jasad Si Jalak Harupat ke makam Pasir Pahlawan di Lembang. Pasir itu kini menyatu dengan tanah di komplek pemakaman tepatnya di sebuah lingkaran yang berada di depan monumen.

Oto Iskandar Dinata ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 088/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Julukan Si Jalak Harupat pun disematkan padanya lantaran punya spirit bak ayam jago. Ayam itu konon merupakan ayam yang kuat, pemberani, ketika berkokok bersuara yang merdu, selalu menang saat diadu.

3 dari 3 halaman

Sepi Pengunjung

Kompleks Monumen Pasir Pahlawan Oto Iskandar Dinata diresmikan pada 10 Nocember 1981 oleh Mayor Jenderal TNI Aang Kunaefi Kartawiria yang saat itu sebagai gubernur Jawa Barat antara tahun 1975-1985.

Di tengah semilir angin dan hawa sejuk udara Lembang, kompleks makam ini terasa sangat sepi. Padahal hari ini adalah Hari Pahlawan.

Hariyadi (59), penjaga kompleks Monumen Pasir Pahlawan mengungkapkan, Oto sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Namun menurutnya tidak banyak masyarakat yang berkunjung ke monumen para pahlawan ini.

"Saya juga tidak tahu kenapa sepi. Mungkin karena tidak tahu. Padahal gratis masuk ke monumen," kata Hariyadi.

Dalam sebulan, kata dia, hanya sedikit warga atau wisatawan yang berkunjung. Di antara mereka ada beberapa di antaranya yang berstatus pelajar.

"Paling juga anak sekolahan yang dapat tugas dari gurunya. Kalau yang wisata sejarah begitu jarang," ucap pengurus monumen sejak 2000 ini.

Padahal, Hariyadi mengatakan, sebagai seorang pahlawan, jasa Oto sudah banyak diberikan untuk bangsa ini.

"Untuk ziarah dari keluarga biasanya dilakukan setiap tanggal 20 Desember. Kadang ada juga cucu beliau yang datang kemari sebulan sekali," ungkapnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Jokowi Blusukan ke Pasar Suci Bandung, Beli Bayam hingga Ayam
Artikel Selanjutnya
Jokowi Sebut Bandung Paling Siap Jadi Creative Hub