Sukses

Top 3: Aliran Sesat di Maros Terkuak Berkat Gelang Tangan

Liputan6.com, Maros - Ajaran yang diduga menyimpang atau sesat meresahkan warga Kampung Sambueja, Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Terlebih, ajaran itu menyebutkan perkawinan antara jin dan manusia dapat menghindarkan dari kemiskinan.

Selain itu, berita mengenai seorang dokter di Medan rela dibayar sesuka hati, turut menyita perhatian banyak pembaca di Liputan6.com, terutama kanal Regional hingga Minggu (6/3/2016) pagi.

Berikut berita-berita terpopuler yang terangkum dalam Top 3 Regional.

1. Aliran Sesat di Maros Terungkap Berkat Gelang Tangan

Ajaran itu mengajarkan manusia untuk kawin dengan jin agar terhindari dari kemiskinan.

Sebanyak 10 warga yang diduga hendak menyebarkan ajaran menyimpang diamankan di Kampung Sambueja, Desa Sambueja, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, Sulsel, pada Jumat, 4 Maret 2016, sekitar pukul 21.00 Wita.

Ajaran itu menyebutkan perkawinan antara jin dan manusia dapat menghindarkan dari kemiskinan.

Kepala Bagian Operasional Polres Maros, Kompol Ahmad Mariyadi mengatakan ke-10 warga tersebut bukanlah warga asli Desa Sambueja, tapi pendatang yang awalnya mengaku hendak berekreasi ke Taman Wisata Bantimurung.   

Selengkapnya baca di sini...

2. Bocah 4 Tahun di Yogyakarta Jadi Korban Pencabulan

Ilustrasi korban pelecehan seksual pada anak. Sumber: Istimewa

Bocah 4 tahun menjadi korban dugaan pencabulan di sekolah taman kanak-kanak (TK) kawasan Kaliurang, Yogyakarta. Pencabulan ini diduga dilakukan suami kepala sekolah TK tersebut pada Januari lalu.

Kapolres Sleman AKBP Yulianto mengatakan, dugaan pencabulan ini terungkap pada Januari lalu, saat orangtua korban melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Pihaknya juga telah mengembangkan kasus ini.

"Ini laporannya Januari, sudah kita kembangkan juga, sudah diperiksa saksi-saksi," kata Yulianto di Yogyakarta, Sabtu 5 Maret 2016.

Selengkapnya baca di sini...

3. Layani Ratusan Pasien, Dokter di Medan Rela Dibayar Sesuka Hati

Tidak berjalan mulus, saat hendak berangkat ke Australia. Aznan sempat mendapat pencekalan dari pemerintah.

Di tengah era modernisasi seperti saat ini, sangat jarang ditemukan orang-orang yang rela membantu orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Apalagi menyangkut profesi yang disandang.

Namun, hal itu tak berlaku bagi Aznan Lelo. Dokter farmakologi yang membuka praktik di rumahnya di Jalan Puri, Kelurahan Kota Matsum, Medan, Sumatera Utara ini selalu didatangi ratusan pasien setiap harinya.

Tidak seperti dokter umumnya yang memasang papan nama di depan rumahnya, Buya Aznan Lelo, sapaan akrabnya, justru tidak melakukan itu. Kendati, pasien tetap percaya dan kembali berdatangan.

"Saya juga heran kenapa mereka banyak yang datang, padahal tidak ada papan nama. Bagi saya semua pasien tetap harus dilayani," kata Aznan saat ditemui Liputan6.com, Medan, Sumatera utara, Sabtu 5 Maret 2016.

Selengkapnya baca di sini...

Loading